BeritaInspirasiTeaser

Jasa Lingkungan,  Partisipasi Publik Menjaga Lingkungan (1)

Setiap bulan, pelanggan PDAM Giri Menang menitipkan uang Rp 1.000 untuk Jasa Lingkungan (Jasling). Uang itu dimanfaatkan langsung bagi pelestarian kawasan hulu, sumber air PDAM. Secara langsung pelanggan PDAM bertanggungjawab atas keberlanjutan air yang mereka nikmati.

****

RAHMAN selalu dongkol jika ada selentingan miring tentang air PDAM ketika kumpul di kabupaten. Kepala Desa (Kades) Sedau Kecamatan Narmada periode 2007-2013 itu kerap mendengar dalam pertemuan kades cerita keluhan dari pelanggan PDAM. Rekannya para kades yang tinggal di bagian hilir, kerap mendapat keluhan air PDAM yang kecil, keruh, dan kadang tidak mengalir sama sekali. Terutama pada musim kemarau.

Dari cerita itu, ada dua pihak yang disalahkan : PDAM dan masyarakat yang tinggal di hulu, di kawasan hutan yang menjadi sumber air PDAM. Masyarakat hulu dituding tidak menjaga hutan, melakukan penebangan liar. Keruhnya air PDAM pada musim hujan juga dilimpahkan ke masyarakat hulu, keruhnya air akibat kondisi hutan yang tidak bagus. Secara tidak langsung cerita yang didengar langsung Rahman itu menohok warga di kampung halamannya di Dusun Lebah Suren. Dusun ini adalah dusun paling ujung di Desa Sedau, berbatasan langsung dengan kawasan hutan, kawasan tangkapan air (catchment area), sekaligus di sana dibangun bak air PDAM dari mata air Papuq Jumar yang mengalir hingga Sekotong.

“Tapi kalau air jernih, lancar tidak pernah kami dengar ucapan terima kasih dari pelanggan di bawah,’’ kata Rahman.

Rahman sadar, dusunnya adalah penjaga benteng air bersih bagi pelanggan PDAM. Termasuk juga benteng penjaga ketersediaan air bagi bendungan Sedau, yang airnya dimanfaatkan bagi petani hingga ke Kabupaten Lombok Tengah. Sumber air irigasi dan air minum itu berasal dari mata air-mata air yang ada di kawasan hutan Sesaot.

Sejak awal warga menuntut ada kompensasi atas pemakaian air dari hulu itu. Namun saat itu, kata Rahman, belum ada mekanisme yang mengatur untuk program kompensasi itu. Sampai akhirnya belakangan muncul program Jasa Lingkungan (Jasling).

“Setelah program ini barulah kami merasakan hubungan emosional dengan pelanggan air, mereka menikmati air yang kami jaga, mereka turut membantu kami menjaga hutan dengan iuran Jasling,’’ katanya.

Jasling yang dimaksud Rahman adalah sebuah konsep pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui pemberian reward (penghargaan) kepala alam melalui inisiatif payment for environmental services atau pembayaran jasa lingkungan dengan tujuan konservasi.  Pengelolaan lingkungan di bagian hulu akan memberikan dampak positif bagi kawasan hilir. Masyarakat hilir berpartipasi dalam upaya konservasi. Caranya kemudian, warga hilir penikmat air bersih PDAM menitipkan Rp 1.000 setiap bulan untuk program itu.

“Alhamdulillah program ini sudah tiga tahun berjalan, hasilnya jangka panjang memang belum terasa. Tapi program pemberdayaan sudah bisa dinikmati masyarakat,’’ katanya.

Program ini mulai diinisiasi oleh WWF Indonesia Program Nusa Tenggara dan para pihak sejak tahun 2003. Pada tahun awal itu dilakukan studi evaluasi ekonomi rinjani dan Willingnes To Fay (WTP), digelar juga workshop awal untuk pengenalan inisiatif jasa lingkungan. Tahun 2004, mulai digelar pertemuan awal stakeholder untuk membahas inisiatif jasa lingkungan, termasuk juga mulai melakukan pengorganisasian kelompok masyarakat hulu.

Sepanjang tahun 2005-2006 terus dilakukan sosialiasi termasuk juga mulai menyiapkan tim untuk mengawal pembentukan regulasi. Kawasan hulu juga mulai dipetakan, termasuk uji coba pembayaran jasa lingkungan.

Tahun 2007 perda nomor 4 tahun 2007 tentang pengelolaan jasa lingkungan ditandatangani. Bersamaan dengan itu lahir juga SK Institusi Multi Pihak (IMP). 2008 IMP mulai bekerja, termasuk finalisasi perbup untuk memperkuat perda nomor 4/2007, skema dan mekanisme jasa lingkungan juga mulai ada titik terang.

“Ketika ada sosialisasi awal tentang jasa lingkungan itu, masyarakat sudah ada harapan kompensasi yang selama ini diharapkan,’’ kata Rahman yang juga ketua kelompok tani Lebah Suren.

Tahun 2009 diteken MoU antara IMP dengan PDAM Menang Mataram. Penarikan iuran jasa lingkungan mulai diterapkan. Tahun 2010, ujicoba implementasi jasa lingkungan di 3 kelompok dn 3 desa. Tahun 2011 implementasi program menyasar 4 kelompok di 3 desa, tahun 2012 meningkat lagi di 5 kelompok di 5 desa.

“Kami sejak launching tahun 2010 alhamdulillah menerima jasa lingkungan,’’ kata Rahman.

Dana bantuan yang diterima itu dimanfaatkan kelompok untuk penanaman kawasan hutan yang kritis. Lahan itu adalah daerah tangkapan air. Pemanfaatan kedua digunakan untuk pemberdayaan kelompok, dan program ketiga penguatan ekonomi masyarakat hulu.

Untuk penghijauan kelompok ini menanam raju mas, albasia, jati putih. Selain itu menanam pohon berbuah seperti durian, nangka, kemiri, dan sawo. Penanaman pohon buah ini agar kelak masyarakat hulu bisa menjual hasilnya sebagai tambaha penghasilan sebagai petani.

“Dari jasa lingkungan juga usaha kecil masyarakat bisa dibantu melalui suntikan modal,’’ katanya.(bersambung)

 

Previous post

RACUN KEMATIAN ITU BERNAMA KEK MANDALIKA

Next post

Diplomasi Sapi Australia – Indonesia

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply