HumanioraUncategorized

Peresean ; Antara Ritual dan Hiburan

Teks & Foto : Fathul Rakhman

Sakit itu rasanya hanya sepintas, saat penjalin (tongkat dari rotan) tepat mengenai pinggang kiri saya. Rasanya dua kali rotan seukuran tiga jari itu mendarat mulus di pinggang lunak saya. Setelah itu, hanya suara buk,bak,buk, bak mengenai perise (perisai dari kulit sapi). Tangan kiri saya yang memegang perise itu repleks melindungi bagian empuk di pinggang saya itu.

Tangan kanan saya tepat mengenai pinggang lawan. Itu terasa ketika ujung penjalin mendapat di bagian empuk di pinggangnya itu. Berulang kali saya mencoba memukulkan penjalin ke arah tubuh yang lain, tapi rasa-rasanya berat. Nafas saling buru dengan rasa amarah. Berusaha menjatuhkan lawan. Mencoba memukul kepala, yang sayangnya selalu menjadi prioritas utama dilindungi. Akhirnya, jadilah pertandingan tiga ronde itu tidak menarik bagi penonton. Tidak ada menang, tidak ada kalah. Saya, dan lawan saya beradu peresean itu sama-sama mendapat dua garis merah di pinggang. Waktu itu, saya baru masuk kelas 1 MTs, saat kali pertama mencoba menjajal peresean dengan lebih serius.

“ Ah biasa saja, tidak sakit,’’ jawab saya saat pekembar menanyakan luka di pinggang saya saat itu. Ada rasa gengsi mengakui jika luka bekas penjalin itu sakit. Padahal ketika mandi dan memakai baju, rasanya menusuk-nusuk. Tiga hari baru agak mendingan rasa sakit itu.

Lelaki Sasak, yang tinggal di kampung, setidaknya pernah merasakan tegangnya peresean, sebuah olahraga tradisional Lombok yang mengadu ketangkasan memukul dan menahan pukulan lawan. Bagi anak-anak di kampung, peresean itu ibarat permainan perang-perangan menggunakan pistol mainan. Risiko luka sudah biasa. Bagi orang dewasa, peresean itu menjadi ajang pembuktian keberanian, ketangkapan di arena peresean.

menatap musuh

Saat saya masih usia anak-anak hingga remaja, peresean kami lakukan saat musim panen. Di sawah sehabis panen, di kuburan saat main layang-layang kadang diselingi dengan peresean. Biasanya orang yang lebih dewasa menjadi wasit (pekembar), memilih siapa melawan siapa, sekaligus memisahkan kami saat suasana menjadi panas. Ada aturan tidak terulis, dalam peresean tidak boleh dendam, dan bukan sebuah perkelahian.

Saat saya kecil, pemukul biasanya menggunakan pelepah pisang kering, kadang juga pelepah pisang basah. Cukup sakit jika telak mengenai badan. Sementara penggunaan rotan, dilakukan pada kegiatan peresean yang “profesional”, kejuaraan resmi, dan orang-orang dewasa.

Aturan peresean pada anak-anak dan dewasa sama saja. Tidak boleh memukul anggota badan di bawah pinggang. Selebihnya boleh. Selain itu saat perise lawan terjatuh, maka tidak boleh memukul. Memalukan memukul lawan yang tidak memegang perisainya. Begitu juga memukul lawan yang jatuh, atau memukul dari belakang dinilai sebagai perbuatan tidak jantan.

Pada orang dewasa, peresean itu biasanya dilombakan resmi. Kalau anak-anak hanya sekadar permainan di kampung, saat peresean orang dewasa biasanya digelar antar kampung, antar desa, kecamatan, bahkan sekarang dilombakan antar kabupaten.

Bagi jago peresean dewasa, biasanya disebut pepadu (jagoan). Para pepadu ini biasanya menggunakan nama-nama garang atau nama-nama jagoan dalam cerita silat. Misalnya, ketika saya kecil, tahun 1990 an terkenal nam Arya Kamandanu, Damarwulan. Nama-nama itu merujuk pada jagoan cerita silat.

Tidak sembarangan nama-nama itu dipakai. Biasanya para pepadu ini adalah jawara di kampungnya. Mereka tidak sekadar memiliki nyali dalam peresean. Tapi juga mampu memainkan peresean seperti pertarungan di film-film laga. Mereka mengatur strategi, tidak asal gebuk. Dan ini yang selalu membuat decak kagum : para pepadu ini sepertinya tidak punya rasa sakit. Belasan luka di punggung, pinggang, perut sepertinya tidak mereka hiraukan. Ada juga pepadu yang tidak tergores sedikit pun, padahal penjalin beberapa kali mendarat di tubuh mereka. Mereka memiliki ilmu kebal, ada jampi-jampi khusus, jimat (bebadong).

*****************

Dari cerita para orang tua kami, peresean itu juga bukan semata-mata hiburan. Budayawan NTB Moch Yamin mengatakan, peresean itu bagian dari ritual meminta hujan. Di sebuah daerah yang kemarau panjang, digelar acara peresean. Para pemuda di kampung itu menunjukkan ketangkasan mereka. Darah yang keluar  dari kepala akibat luka, darah yang mentes dari tubuh yang robek dianggap sebagai persembahan bagi bumi. Itu sebagi simbol air.

Peresean juga sebagai simbol kejantanan laki-laki. Dalam tradisi Sasak, seorang pria ketika menikah dengan cara membawa lari anak gadis orang (merarik), maka dia harus siap mesiat (berkelahi). Konon, cara mesiat itu adalah dengan peresean.

jadi pertunjukan

Mesiat dengan cara peresean itu juga menjadi dongan tidur saya, saat didongkan cerita Cupak-Gurantang. Dua bersaudara ini diutus raja untuk menyelamatkan putri yang diculik raksasa. Bagi siapa yang menemukan, akan mengawini tuan putri. Singkat cerita Gurantang (adik) berhasil mengalahkan raksasa, sementara Cupak hanya bersembunyi.

Belakangan dalam perjalanan pulang, Cupak menjebak Gurantang. Maka dialah yang membawa tuan putri. Singkat cerita, Gurantang berhasil keluar dari jebakan, dia kembali ke kerajaan. Untuk membuktikan siapa sebenarnya jagoan, yang benar-benar mengalahkan raksasa, maka kedua saudara ini diadu peresean. Gurantang yang digambar dengan sosok ganteng, bertubuh kecil, sementara Cupak rakus dan gemuk melangsungkan pertarungan peresean disaksikan seluruh rakyat. Gurantang menang.

Peresean sebagai ritual meminta hujan, atau pun simbol kejantanan beralih menjadi sebuah hiburan rakyat. Kini acara peresean menjadi tontontan mengasyikkan. Dilombakan secara resmi oleh pemerintah. Biasanya digelar untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia.

Peresean sebagai ritual, mungkin hanya bertahan di komunitas Wetu Telu di Kabupaten Lombok Utara. Dalam tradisi mereka saat Maulid Adat, acara peresean menjadi pembuka rangkaian tradisi itu. Bedanya, peresean pembuka itu dilakukan oleh seorang perempuan. Perempuan sepuh.

‘’Sebagai pembuka harus warga dari Meloka Pelawangan melawan  Meloka Karang Bajo, baru setelah itu peserta lain,’’ kata Raden Gedarip, tokoh adat di Bayan.

Komunitas adat yang menggelar Maulid Adat ini ada di Bayan, Loloan, Sukadana, Semokan, Segenter di Kecamatan Bayan. Selain itu digelar juga di Salut, Gumantar Kecamatan Kayangan.

‘’Maknanya kegiatan peresean ini untuk melatih ketangguhan,’’ kata Djekat, tokoh adat Sesait.

Pelaksanaan peresean saat Maulid Adat ini dilakukan pada malam hari. Dijelaskan Djekat, peresean itu merupakan bentuk latihan peperangan. Latihan untuk kekuatan untuk menghadapi musuh. Itulah sebabnya, dulu, kegiatan tersebut hanya boleh dilakukan malam hari tanpa menggunakan lampu dengan alasan musuh tidak mengetahui.

‘’Adanya perubahan sekarang dengan dipasangnya listrik tidak mengubah makna itu. Peresean itu tetap dilakukan malam hari,’’ katanya.

Di masyarakat Adat Bayan ada keyakinan, ketika proses peresan itu halaman masjid kuno yang luasnya hanya 1 are itu tidak akan penuh. Berapa pun penonton yang datang pasti akan terisi. Terlepas dari benar tidaknya mitos itu, setidaknya belum pernah ada kasus penonton atau pun pemain yang terjatuh dari atas lapangan yang berundak-undak itu. tidak pernah juga kekurangan pepadu, semalam suntuk mereka menggelar peresean di halaman masjid kuno. (*)

Previous post

Kerja Sama dan Solidaritas Antar Warga dalam Gempa Lombok

Next post

Pisang dari Hutan Aik Berik

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *