InspirasiTeaser

Ceramah Kebangsaan TGB di Universitas Kristen Indonesia

Dr TGB Muhammad Zainul Majdi

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia

 

UKI ini adalah kampus yang sangat dinamis. Tidak heran bagian dari dinamika kerja sama dengan Kunci Institute. Dalam rangka menjaga keberagaman dan harmonisasi di era disruption. Kita harus menyadari dalam bentuknya yang sekarang ini bukan terjadi yang tiba tiba datang saja. Ujug-ujug memiliki keberagaman.

Indonesia ini adalah akumulasi perjuangan sudut nusantara. Dengan khazanah kearifan lokal. Lalu lahirlah Indonesia. Yang memiliki perjalanan bangsa.Generasi kita saat ini, antara hidup di Indonesia, di era awal 2002. Jauh sekali dengan masa-masa di perjuangkan secara fisik.Kita sudah difasilitasi infrastuktur dan suprastruktur negara. Bahwa yang kita nikmati bukanlah sesuatu yang seharusnya.

Tapi Indonesia itu suatu titik hasil kolaborasi anak bangsa. Bahwa ketika seluruh generasi bekerja bersama sama.

Maka kemudian 17 Agustus lahirlah Indonesia. Harmonasi itu adalah kata kerja. Indonesia ini lahir dari kata kerja. Lahir dari kerja kerja kolektif. Maka saya berharap generasi saat ini betul betul memahami bukan hasil pemberian tapi takdir yang diwujudkan oleh kerja kolektif. Maka saat ini merawat dan memajukan Indonesia membutuhkan kerja kolektif.

Para founding fathers itu mereka berasal dari madhzab pemikiran berbeda. Betapa beragamnya latar belakang pemikiran mereka.

Misalnya kalau orang orang madhzab yang berbeda beda ini berkumpul dan berargumen untuk kepentingan kelompoknya dan kelompoknya paling benar. Maka tidak mungkin lahirlah Indonesia.

Kalau kita lihat tokoh bangsa yang beragam. Meletakkan dasar negara Indonesia. Mencari titik temu kesepakatan dan konsensus untuk kemaslahatan bangsa.

Salah satu yang penting untuk kita ambil. Teks teks negara. Yang kita wariskan.

Manusia nusantara itu adalah cinta kepada kebersamaan dan hidup bersama. Aliran yang paling ingin menang sendiri itu tidak cocok dengan karakter bangsa Indonesia.

Semua perbedaan itu tidak mendominasi suasana kebangsaan yang ada. Karena ada niat baik dari para pendiri bangsa. Saya berharap kita saat ini yang mewarisi hasil kerjasama bangsa.

Timur tengah itu rasnya satu dan satu bahasa. Kita ini di Indonesia. Suku bangsanya belasan ribu. Kenapa ini bisa terwujud kenapa bisa satu. Adanya kehendak baik dan niat baik dari kita semua.

Saya mengajak kita semua yang hadir ditempat ini. Dalam noice hiruk pikuk yang luar biasa. Semua hal diperbincangkan. Bahwa ditengah tengah semua hiruk pikuk ini. Mari kita muarakan semua aktifitas kita.

Cinta kita terhadap Indonesia tidak boleh di disrupsi.

Semua guratan tangan dan langkah kaki kita harus berkontribusi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Kalau tidak bisa berkontribusi minimal jangan melemahkan kekuatan bangsa Indonesia.

Senin 14 Oktober 2019.

 

******

Acara yang digelar Kunci Institute dan UKI bertema Harmonisasi Keberagaman di Era Disruption 4.0. Selain TGB HM Zainul Majdi sebagai pembicara, ada Staf Menristekdikti KH Abdul Wahid Maktub. Direktur Kunci Institute M Kharisul Ilmi mengatakan, selain menguatkan SDM, lembaga ini sebagai wadah bagi anak muda Indonesia untuk terus merajut kebhinnekaan dan persatuan. Kunci Institute ingin mengajak generasi muda mencintai Indonesia dengan keberagaman. Perbedaan adalah intangible, kekayaan tak terlihat yang dimiliki Indonesia. Menjadi sebuah keharusan bagi anak bangsa merawatnya.(*)

Previous post

JOKI CILIK, NASIBMU NAK

Next post

Masihkah Sembalun Balen Bawang ?

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply