BeritaTeaser

Jero Acan, Terasi Higienis dan Gurih dari Jerowaru

 

Terasi adalah salah satu bumbu wajib dalam setiap masakan. Bagi masyarakat Lombok, selain dikenal dengan masakannya yang pedas, juga selalu menyertakan terasi. Tak lengkap rasanya masakan tanpa ada terasi. Tapi sayangnya tak semua terasi yang dijual di pasar terjamin kebersihannya. Tak semua terjamin bebas dari bahan pengawet dan pewarna. Jero Acan, terasi khas dari kampung Jor Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur boleh dibilang pelopor produksi terasi yang sehat.

 

Teks : Dedy Hermansyah

Foto : Fathul Rakhman 

 

Ibu Fauziah, salah satu anggota kelompok usaha bersama terasi Jero Acan, tampak sibuk. Ia mondar mandir dari tempatnya membuat terasi menuju beranda, melayani pembeli, mengemas barang, lalu kembali menyelesaikan pembuatan terasi yang sempat ia tinggalkan.

“Alhamdulilllah, sekarang ini mulai banyak yang datang langsung ke rumah memesan terasi olahan kelompok kami,” terang Ibu Fauziah sembari mengucap syukur.

Kelompok pembuatan terasi Jero Acan ini berada di Dusun Jor, Desa Jerowaru, Lombok Timur. Daerah ini memang dikenal sebagai daerah pembuat terasi. Memasuki dusun ini kita langsung diperlihatkan dengan deretan jemuran udang rebon dan terasi pada hampir setiap depan rumah penduduk di pinggir jalan. Juga plang berjejer berisi informasi penyediaan dan pembelian udang sebagai bahan pembuat terasi.

Namun ada yang berbeda dengan rumah Ibu Fauziah. Di sini tidak akan kita temukan penjemuran tradisional—menjemur di tempat terbuka dan langsung terpapar sinar matahari. “Kami memang beli udang kering, sedangkan penjemuran terasi kami lakukan di ‘rumah jemur’,” terang Ibu Fauziah.

Ibu dua anak ini sangat bersemangat menceritakan usaha kelompoknya. Pasalnya, terasi yang kelompoknya produksi adalah terasi higienis, sehat, dan berkualitas. Lalu apa yang membuat terasi Jero Acan ini seperti itu?

 

berbagai bentuk terasi Jero AcanProduksi terasi i-pad hingga terasi bubuk rempah

“Ada pembeli yang datang dan meminta untuk dibuatkan terasi bentuk tipis. Lalu mereka menamakannya terasi i-pad,” cerita Ibu Fauziah, sambil tertawa.

Terasi i-pad ini salah satu ragam terasi batang yang diproduksi kelompok Jero Acan. Selain terasi batang    (yang dibuat dalam ragam lain seperti dadu, batang tebal, sampai yang bundar), kelompok juga membuat jenis bubuk. “Jenis bubuk ini kami buat dalam dua rasa: original dan rasa rempah,” terang Ibu Fauziah.

Terasi bubuk ini boleh dikatakan adalah inovasi baru yang dibuat oleh kelompok setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan. “Awalnya tidak pernah terpikirkan sama sekali memproduksi terasi bubuk ini. Tetapi setelah kami produksi baru-baru ini ternyata banyak yang tertarik dan memesan,” kata ibu Fauziah.

Ibu Fauziah menambahkan, terasi bubuk ini bisa untuk sayur santan, tumis, sup, ditabur seperti penyedap rasa. Terasi rasa rempah sendiri komposisinya berupa lada, cabe, dan aneka rempah lainnya. Sehingga aromanya pun menjadi khas, aroma tajam udang menjadi samar. “Kelebihan jenis bubuk rempah ini, orang tidak susah cari bumbu,” terang Ibu Fauziah.

Hanya saja, proses pembuatan terasi bubuk ini sedikit lebih panjang dibanding terasi batang. Karena seusai terasi dikeringkan, ada proses berikutnya berupa pengopenan.

Ibu Fauziah mengatakan, kelompoknya akan terus berupaya membuat inovasi-inovasi jenis dan rasa terasi yang mereka produksi.

 

 

 

rumah jemur terasi Jero Acan

penjemuran terasi lain di tempat terbuka

Rumah jemur, bagian penting penjamin higienitas

Rumah Ibu Fauziah tempat produksi terasi Jero Acan dengan rumah jemur hanya dipisahkan oleh gang jalan dusun. Luasnya lebih dari satu are. Berpagar bambu dan halaman dalamnya ditumbuhi sulur tanaman dan dua pohon jeruk. “Dulu area ini jadi tempat menjemur terasi oleh anggota kelompok. Namun sekarang Rumah Jemur pengganti yang baru didirikan hanya mengambil kurang lebih sepertiga dari luas lahan,” terang Yazid Sururi, pendamping kelompok Jero Acan ini.

Rumah Jemur itu berupa rumah berdinding acrylic tembus pandang, berdiri setinggi kurang lebih tiga meter dan luas 2×4 meter. Kita bisa melihat dengan jelas ada tiga susunan para-para dari bambu tipis di dua sisi, dan di tengah-tengah ada lorong kecil tempat penjemur dapat mengatur proses penjemuran.

Yazid menambahkan, rumah penjemuran ini tujuannya untuk memastikan produksi terasi itu berlangsung higienis, tidak terkena debu. “Terasi jadi bersih dan berkualitas,” jelas Ibu Fauziah.

Selain itu, rumah jemur ini juga membuat durasi pengeringan lebih cepat dari menjemur di daerah terbuka. Terasi yang sudah melalui proses penyortiran, penyiraman air garam, perendaman satu malam, lalu pencetakan ini, kemudian dimasukkan ke dalam ‘rumah jemur’.“Dan kita tidak perlu khawatir lagi kalau ada hujan,” tambah Ibu Fauziah.

Rumah jemur ini juga menjadi penanda bagi pembeli yang ingin datang membeli terasi Jero Acan. “Tinggal menyebut letak rumah jemur, orang-orang yang ingin membeli langsung ketemu,” kata Ibu Fauziah.

 

pemilihan bahan baku

Perlu Memberi Edukasi Kepada Konsumen

Ibu Fauziah menjelaskan, masih ada warga di Dusun Jor yang menambah pewarna dan pengawet pada terasi yang mereka produksi. “Mereka menambah pewarna agar terasi berwarna merah. Sebab para pembeli di pasar biasanya tidak mau beli jika terasinya tidak berwarna merah,” jelas Ibu Fauziah.

Padahal, menurut Yazid, terasi yang baik itu tidak harus berwarna merah. “Di sinilah kita perlu memberi edukasi kepada konsumen,” terang Yazid.

Ibu Fauziah juga mengatakan, justru terasi yang diberi pewarna, dalam waktu lama ia akan berubah rasa menjadi pahit. Kelompok Jero Acan akan tetap mempertahankan produksi terasi yang higienis, bersih, sehat, dan berkualitas. “Sesuai dengan nama kelompok kami, Jero Acan. Jero bisa berarti nama desa Jerowaru, bisa juga berarti ‘ahli’. Sedangkan Acan sendiri artinya terasi. Jadi kami ingin jadi ahli terasi yang higienis dan sehat,” kata Ibu Fauziah.

pengeringan di mesin

Bahan baku yang masih sulit, dan penjualan yang harus ditingkatkan

Produksi terasi oleh kelompok Jero Acan tiap hari bisa menghabiskan bahan berupa udang rebon sampai 50 kg. Terasi yang dihasilkan juga bisa 500 sampai 1000 biji. “Biasa produksi terasi habis dalam satu minggu,” kata Ibu Fauziah Fauziah.

Namun demikian, bahan baku masih relatif sulit didapatkan. “Di sini tidak tersedia banyak udang. Kalau pun ada, harganya mahal. Bisa sampai 50an ribu per kilo. Kami membelinya di satu gudang pengepul di Selagalas daerah Bertais yang mendatangkan udang dari Kalimantan dan Sumbawa,” kata Ibu Fauziah.

Udang rebon di daerah sendiri tidak selalu tersedia setiap saat. Dan kalau pun ada harganya relatif mahal. Anggota kelompok sedang berupaya mencari bahan baku dari daerah terdekat.

bahan baku udang rebon

Sampai saat ini, terasi Jero Acan tidak dijual langsung di pasar. Tetapi pedagang dari daerah dan sekitar pasar yang langsung datang mengambil. “Pembeli langsung datang membeli ke rumah, ada juga yang dijual via online. Sehari kadang-kadang empat sampai lima pembeli,” kata Ibu Fauziah.

Jumlah transaksi per hari terbilang besar bagi kelompok. “Kami bisa dapatkan sampai satu juta satu hari,” kata Ibu Fauziah. Yang lebih laris penjualan secara langsung. Pembelinya datang dari berbagai daerah, cuma memang sementara ini pembeli dominan dari daerah sekitar desa untuk dijual di pasar. (*)

 

Previous post

Pengalaman Jumatan di Darwin Australia

Next post

Apa Pekerjaan Orang Indonesia di Australia ?

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *