Leisure

Apa Pekerjaan Orang Indonesia di Australia ?

Tinggal di rantauan tidak membuat mereka lupa dengan Indonesia. Walaupun sebagian sudah berganti kewarganegaraan menjadi warga negara Australia, identitas mereka sebagai orang Indonesia tidak akan pernah hilang. Justru kini mereka menjadi duta budaya Indonesia di Australia. Berikut catatan kunjungan saya saat bertemu Komunitas Indonesia – Australia di Gold Coast, Queensland, Australia saat mengikuti International Media Visit (IMV) tahun 2017 silam.

 

********

SEPI. Tak ada lalu lalang mobil atau sepeda motor ketika kami memasuki kompleks Port Jackson Boulevard, Clear Island Water di Gold Coast. Kompleks perumahan yang nyaris semua rumah tidak memiliki pagar keliling itu seperti tak berpenghuni. Mobil terparkir di halaman rumah dan pinggir jalan. Tak ada yang bisa ditanya alamat yang akan kami tuju. Untung saja Google Maps bisa diandalkan untuk mencari rumah yang dituju.

Setelah berkeliling sekitar 7 menit di dalam kompleks itu, kami sampai di alamat yang dituju. Banyak mobil terparkir di luar, tapi rumah itu sepertinya sepi. Ketukan pintu tidak ada balasan dari dalam rumah. Tiba-tiba di belakang kami, seorang perempuan berambut pirang menyapa.

“Tidak ada orang ya,’’ kata perempuan yang datang bersama seorang bocah laki-laki dan perempuan. Perempuan itu menyapa menggunakan bahasa Indonesia. Kami yakin tidak salah rumah. Inilah rumah yang sekaligus menjadi sekretariat yang kami cari. Tempat kumpulnya komunitas Indonesia – Australia.

Begitu masuk rumah, hidung saya mencium bau ikan asin yang sedang digoreng. Ya ikan asin, yang di dalam bahasa Sasak (Lombok) disebut ikan “bajo”. Baunya sangat khas ketika digoreng.

menu Indonesia di meja makan

Dugaan saya tepat, ketika sampai di bagian belakang rumah itu, di dapur sejumlah perempuan Indonesia dan Australia sibuk memasak. Satu diantaranya sedang menggoreng ikan asin. Sementara sejumlah anak-anak sibuk berlari dan sebagian bermain di sofa. Wajah anak-anak itu sangat terlihat jelas jika mereka adalah “blesteran”. Ada yang ibunya orang Australia dan bapaknya orang Indonesia, ada juga ibunya orang Indonesia dan bapaknya orang Australia.

Di teras belakang rumah itu sejumlah pria sibuk mengisap shiha. Mengetahui kami datang mereka menyambut dan meminta bergabung. Tanpa sambutan resmi, kami langsung akrab. Mereka para pria itu adalah orang-orang Indonesia yang menetap di Australia. Bambang, yang diangkat menjadi “juru bicara” komunitas Indonesia – Australia di Gold Coast mendominasi pembicaraan. Ceritanya tak henti-henti, seputar aktivitas orang Indonesia di Australia, khususnya Gold Coast hingga persoalan di Indonesia.

Bambang Kuncoro menamatkan SMA di kampung halamannya. Tamat SMA dia mengadu nasib di Bali, bekerja di sektor pariwisata. Di tempat itulah dia menemukan tambatan hatinya. Pada tahun 1996 memutuskan pindah ke Australia, ikut bersama istrinya. Saat itu mereka tinggal di Sydney. Kemudian mereka pindah ke Gold Coast, 600 kilometer dari Sydney. Di tempat baru ini Bambang merasa lebih betah. Pada musim summer dan spring, udara di Gold Coast tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Di kota yang relatif kecil dibandingkan kota lainnya di Australia ini, komunitas Indonesia – Australia lebih sering berkumpul dan menggelar banyak kegiatan.

“Setiap akhir pekan kami kumpul. Kota ini kecil, jadi gampang ketemu,’’ kata Bambang.

lelaki ganteng Indonesia yang menikahi orang Australia

Saat kumpul itulah, para diaspora ini berbagi cerita seputar pekerjaan, mendiskusikan rencana kegiatan yang lebih besar dan tentu saja acara intinya makan-makan. Seperti saat kami berkunjung Minggu (7/5/2017), selain ikan asin, kunjungan kami para peserta International Media Visit (IMV) 2017 juga disambut dengan rending, gulai kambing, sambel hijau, sambel terasi, dan tentu saja tidak ketinggalan kerupuk. Para ibu-ibu yang menjadi juru masak sepertinya tidak lupa membawa resep Nusantara di rantauan.

“Kami patungan membeli bahannya. Ketimbang makan di restoran, kumpul begini lebih murah dan anak-anak kami bisa saling mengenal,’’ kata Bambang.

Diluar urusan makan-makan sekali seminggu, komunitas Indonesia – Australia ini juga aktif menggelar berbagai kegiatan. Khususnya kegiatan seni budaya. Baru-baru ini mereka menggelar pentas kesenian Indonesia. Pada event tersebut komunitas Indonesia – Australia focus menampilkan tari dan musik dari Indonesia Timur.

“Sekarang pemerintah Indonesia juga lagi gencar promosi pariwisata Indonesia bagian timur,’’ kata pria yang sehari-hari bekerja di Australia Post (Kantor Pos).

Selain memiliki agenda tetap dua kali setahun, komunitas ini juga sering diundang pentas oleh komunitas diaspora negara lainnya. Penampilan mereka selalu ditunggu-tunggu. Keragaman tari dan musik dari Indonesia membuat mereka menjadi bintang dalam setiap acara. Padahal dalam acara itu mereka diundang. Ada dua grup dalam komunitas Indonesia – Australia yang aktif di bidang kesenian, yaitu Seharum Nusantara dan Bali Indonesia Multicultural Australia (BIMA). Seharum Nusantara lebih fokus pada tari, sementara BIMA lebih fokus pada musik. Semua alat music dan pakaian tari yang dimiliki komunitas ini adalah hasil swadaya.

“Kalau kami diundang pentas dan dikasi honor, uangnya jadi kas untuk menambah perlengkapan,’’ kata Bambang.

Selain menghimpun orang Indonesia yang bekerja, ada juga mahasiswa yang sedang kuliah di Australia. Komunitas ini kerap membantu mencarikan informasi. Termasuk jika ada undangan pentas kesenian, komunitas Indonesia – Australia ikut pentas. Begitu juga ketika ada orang Indonesia yang sedang mencari informasi pekerjaan di Australia, dengan senang hati komunitas ini membantu mencarikan informasi. Termasuk juga membantu menguruskan visa dan kesiapan lainnya. Bambang merasa dengan cara membantu para diaspora itu, dia menjalankan tugasnya sebagai orang Indonesia. Walaupun sebenarnya, secara administrative Bambang adalah warga negara Australia. Dia mengganti kewarganegaraannya. Bagi Bambang identitas negara yang ditunjukkan lewat paspor itu hanya formalitas. Dia menegaskan masih orang Indonesia, sekaligus juga orang Australia.

“Apa bedanya saya tinggal di Jakarta lalu buat KTP Jakarta. Itu soal adminstrasi saja,’’ katanya.

diskusi dengan mahasiswa Australia

Sebagian anggota komunitas Indonesia – Australia memang sudah menjadi warga Australia. Ada juga yang statusnya permanent residence Australia. Mereka sudah menjadi warga Australia, memiliki hak yang sama dengan “warga asli”. Yang membedakan, permanent residence ini tidak memiliki hak dalam pemilu. Selebihnya mereka mendapatkan layanan yang sama. Kelak jika ingin pulang kampung ke Indonesia, para permanent residence ini masih memiliki kesempatan, kembali menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Hidup di Australia memang lebih mudah dibandingkan hidup di Indonesia. Ini dirasakan oleh Lanang. Pria yang lahir dan besar di Mayura, Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memilih menjadi permanent residence karena perhatian pemerintah Australia pada pendikan, kesehatan dan pelayanan publik lainnya.

Lanang yang dulunya membuka usaha café di Gili Trawangan memutuskan pindah ke Australia setelah biaya hidup pendidikan anaknya di sekolah international di Bali begitu mahal. Setahun bisa mencapai seratusan juta lebih. Di Australia, putra putrinya mendapatkan pendidikan gratis hingga jenjang sekolah menengah atas. Di bangku kuliah, jika masuk di community college biayanya lebih murah.  Lapangan pekerjaan lebih luas dan jaminan hari tua yang lebih terjamin.

“Anak pertama saya sekarang jadi guru TK,’’ kata Lanang yang saat berbincang dengan Saya menggunakan bahasa Sasak. Lanang datang ke Australia saat Indonesia masih dipimpin Soeharto. Kini anak tertunya sudah berusia 21 tahun.

“Anak-anak saya bisa makanan Lombok, mereka suka yang pedas,’’ kata Lanang.

Identitas Lombok pada Lanang masih melekat dari bahasa Sasak dan masakan yang disuguhkan. Pada waktu tertentu dia khusus memasak masakan Lombok. Salah satu yang menjadi andalan adalah pelecing kangkung. Ya, di Australia pun ada kangkung. Di meja makan keluarga Lanang, pelecing menjadi masakah istimewa. Tidak setiap saat bisa menghidangkan pelecing. Dalam setahun, pelecing bisa dinikmati tiga bulan.

“Kangkung dijual saat summer saja,’’ kata Lanang.

Satu ikan kangkung yang di Lombok harganya Rp 2.000, di Australia harganya 5 dollar Australia, atau setara Rp 50.000. Walaupun lebih mahal dibandingkan sayuran lainnya, Lanang tetap membeli kangkung. Mencicipi pelecing menjadi obat rindu akan kampung halaman.

 

orang Indonesia liburan ke Australia

 

Tidak ingin kembali ke Lombok ?

 

Lanang mengaku tidak akan bisa melupakan Indonesia, melupakan Lombok. Tapi saat ini dia realistis. Putra putrinya tinggal dan sekolah di Australia. Jika dipaksakan tinggal di Lombok, butuh adaptasi yang panjang. Tidak mudah mengubah kebiasaan. Selain itu fasilitas yang lebih baik di Australia juga membuat Lanang berpikir panjang untuk cepat-cepat kembali ke Indonesia.

Apa yang dirasakan Lanang juga dirasakan Bambang yang dan Wayan Widaya. Bahkan Wayan Widaya yang menjadi Ketua BIMA, setengah hidupnya dihabiskan di Australia. Dia kali pertama datang ke Australia tahun 1981. Sudah 36 tahun. Dia berkarya di Australia. Putra putrinya sekolah di Australia.

“Saya datang ke sini daerah ini masih kayak hutan,’’ katanya tertawa.

Mereka memilih menjadi permanent residence ataupun berganti kewarganegaraan bukan berarti tidak mencintai Indonesia.  Justru dengan status mereka di Australia saat ini, mereka bisa berperan lebih besar untuk Indonesia. Seperti aktivitas mereka yang siap membantu para mahasiswa Indonesia di Australia. Termasuk juga mereka menjadi duta kebudayaan Indonesia di Australia. Mereka mencintai Indonesia dengan berkarya di negeri rantau. (*)

 

 

Previous post

Jero Acan, Terasi Higienis dan Gurih dari Jerowaru

Next post

Narasi Kekerasan Buruh Migran Perempuan  

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *