InspirasiTeaser

Hati Riang Saat Jualan Laris

Kelompok perempuan Riang terbentuk pada tahun 2010. Awalnya kelompok ini merupakan kelompok arisan dengan iuran Rp.10.000 setiap bulan. Kelompok ini berkembang menjadi koperasi simpan pinjam dengan tabungan Rp.5000/orang setiap minggunya. Kelompok perempuan Riang kemudian membuat usaha bersama yaitu usaha kue basah maupun kue kering.

Pada awalnya, semua anggota kelompok cukup aktif, akan tetapi karena kesibukan pribadi dua orang anggota sudah tidak aktif lagi.  Setelah mendapat pembinaan dari Jaringan Perempuan Usaha Kecil, mereka kembali bersemangat menjalankan usaha, akan tetapi beberapa waktu terakhir pembina mereka tidak pernah datang lagi.

Anggota kelompok Riang merupakan ibu rumah tangga yang memiliki skill dalam membuat kue. Ada yang bertugas membuat kue, ada yang bertugas mengemas kue tersebut ke dalam mika, dan ada yang bertugas menjajakan kue tersebut secara keliling ke kantor-kantor di wilayah Kota Praya.

Salah satu anggota kelompok memiliki keterbatasan karena tubuh yang kerdil. Ia bertugas mengemas kue-kue yang akan dijual ke dalam mika. Ketua kelompok bertugas dalam upgrade resep dan memperluas jaringan. Meskipun sebagai single parent, ketua kelompok sangat rajin sehingga sering mendapat orderan kue jika kantor-kantor di Kota Praya mengadakan kegiatan.

Kelompok perempuan riang setiap harinya memproduksi kue basah seperti resoles, pudding, onde-onde, dll. Mereka juga memproduksi kerupuk dan aneka kue kering terutama pada saat menjelang Idul Fitri. Selain itu, mereka juga menerima pemesanan kue brownis dan kue ulang tahun.

Setiap hari kue yang mereka produksi dijual keliling di seputar Kota Praya. Omzet penjualan setiap harinya berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 500.000 dengan keuntungan sekitar 50%. Jika ada pesanan kue untuk kegiatan omset mereka bisa mencapai Rp1.000.000,- hingga Rp 2.000.000.

anggota kelompok usaha perempuan RIANG saat membuat kue

Peluang dan Tantangan

Selama ini kelompok Riang pernah mengikuti pelatihan pengemasan barang yang diadakan oleh Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk). Pelatihan ini dikuti oleh ketua kelompok.

Kelompok ini belum pernah mendapatkan bantuan baik berupa modal maupun bantuan alat dari pemerintah. Selama ini mereka hanya pernah meminjam modal kepada Jarpuk dengan bunga yang lumayan tinggi.

Hambatan yang paling dirasakan adalah modal. Sebenarnya mereka sangat ingin memiliki kemasan produk yang bagus agar lebih professional tetapi mereka belum punya modal untuk membuat kotak khusus. Untuk sementara mereka masih mengemas kue dengan menggunakan mika biasa.

Selain masalah pengemasan, produk kue dari kelompok Riang juga belum mendapat sertifikat halal dari MUI dan belum memiliki sertifikat dari BPOM. Hal tersebut membuat mereka terkadang merasa kurang PD saat menyajikan kue pada saat ada pesanan dari kantor-kantor pemerintahan di wilayah Kota Praya.

Ketua Kelompok juga menceritakan terkait belum pernah diadakannya pelatihan dari pemerintah terkait resep aneka kue. Ia dua kali mengikuti pelatihan resep di Kota Mataram yang diadakan oleh pihak swasta dan membayar dengan uang pribadi. Biaya pelatihan resep biasanya cukup tinggi. (ema/mayung.id)

 

 

 

Previous post

SEBAGAI ORANG NW

Next post

SOLUSI PARIWISATA INDONESIA DI TENGAH ANCAMAN WABAH VIRUS CORONA

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *