HumanioraTeaser

Narasi Kekerasan Buruh Migran Perempuan  

 Selama dua tahun, 2016-2017 saya ikut terlibat dalam program kawan-kawan di Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Foundation. Saya membantu mereka dalam mengelola media komunitas dan advokasi agar kegiatan mereka bisa masuk ke media mainstream. Dalam proses itu, saya merasa lebih banyak belajar dari kawan-kawan ADBMI Foundation. Saya banyak mendengar kisah mereka, dan sudut pandang mereka tentang buruh migran (sekarang dihaluskan menjadi pekerja migran). Tulisan ini saya ramu dari laporan lapangan ADBMI Foundation dan pertemuan saya langsung dengan para narasumber.

 

 Teks :Fathul Rakhman

Foto : Fathul Rakhman

Data : ADBMI Foundation

 _____________________________________________________________________

 

 Dua bulan lalu publik di Nusa Tenggara Barat (NTB) dikejutkan dengan kasus mantan buruh migran perempuan dari Kabupaten Lombok Utara, Muliati. Mantan buruh migran dari Timur Tengah itu dikabarkan menjadi korban perdagangan ginjal. Dia mengetahui ada masalah dengan ginjalnya setelah memeriksakan diri ke rumah sakit. Petugas kesehatan yang memeriksanya, dan setelah dilakukan rontgen, diketahui ada keanehan di ginjalnya. Ada selang terpasang. Informasi yang beredar, ginjalnya tidak utuh. Belakangan setelah diperiksa kembali, dua ginjalnya masih utuh. Tapi masih menyisakan teka teki keberadaan selang di ginjalnya itu.

Dalam keterangan Muliati, dia memang pernah dibawa ke rumah sakit oleh majikannya. Tapi saat itu dia tidak dalam kondisi sakit. Setelah dibius dia tidak sadarkan diri. Belum sembuh 100 persen dia dipulangkan ke  tanah air. Beberapa tahun kemudian Muliati merasakan sakit di bagian perutnya. Hasil pemeriksaan ada masalah dengan ginjalnya. Dari kasus inilah kemudian berkembang ke kasus-kasus lainnya. Muliati adalah korban perdagangan manusia, identitas di paspornya tidak sesuai dengan fakta.

Kisah Muliati yang belum berakhir ini adalah sebagian kecil kisah pilua para buruh migran perempuan dari NTB, khususnya Lombok. Secara spesifik, para buruh migran perempuan dari Pulau Lombok ini adalah perempuan-perempuan “asli” Lombok, perempuan suku Sasak. Maka dalam tulisan makalah ini difokuskan pada buruh migran Sasak.

Lombok dikenal sebagai salah satu lumbung buruh migran. Banyaknya buruh migran dari Lombok ini juga bersisian dengan banyaknya masalah. Setiap tahun tidak pernah sepi dari kasus-kasus yang menimpa buruh migran, termasuk juga ketika mereka kembali ke kampung halaman.

Fenomena migrasi perempuan Sasak terus meningkat dan kontribusi mereka tidak kecil dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi keluarga. Tidak jarang perempuan migran Sasak menjadi tulang punggung ekonomi keluarga pada saat mereka tidak bisa bergantung kepada anak laki-lakinya. Bahkan kaum migran perempuan Sasak menanggung saudaranya yang laki-laki merelakan diri berkeja di luar negeri supaya dapat membantu pendidikan adik-adiknya.

Sayangnya perlindungan terhadap buruh migran perempuan maupun perempuan anggota keluarga buruh sangat rendah. Beberapa kasus mengendap begitu saja. Bukannya diberikan “tanda saja” sebagai pahlawan devisa, kerap kali buruh migran perempuan di Lombok menjadi bahan olok-olokan. Dalam beberapa lagu Cilokak (lagu khas Lombok), banyak lirik lagu merek yang menceritakan tentang kondisi perempuan Sasak. Ejekan yang paling dikenal luas di masyarakat Lombok adalah “Bebalu Malaysia” artinya Janda Malaysia. Kata ini merujuk pada perempuan Sasak yang ditinggal suaminya ke Malaysia. Secara hukum status mereka masih suami istri. Tapi karena lama ditinggal suami, mereka pun dianggap sebagai janda. Begitu juga dengan buruh migran perempuan yang mengadu nasib ke Malaysia, nasibnya tidak jauh berbeda dengan “Janda Malaysia”. Mereka bekerja banting tulang di Malaysia, suami menikmati uang kiriman, dan ketika kembali ke kampung halaman tidak sedikit buruh migran itu diceraikan oleh suaminya. Lagi-lagi mereka adalah “Janda Malaysia”.

 

perempuan memilih menjadi pekerja migran karena lapangan pekerjaan di desa yang semakin sedikit

 

Migrasi : Perlawanan Budaya atau Bebas dari Kemiskinan ?

 

Migrasi dalam kasus perempuan Sasak merupakan bentuk perlawanan dan pelarian kaum perempuan Sasak atas konstruksi dan budaya patriarki yang mengekang kreativitas dan aktivitas mereka sehari-hari khsusunya di ranah publik. Perempuan ditempatkan pada ranah privat mengurus urusan rumah tangga. Melalui migrasi ini mereka mendapatkan kebebasan dan kemerdekaannya di negara-negara lain yang tidak akan pernah diperoleh di kampung mereka sendiri akibat kontrol sosial dan keluarga yang ketat memelihara tradisi dan budaya lokal. Meskipun terdapat berbagai persoalan sosial yang mereka hadapi di tempat bekerja yang baru, akan tetapi kebebasan ekspresi individual dan upaya melepas diri dari jeratan kultural dapat tercapai ketika keluar dari daerahnya dan bekerja di negeri tersebut.

Tapi di sisi lain, pilihan perempuan Sasak menjadi buruh migran tak lepas dari dominasi laki-laki. Lombok masih kuat budaya patriarki. Itu tercermin dalam setiap siklus hidup, peran laki-laki begitu dominan. Selain dominasi laki-laki, lebih spesifik lagi dominasi kalangan (laki-laki) bangsawan (Kumbara : 2011) .

Budaya patriarki yang kuat di Lombok membuat perempuan tidak banyak memiliki pilihan. Tidak sedikit buruh migran perempuan dipaksa menjadi tenaga kerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Di luar negeri, para buruh migran perempuan memiliki kebebasan dalam artian mereka tidak terlalu dikekang tradisi. Mereka tidak ada tuntutan untuk merarik kodeq (menikah muda), tidak ada tuntutan menjadi ibu rumah tangga. Di luar negeri mereka bisa mengatur sendiri keuangan, walaupun ada tanggung jawab untuk mengirim ke keluarga di kampung halaman.

NTB dikenal sebagai daerah distributor TKI terbesar kedua Indonesia setelah Jawa Timur yakni 46.187 orang per tahun. Mayoritas TKI adalah penduduk yang berdomisili di Lombok mencapai 44.500 orang, sisanya dari kepulauan Sumbawa 1000 orang. Lombok Timur, Tengah dan Utara mendistribusi TKI paling besar disebabkan tingginya tingkat kemiskinan di tiga daerah ini. Ini juga terlihat dari rendahnya IPM di Lombok Utara, Tengah dan Timur yang menempati rangking ke 10, 9 dan 8 dari 10 kabupaten di NTB. Pada awalnya yang menjadi buruh migran adalah kaum laki-laki yang kesulitan mengembangkan ekonomi keluarga mereka, namun dalam perkembangannya buruh migran perempuan atau yang lebih dikenal dengan TKW juga ambil bagian dengan berbagai macam alasan dan latarbelakang sosial-ekonomi.

Jumlah TKW dari NTB terus meningkat dari tahun ke tahun dimulai sejak tahun 1996an. Menurut data BPS Provinsi NTB bahwa pada tahun 2015 jumlah TKW mencapai angka 9.968 orang. Angka ini sangat tinggi dan kontras dengan tradisi Sasak yang menempatkan perempuan pada posisi yang “taboo” bekerja di wilayah publik jauh dari rumah dan keluarga. Sedangkan di Indonesia jumlah TKW lebih banyak dibanding TKI laki-laki dalam priode 2011-2014. Menurut data BNP2TKI, penempatan TKI tahun 2011 sebanyak 586.802 orang, terdiri dari 376.686 TKI perempuan (64 persen) dan 210.116 TKI laki-laki (36 persen). Tahun 2012 sebanyak 494.609 TKI, terdiri dari 279.784 TKI perempuan (57 persen) dan 214.825 TKI laki-laki (43 persen). Tahun 2013 sebanyak 512.168 TKI, terdiri dari 276.998 TKI perempuan (54 persen) dan 235.170 TKI laki-laki (46 persen). Tahun 2014 sebanyak 429.872 TKI, terdiri dari 243.629 TKI perempuan (57 persen) dan 186.243 TKI laki-laki (43 persen).

Pilihan sebagai buruh migran berarti memilih hidup di tempat yang serba baru baik dari segi bahasa, budaya, makanan dan hukum. Hidup di negara orang lain membutuhkan adaptasi baru mulai dari penguasaan bahasa, budaya dan juga penguasaan undang-undang negara. Para TKW seharusnya menguasai unsur-unsur tersebut sebelum berangkat ke tempat bekerja yang baru sehingga tidak akan menghadapi persoalan berat. Namun kenyataannya sebagian dari mereka tidak mau belajar dan nekat untuk berangkat tanpa dibekali dengan pengtahuan dan skill yang cukup. Mereka tidak mempunyai kiinginan yang kuat untuk belajar tentang itu karena faktor lingkungan yang lemah dalam tradisi membaca dan menulis.

TKI maupun TKW Indonesia tidak mempunyai banyak pilihan dalam pekerjaan di luar negeri karena minimnya pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Tingkat pendidikan para TKI dan TKW umunya tidak sampai sarjana, lebih banyak tamatan SD, SMP dan SMA. Menurut BNP2TKI, dari angka penempatan TKI tahun 2014 sebanyak 429.872 orang yang lulusan SD sebanyak 138.821 orang (32,29 persen), lulusan SMP 162.731 orang (37,86 persen), lulusan SMU 106.830 orang (24,85 persen, lulusan Diploma 17.355 orang (4,04 persen), lulusan Sarjana 3.956 orang (0,92 persen), dan lulusan pascasarjana 179 orang (0,04 persen).  Bahkan ada yang buta hurup tidak bisa membaca dan menulis, namun karena semangatnya luar biasa mencari rezeki dia berani berangkat keluar negeri menjadi buruh migran. Pilihan pekerjaan mereka pada umumnya adalah pembantu rumah tangga bagi kaum migran perempuan, sedangkan laki-laki bekerja di daerah perkebunan kelapa sawit dan karet.

 

di luar negeri bekerja sebagai pekerja rumah tangga, di desa menjadi buruh kasar

Mayoritas TKW Indonesia berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dan hanya sebagian kecil yang bekerja di sektor jasa dan industri. Negara-negara di Asia Tenggara yang banyak menggunakan jasa PRT seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Sedangkan di luar itu adalah negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Suriah, Qatar dan Uni Emirat Arab. Yang menarik adalah negara-negara yang menerima jasa PRT adalah negara-negara bekas kerajaan Islam, di mana tradisi perbudakan adalah bagian dari kultur kerajaan tersebut. Profesi pembantu rumah tangga (PRT) dipilih karena tidak membutuhkan skill, dan umumnya perempuan dewasa mampu melakukan hal tersebut. Padahal menurut saya PRT adalah pekerjaan yang tidak mudah karena tanggung jawabnya begitu besar tidak hanya tentang keselamatan anak, tetapi juga pendidikan dan pembelajaran terhadap bayi dan anak-anak yang diasuh. Bukan rahasia umum jika PRT lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak yang mereka asuh dibanding ibu kandungnya. Karena PRT tinggal bersama keluarga, mereka harus memahami tradisi dan aturan-aturan di internal keluarga supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Narasi Kekerasan Buruh Migran Perempuan Sasak

Sebagian besar buruh migran perempuan yang bekerja sebagai PRT tidak lebih dipandang sebagai budak, yang diperlakukan semena-mena bekerja tanpa batas waktu. Mereka dipekerjakan sesuai keinginan majikan, dan apabila menentang atau melawan perintah majikannya TKW takan mengalami diskriminasi dan kekerasan fisik maupun seksual. Dapat dikatakan bahwa migrasi adalah perbudakan modern yang dilegalkan oleh negara. Negara tidak dapat berbuat banyak untuk melindungi keselamatan TKW dari kekerasan dan penipuan oleh agen PJTKI dan majikan. Cerita sedih dan menyakitkan buruh migran khususnya para TKW terus bermunculan dengan beragam kasus menimpa mereka. Sebagian dari mereka menerima kekerasan fisik seperti pemukulan, pembakaran dengan putung rokok, distrika, tidak memberikan gaji, pelecehan seksual, pemerkosaan dan pembunuhan. Kasus ini terjadi menimpa TKW di berbagai negara baik di negara-negara berpenduduk Muslim Timur Tengah dan Asia dan negara non Muslim dengan pola yang berbeda-beda. Kisah KH dibawah ini bisa menjadi potret runyamnya persoalan yang menimpa buruh migran perempuan.

KH berangkat mengadu nasib ke Qatar. Wanita dari Desa Jenggik Utara, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur ini berangkat melalui perusahaan resmi, tanggal 14 Maret 2010. Dua tahun bekerja,tidak ada masalah. Dia tetap mengirim uang ke rumah. Uang itu masuk ke rekening suaminya.

Pada 11 April 2012, bencana itu datang. Ketika majikan perempuannya keluar rumah, saat itulah kehormatannya dijamah majikan lelakiknya. KH positif hamil.Sang majikan yang takut ketahuan langsung mengirim KH pulang. Keluarga majikannya ingin menutupi aib. KH berbicara jujur apa adanya pada keluarga, jika dia sudah berbadan dua. Dan pada akhirnya, anak itu pun lahir, dengan wajah “Arab”.

Walaupun sang suami tidak menceraikan KH, namun bahtera rumah tangga mereka tidak pernah akur. Selalu terjadi keributan. Anak lelaki berwajah “Arab”  itu selalu menjadi tumpuan kemarahan. Batin KH tertekan. Dua tahun dia mencari nafkah untuk keluarganya, untuk suaminya, namun ketika dia mendapat musibah bukannya pertolongan didapatkan. Namun cibiran yang menyakitkan. Hingga kini persoalan KH belum selesai. Pihak keluarga belum sepenuhnya mau menerima. Sementara anaknya itu hingga kini belum mendapatkan status jelas, yang dituangkan dalam akte kelahiran.

Nasib KH sedikit lebih baik. Nasib tragis buruh migran perempuan korban pemerkosaan dialami AS. AS adalah buruh migran perempuan dari Desa Suralaga, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur. Saat pulang ke kampung halaman AS dalam kondisi berbadan dua. Suami dan keluarga dari pihak suami tidak menerima kondisi AS. Padahal selama ini mereka cukup lama menikmati uang kiriman AS selama menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi.

 

banyak pekerja migran perempuan yang mendapat perlakuan kekerasan

AS pulang dengan menutup wajah. Malu. Disamping itu, cibiran tetangga dan kerabat suaminya membuatnya tidak tahan. AS akhirnya minggat, dia pergi ke kelurganya ke Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, sekitar 7 km dari kediamannya. AS pun melahirkan di desa itu, kini buah hatinya yang berwajah “Arab” itu tinggal di kerabatnya.

Dua contoh kasus tidak bisa dilihat dari satu kacamata semata. Bagi orang Arab, masih ada pandangan pembantu rumah tangga adalah budak. Pandangan sempit mereka tentang Islam, menafsirkan budak boleh digauli. Padahal di kalangan para pemikir muslim, mengauli budak tanpa ikatan sah itu tak lain pemerkosaan. Begitu juga pandangan sebagian orang Arab bahwa pembantu rumah tangga adalah budak sudah lama dikoreksi. Relasi yang tidak seimbang antara hubungan laki-laki dengan perempuan yang diklaim sebagai ajaran Islam sudah banyak dibongkar para sarjana muslim. Salah satunya adalah Khaled M Abou El Fadl (2004) yang membongkar praktek merendahkan perempuan yang didasarkan pada pandangan agama. Padahal, menurut El Fadl, beberapa dalil yang digunakan itu tidak tepat dan salah penfasirannya.

Kisah selanjutnya adalah IR. Desakan ekonomi pula yang membuat IR  untuk berangkat ke Saudi Arabia. Ibu dua anak ini makin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sawah beberapa petak yang dimiliki suaminya tidak mampu menghidupi kebutuhan anak-anak mereka yang beranjak besar.

IR yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) akhirnya luluh hatinya berangkat ke negeri jauh itu. Berangkat melalui jalur resmi, dia beruntung mendapatkan majikan yang baik. Gajinya sebagai pembantu rumah tangga cukup untuk menghidupi keluarga di rumah. Dalam perencanaannya, uang hasil kiriman itu juga akan dipakai untuk membangun rumah, yang selama ini mereka idam-idamkan.

Suaminya, HMD, mulai menikmati hasil jerih payah istrinya itu. Rencana mereka untuk membangun rumah, dibicarakan ke sang istri, melalui telepon. Sang istri mulai menyisihkan gajinya untuk ditabung, sebelum dikirim ke kampung halamanan, Desa Suragala, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur.

Kiriman pertama, dia langsung mentransfer Rp 30 juta. Uang itu untuk membeli material, dan bayar tukang. Maklum rumah yang akan mereka bangun tidak besar. Sederhana, seperti rencana semula mereka.

Di luar uang itu, dia juga mengirim rutin uang belanja bulanan, secukupnya. IR memang sengaja menyisihkan gajinya agar kiriman lebih besar.Berikutnya IR mengirim Rp 19 juta. Uang itu dipesan untuk tambahan rumah. Dengan Rp 49 juta, dia merasa cukup untuk rumah sederhana.

Saban hari, selain mengirim uang untuk rumah itu, IR masih tetap mengirim belanja harian. Walaupun suaminya bekerja serabutan dan memiliki sawah, tidak cukup banyak untuk hidup bertiga, sang suami dan dua anaknya.  Suatu hari, masa kontraknya segera berakhir. IR pun diizinkan pulang oleh majikannya. Membawa sedikit oleh-oleh. Terbanyang di benak IR rumah mungil mereka, dua anak, dan suami yang akan menjemput.

IR mulai merasa tidak nyaman ketika sampai di rumah. Ketika dijemput keluarganya, dia justru langsung dibawa ke rumah orang tuanya. Padahal hari itu, hari pertama dia melihat kampung halaman, ingin melihat rumah hasil jerih payah selama di Arab Saudi.Ibarat disambar petir di siang bolong. Bukan kebahagiaan didapatkan IR ketika pulang kampung. Dari keluarganya, IR mendengar langsung : suaminya tidak pernah membangun rumah. Uang kiriman selama ini dipakai suaminya untuk hidup bersama istri barunya. Ya, uang membangun rumah itu, digunakan sang suami untuk menikah lagi.Sementara dua anaknya,lama dititip di kakek-nenek mereka.

Kasus IR dan suaminya ini pernah dilaporkan di pemerintah dusun. Kasus tersebut harus diselesaikan secara adat. Akhirnya dalam proses perjalanannya, para tokoh masyarakat mendesak HMD mengembalikan uang kiriman untuk membangun rumah. HMD pun menjual tanah sawahnya. IR bisa mendapatkan sebagian uang yang pernah dikirim. Tapi sakit hatinya tidak terbayarkan.  Lelaki seperti HMD itubukan satu-satunya. Masih di desa yang sama, dampingan Rauhul juga mengalami nasib yang sama. Dia diminta sang suami untuk berangkat menjadi TKW ke Arab Saudi. Rutin mengirim uang untuk suami, dengan alasan belanja anak dan membangun rumah. Tapi rupanya sang suami memakai uang itu untuk berpoya-poya lagi.

Para “lelaki parasit” ini menjadi persoalan pelik. Masalah itu masuk dalam ranah pribadi rumah tangga. Kadang sulit untuk mengadvokasi. Pihak keluarga beralasan, tidak ada salahnya lelaki menikah lagi. Ketika kasus ini mencuat, solusi yang diambil, lelaki itu menceraikan istri tua yang selama ini memberikan mereka makan. Kasus yang paling parah, ada lelaki yang memiliki tiga istri. Dia rutin mengirim dua orang istrinya ke luar negeri untuk mencari nafkah. Sementara satu istri diam di rumah, khusus untuk melayani kebutuhan biologisnya. Ketika salah seorang istri akan kembali ke Lombok, maka dia menyiapkan istri yang selama ini menemani tidur untuk menggantikannya menjadi buruh migran Dia menjaga ritme, dua istri mencari uang ke luar negeri, satu istri memenuhi hasrat biologisnya.

Kasus-kasus di atas hanya sebagian kecil dari kasus nestapa menimpa buruh migran asal Indonesia dan Lombok khususnya. Masih banyak kasus yang belum terungkap oleh media dan tidak semua TKW berani menceritakan pengalamannya. Di balik kasus-kasus kekerasan ini, banyak juga yang berhasil menjadi buruh migran. Bukan rahasia umum TKI Indonesia penyumbang devisa yang tidak kecil bagi Indonesia mencapai 100 Triliun per tahun dan tembus 144. 95 tahun 2015. Sedangkan di NTB devisa TKI mencapai angka 113 Miliar, Lotim sendiri diperkirakan 55 Miliar per tahun.

  

mantan TKW dilatih pengembangan usaha. mereka sangat jarang tersentuh program

Buruh Migran Perempuan Berjuang Lebih Keras

“Kalau suami saya kurang bagus hasil di Malaysia, saya ancam dia nanti saya yang akan gantikan dia berangkat”

Begitu penuturan mantan buruh migran perempuan yang lama mengadu nasib di Timur Tengah dari Desa Pesanggrahan. Mantan buruh migran ini bertahun-tahun mengadu nasib ke negeri kaya minyak untuk membiayai hidup anaknya. Hasil pernikahan pertama mereka dikarunia seorang putri. Dia ingin putrinya bisa bersekolah tinggi. Karena itulah dia menjadi buruh migran. Ketika pulang dari Timur Tengah, dia mampu membangun rumah, menikah kembali, lalu ditinggal lagi sang suami mencari ringgit ke Malaysia.

Sumnawatiumur (43) adalah mantan buruh migran perempuan atau yang lebih dikenal dengan istilah TKW (tenaga kerja wanita) pertama yang mewakili generasi kedua dari kaum perempuan yang berangkat pada tahun 1999. Tidak ingin mengalami nasib menjadi korban trafficking/perdagangan orang, dia memilih menjadi TKW melalui jalur resmi. Tetapi setelah menunggu selama kurang lebih 9 bulan belum juga ada kejelasan kapan keberangkatannya. Sementara Sumnawati sudah menanggung banyak utang untuk biaya pengurusan paspor,medical check-up dan biaya transportasi. Terbebani utang itu, dia memutuskan untuk berangkat melalui jalur semi legal masuk dengan visa melancong.

Setelah menyerahkan uang sebesar Rp.12.000.000,-(masing-masing Rp. 6.000.000,-) bersama suami ke tekong, Sumnawati dan suami diberangkatkan dari rumah menuju terminal bus Mandalika Mataram menuju Surabaya. Dari Surabaya menuju Tanjung Pinang dengan menempuh perjalanan tiga hari empat malam.Selama di Tanjung Pinang mereka ditampung selama tiga hari lalu diberangkatan ke Malaysia Barat.

Di Malaysia,Sumnawati dan suami bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit. Selama di Malaysia, Sumnawati kerap pindah kerja mulai dari sebagai pengutip biji kelapa sawit, penabur pupuk kelapa sawit dan terakhir sebagai pembantu rumah tangga bekerja.Murahnya gaji menjadi faktor di samping kurangnya ketersediaan lapangan kerja yang ada sehingga membuat penghasilan Sumnawati nyaris tidak ada. Sumnawati hanya mampu mengirim uang ke keluarganya (orang tuanya) tiga atau empat bulan sekali. Itu pun jumlahnya sangat jauh dari kata cukup untuk membiayai keluarganya di rumah.

ketika pulang, mereka menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga

Selama dua tahun di Malaysia, Sumnawati dan suami hanya mampu bayar utang dan membiayai anak sekolah.Cita–cita untuk membangun rumah harus ia lupakan karena Sumnawati dihinggapi rasa rindu kampung halaman. Sumnawati pun memutuskan pulang di pertengahan tahun 2002 melalui jalur gelap karena memang visa sosial yang dimiliki Sumnawati hanya berlaku satu bulan.Untuk biaya pulang Sumnawati memakai upah yang ia dapatkan selama satu bulan ditambah dengan uang hasil simpanan yang ia sisihkan karena untuk pulang Sumnawti membutuhkan biaya sebesar RM 1.500,- atau sekitar 4,5 juta rupiah, belum termasuk biaya makan dan keperluan selama dalam perjalanan.

Setelah sampai di kampung halamannya Sumnawati tidak bekerja sehingga sisa ongkos dan tabungan yang sudah ada dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya anak sekolah.Praktis Sumnawati hanya mengharapkan kiriman dari suami sebagai biaya kehidupan sehari-hari dan untuk keperluan anak-anaknya. Keadaan ini yang kemudian memaksa Sumnawati masuk ke Malayasia pada tahun 2014 masih dengan cara yang sama sebagai TKW ilegal memalui jalur Setulang dengan ongkos sekitar Rp 4,5 juta rupiah.

Di negara tujuan ini, Sumnawati kembali bekerja menjadi pembantu rumah tangga dengan gaji RM 800 per bulannya dengan durasi kerja hampir 12 jam kerja mulai dari jam 5 pagi sampai jam 12 malam. Walau demikian,Sumnawati berusaha demi membantu suami dan anak-anaknya dan demi sebuah kehidupan yang lebih baik.

Akhir tahun 2015, Sumnawati memutuskan pulang mengingat kondisi Malaysia yang sudah tidak nyaman lagi bagi pendatang tanpa izin sepertinya. Karena selama menjadi pendatang asing yang tidak memiliki izin kerja yang sah sumnawati sering mengalami ketakutan dan kekhawatiran dari ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia. Untuk menghindari hal itu, atas saran suaminya, Sumnawati pun disuruh untuk pulang sebelum pihak kepolisian Malaysia menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara. Kini pasca kepulangannya, Sumnawati hidup sebagai buruh untuk memmenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya sambil mengharapkan uang kiriman dari sang suami yang masih bertahan di Malaysia.

Kisah para buruh migran perempuan lebih tragis lagi. Tak sedikit yang menjadi korban tindak perdagangan orang. Mereka ditipu, dijanjikan ke suatu negara A, tapi dikirim ke negara B yang tak mereka pernah dengar. Ada yang dikirim ke Suriah ketika negara itu berkecamuk. Tak sedikit pula, buruh migran perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, ditipu suami mereka. Uang kiriman mereka dipakai untuk biaya menikah kembali suami di kampung halaman. (*)

 

 

 

 

 

Previous post

Apa Pekerjaan Orang Indonesia di Australia ?

Next post

Kerja Sama dan Solidaritas Antar Warga dalam Gempa Lombok

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *