BeritaInspirasi

Parhan, Guru Honorer SD di Pedalaman Tambora

Mengajar di tempat terpencil dengan segala keterbatasan hanya bisa dilakukan guru yang benar-benar tangguh, bahkan bisa disebut “gila”. Uang sudah pasti bukan alasan. Parhan adalah salah satu contohnya. Dia lahir dan besar di Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), kini menjadi guru honorer di SDN Tambora, Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima.

 

*******

Jumat pagi (10/4/2015), suasana kelas di ujung timur sekolah itu gaduh. Terdengar cekikikan mereka hingga dari luar kelas. Di bagian pojok paling belakang seorang murid perempuan tampak malu. Dia hanya menunduk. Guru yang mengajar di kelas itu pun menghampirinya dan memberikan instruksi. Pagi itu, guru itu, Parhan, memberikan pelajaran menggambar pada murid kelas I dan kelas II yang bergabung di dalam satu ruangan.

Usai memberikan pelajaran menggambar, yang diakhiri dengan tugas, Parhan berlari ke ujung ruangan lain. Di sana sudah menunggu kelas IV dan VI. Pagi itu, kelas IV dan kelas VI diminta untuk membaca ulang beberapa pelajaran bahasa Indonesia. Khusus bagi kelas VI, Parhan memberikan nasehat agar kembali belajar sepulang ke rumah. Ujian nasional sudah kian dekat.

“Pak ustadz sudah jadi,’’ teriak murid kelas II yang berdiri di depan pintu kelas mereka, ketika melihat Parhan meninggalkan ruangan kelas IV dan kelas VI.

Sementara itu, di kelas yang ada di tengah, yang ditempati kelas III dan kelas V tampak kosong. Bangku dinaikkan ke atas meja. Sementara muridnya berlari-lari di halaman sekolah. Mereka bermain lompat-lompatan. Ada juga yang bercanda, menggunakan bahasa Mbojo. Parhan meminta mereka masuk ke kelas. Tapi mereka tetap asyik bermain.

Jumat, sehari sebelum peringatan puncak acara Tambora Menyapa Dunia (TMD) itu, Parhan adalah satu-satunya guru yang masuk. Sementara guru honor lainnya tidak masuk. Kepala sekolah sendiri, satu-satunya guru negeri, terakhir datang ke sekolah itu bulan Maret lalu. Parhan yang sebenarnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) akhirnya mengajar semua pelajaran hari itu, kecuali pelajaran agama. Hari itu Parhan belum sempat mengajar pelajaran yang diampunya.

Di hari lain, Parhan mengajar berhitung di kelas I dan kelas II. Mengajar bahasa Indonesia di kelas III dan VI, yang entah kenapa digabung menjadi satu ruangan. Di kelas IV dan VI yang juga digabung, Parhan memberikan pelajar ilmu alam. Diselingi pelajaran agama Islam. Kadang balik lagi ke kelas III mengajar agama Islam. Di kelas ini, kadang Parhan merasa dilema. Di kelas itu ada murid yang beragama Hindu dan Kristen.

“Guru agama Hindunya tidak pernah datang lagi. Kalau pelajaran agama Islam, murid agama Hindu dan Kristen main-main di halaman,’’ kata Parhan.

Syafrudin Jae, Kaur Pembangun Desa Oi Bura, tempat SDN Tambora berdiri, mengatakan, Parhan adalah satu-satunya guru yang rajin. Guru lainnya yang rajin adalah relawan Indonesia Mengajar, program yang digagas Anies Baswedan yang kini menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat Lombok Post berkunjung ke sekolah itu, relawan yang ditempatkan di SDN Tambora sedang “turun gunung”, berkumpul dengan relawan Indonesia Mengajar lainnya yang ditempatkan di Kecamatan Tambora.

“Kepala sekolahnya terakhir saya lihat bulan lalu,’’ kata Syafrudin yang kantornya bertetangga dengan SDN Tambora.

Syafrudin tidak menyalahkan guru negeri yang lebih banyak tidak masuknya itu. SDN Tambora seperti tempat “pengasingan”. Dia mendengar, bagi guru yang tidak patuh dengan atasan, SDN Tambora, dan SD-SD lainnya di sekitar kawasan Tambora tempat mereka “dibuang”.

“Bagaimana guru mau datang ke sini kalau mereka dari Bima,’’ katanya.

SDN Tambora berada di dalam hutan Tambora. Secara administratif masuk ke Desa Oi Bura. Desa ini dihuni oleh warga dari suku Sasak (Lombok), Mbojo (Bima), Jawa, Bali, dan ada juga warga dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberagaman suku dan agama ini, dibentuk ketika kawasan Gunung Tambora dibuka menjadi perkebunan kopi. Warga desa ini adalah orang-orang yang pernah bekerja di kebun kopi itu, sejak tahun 1970-an dan 1980-an.Kini perusahaan itu tutup.

Untuk mencapai SDN Tambora, harus melalui Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Masuk melalui jalur pendakian, jalan kaki sekitar 5 kilometer. Melewati sungai yang jembatan kayunya nyaris ambruk, dan jalan tanah yang pada musim hujan sangat berbahaya jika naik motor.

Dari ibukota Kabupaten Bima, harus memutar ke Kota Dompu, melewati Kecamatan Kempo, Kecamatan Pekat yang masuk Kabupaten Dompu, barulah sampai ke Kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Kecamatan Tambora seperti terisolir dari kabupaten induknya. Perjalanan dari ibukota Kabupaten Bima ke Kecamatan Tambora, kurang lebih 4-5 jam mengendarai motor/mobil.

“Hanya ustadz Parhan yang rajin mengajar,’’ kata Syafrudin.

“Pak wartawan lihat sendiri jalan ke sini, tentu banyak alasan guru untuk tidak masuk,’’ kata Parhan menambahkan.

Parhan sendiri jalan kaki menuju sekolah. Dia tidak memiliki sepeda motor. Selama dia mengajar, dia tinggal di Dusun Sori Bura, Desa Oi Bura. Dari tempat tinggal ke sekolah, dia jalan kaki kurang lebih 2 kilometer. Dia melewati jalan setapak yang biasa dilewati para pendaki Gunung Tambora dari jalur Pancasila.

Parhan bukanlah penduduk asli Oi Bura atau Tambora secara umum. Dia adalah pemuda dari Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Dia kali pertama menginjakkan kaki ke Tambora ketika pondok pesantren (Ponpes) tempatnya kuliah, Ponpes Nurul Hakim Kediri Lombok Barat, menugaskan dalam program “Khalid bin Walid”. Program ini, mengutus para mahasiswa/alumni STIT Nurul Hakim, untuk berdakwah ke desa-desa. Parhan kebagian Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, yang jika naik bus dari Mataram menempuh perjalanan 12 jam.

Melakoni sebagai dai yang diutus ke tempat terpencil, Parhan menetap di kampung. Salah seorang warga meminjamininya halaman rumahnya, tempat Parhan membangun gubuk tempat tinggal. Warga di dusun itu membangunkan Parhan tempat tinggal terbuat dari papan kayu. Bangunan itu berukuran 2 X 2,5 meter.

Bangunan “rumah” itu disekat. Sebagian untuk kamar, sebagian lagi untuk dapur. Kamar itu sendiri seukuran ranjang. Warga membuatkan ranjang dari papan, dialasi tikar plastik bergambar “hello kitty”. Di gubuk sederhana itulah Parhan menyiapkan segala persiapan mengajar.

“Yang penting ada tempat berteduh,’’ kata Parhan.

Parhan lebih banyak waktunya di masyarakat dan sekolah. Pagi jam 07.00 Wita dia sudah jalan ke sekolah. Jam 08.00 Wita kelas dimulai. Jika sedang beruntung, ada guru lain yang masuk. Parhan cukup mengajar pelajaran agama Islam. Tapi selama ini, lebih banyak dan lebih sering guru-guru lainnya tidak masuk.

“Kadang kami berdua (dengan relawan Indonesia Mengajar, red). Kadang tiga orang, empat orang. Sangat jarang masuk semua,’’ katanya.

Sepulang sekolah, Parhan istirahat di gubuk kecilnya. Dia memasak untuk makan siang. Lauk pauknya, dibeli di warung kecil, kadang pula diberikan oleh warga. Hubungan sosial yang dibangun Parhan dengan warga, membuatnya dihormati warga.

Sore hari, Parhan mengajar mengaji. Saat ini dia lebih banyak mengajar di Dusun Sori Bura. Dia juga sedang menyiapkan memiliki jadwal mengajar mengaji di Dusun Jembatan Besi, dan Dusun Tambora. Jika jalan kaki, dusun-dusun itu bisa ditempuh 1 jam.

“Kadang saya dibonceng kalau kebetulan ada yang melintas,’’ kata pemuda yang masih lajang ini.

Parhan biasa mengajar mengaji hingga malam. Itulah sebabnya, di sekolah dia lebih banyak dipanggil Pak Ustadz oleh murid-muridnya. Parhan memang dikenal sebagai ustadz di masyarakat Desa Oi Bura. Hampir semua warga mengenalnya.

Sebenrnya, Parhan tidak ada rencana mengajar di SDN Tambora. Dia hanya datang berdakwah. Tapi belakangan dia jatuh hati dengan Tambora. Dia memutuskan mengabdi di sekolah di tengah hutan, yang dikelilingi bangunan tua eks kompleks perumahan kebun kopi itu.

Karena tercatat sebagai guru honorer, Parhan pun diberikan insentif dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). Besarannya hanya Rp 350.000 per triwulan. Artinya, sebulan Parhan hanya diberikan honor kurang lebih Rp 116.000. Jumlah yang tentu saja sangat sedikit.

“Saya mengajar untuk mengabdi,’’ katanya. (*)

 

 

Previous post

Sejarah Singkat Asosiasi Pokdarwis Lombok Timur

Next post

Penolakan Nama Bandara Karena Kebencian

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *