HumanioraTeaser

NW MENGUAK TABIR MENGUBAH TAKDIR

Salman Faris *

 

Bismillah. Sebelum lebih jauh mendiskusikan buku yang berjudul Nahdlatul Wathan di Era Reformasi: Agama, Konflik Komunal, dan Peta Rekonsiliasi karya ilmiah Saipul Hamdi, terlebih dahulu disampaikan bahwa pertama, NW harus berani membaca buku ini lalu menerimanya sebagai sebuah karya ilmiah, yang sudah melalui proses keilmiahan. Meskipun terjadi perbedaan pendapat, tetapi upaya penyeimbang harus dilakukan dengan cara sebanding, yakni disampaikan secara ilmiah pula. Kedua, NW harus secara jernih, arif  bijaksana, dan penuh nilai keilmuan dalam melihat persoalan yang dikemukakan pada buku ini. Dengan seperti itu, NW diharapkan dapat menerima persoalan tersebut sebagai sebuah fakta sejarah agar lebih cepat mengonstruksi langkah derap NW di masa mendatang. Dengan kata lain, NW tidak perlu merasa terganggu oleh isi buku ini, melainkan harus dikonstruksi menjadi modal besar membangun masa depan karena hanya orang dan masyarakat besar yang ditimpa oleh persoalan besar: jika Tuhan tidak memuliakan NW, maka NW akan dibiarkan mengalir di sungai berair tenang sehingga tidak kunjung matang dan tidak berkembang. Gejolak badai yang ada ialah tanda bagi nalar kritis dan hati tenang nan jernih. Semestinya.

Ketiga, NW harus berani menerima perbedaan pandangan, pendapat, hingga pendekatan analisis tafsir karena semakin multi perbedaan tersebut semakin majemuk juga modal NW dalam menabur bintang kejayaan. Selain itu, munculnya kekayaan perbedaan menunjukkan bahwa semakin bermunculan intelektual NW, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Dengan demikian, di tingkat wacana dan ilmu pengetahuan yang lebih luas NW sudah mendapatkan posisi yang layak. Perlu direnungkan bahwa sikap resistensi tidak bertuan pada saat perbedaan pendapat terjadi justru kontraproduktif dengan rancang bangun masa depan NW. Maka, NW harus bisa menata dan mengelola perbedaan tersebut kemudian mematangkan diri dalam kibaran ribuan warna yang diikat dalam kesatuan “Iman dan Taqwa” sebagai airbus istimewa NW menyongsong segala zaman. Dalam konteks ini, munculnya buku Hamdi justru dapat menjadi layar terkembang, barokah luar biasa, yang akan menyadarkan NW betapa pentingnya mengonstruksi sejarah secara cerdas, membangun wacana kontsruktif, dan menciptakan strategi perkumpulan. Sebaliknya, betapa tidak beruntungnya menolak dan menutup sejarah. Selain itu, betapa pentingnya merayakan perbedaan sudut pandang melihat sejarah dan masa depan NW dalam rangka mencerdaskan masyarakat agar mereka mampu terus berlayar di tengah deru debu lahap api zaman, tidak terus terikat dalam kontaminasi mitos mitis dan paham feodalistik.

Selanjutnya, untuk menutup kata pengantarnya, Hamdi menegaskan bahwa penggalian penyebab konflik NW secara mendalam dilakukan untuk menemukan solusi terbaik dalam pandangan ilmiah. Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk kesadaran intelektualitasnya yang lahir dari rahim dan dibesarkan dalam tradisi NW. Penegasan ini ingin memantik gagasan bahwa NW masa depan adalah NW yang tidak secara formal menunggalkan atau menyeragamkan intelektual NW. Bagi Hamdi, NW masa depan ialah NW yang bisa menjadi rumah demokratis bagi semua kelompok intelektual. Dengan kata lain, baik intelektual NW  positivis, kritis, maupun intekelektual liberal mesti diakomodir secara sehat karena apa pun aliran pemikiran intelektual tersebut, mereka tetap menjadi kekayaan NW. Intelektual tersebut merupakan sumber gerakan dan pemikiran brilian dalam rangkan NW menciptakan lintasan sejarah yang diperhitungkan. Dengan intelektual NW positivis, NW dapat menjaga dan mewariskan tradisinya yang asli, NW tekstual, yang sudah diletakkan secara kokoh oleh pendirinya. Sementara intelektual kritis akan mengantarkan NW mampu membaca gagasan zaman sehingga kontekstualisasi NW terus berkembang. Intelektual kritis inilah yang menakhodai zaman agar NW tetap berterima oleh semangat zaman. Sedangkan intelektual liberal akan membawa NW mampu mendobrak kebekuan langkah lalu membongkar setiap rahasia masa depan. Paradigma NW yang inklusif, yang terbuka terhadap segala jenis arus zaman akan diantarkan oleh intelektual kritis dan liberal ini. Untuk tetap menjaga ritme “Iman dan Taqwa”, diperlukan intelektual positivis. Maka bagi Hamdi, tidak ada alasan bagi NW untuk menciptakan psikologis anak tiri, anak kandung, dan anak emas dalam memberdayakan intelektual NW.

Buku karya Dr Saipul Hamdi, kader muda NW

Salah satu gagasan kunci buku ini adalah pendedahan Hamdi terkait kronologi konflik yang terjadi di NW. Dengan mengutip sejumlah penelitian ilmiah sebelumnya, Hamdi berteori bahwa konflik NW merupakan akumulasi konflik yang berkepanjangan. Puncak dari proses rentetan sejarah panjang perebutan kekuasaan yang melibatkan elite-elite NW (hal. 68). Ada dua pemikiran kunci dalam hal ini, yakni konflik NW yang terbarukan merupakan anak kandung konflik yang sudah mendarah daging. Hal lain adalah pemicu konflik tersebut adalah kehendak kekuasaan yang menggelapi elite-elite NW. Perlu dilihat, mendarahdagingnya konflik di NW menunjukkan bahwa NW bukan organisasi kampung melainkan organisasi besar yang di dalamnya terdapat aset sosial, aset budaya, aset kapital, hingga aset kuasa. Hanya saja, membiasnya konflik tersebut hingga sulit menemukan ujung sebagai tanda pula bahwa NW belum memiliki tradisi kuat dalam meresolusi konflik. Hal ini menunjukkan pula bahwa NW membangun tradisi sentralistik pada figur tertentu sehingga begitu terjadi turbulensi sosial zaman, NW mengalami kesulitan mengonstruksi software ideologi dan hardware perkumpulan atau organisasi.

Lebih jauh lagi, Hamdi mengungkapkan bahwa ada empat akar konflik (hal. 93-95), yakni poligami, kekuasaan, gengsi dan legitimasi, dan ekonomi. Poligami tidak hanya dipahami dalam pandangan hukum Islam, namun lebih jauh daripada itu, yakni digunakan untuk menelaah budaya kuasa di NW. Poligami digunakan Hamdi untuk melihat bagaimana manajemen sosial dan organisasi NW yang masih banyak menerapkan sekali mendayung perahu dua tiga pulau terlampaui. Misalnya, ketika ketua yayasan yang juga sekaligus menjadi kepala madrasah yang bernaung di bawah NW sehingga sulit dihindari manajemen pengakomodasian keluarga pun terjadi. Bagi Hamdi, sebagai organisasi modern, NW perlu melakukan redesign paradigma dan manajemen semacam ini. Karakter inilah yang menimbulkan akar konflik kedua karena pada akhirnya muara poligamitas sosial itu ialah sebagai bagian dari pemerolehan dan pengekalan kekuasaan. Meskipun kekuasaan tidak dipahami sebagai kuasa politik semata, tetapi Hamdi melihat, dengan memiliki sedikit saja wewenang, seseorang dapat memeroleh kekuasaan yang besar.

Budaya kuasa, selanjutnya akan melahirkan mentalitas feodalistik, di mana sang pemilik kuasa memandang dirinya sebagai orang yang boleh melakukan apa saja tanpa memegang asas demokrasi dan hak asasi kemanusiaan atau kesetaraan dengan orang lain. Sementara itu, orang lain dipandang sebagai murid, pesuruh, rakyat, dan sekelompok orang yang hanya berhak memeroleh perintah. Budaya kuasa semacam inilah yang disorot Hamdi sebagai surga yang mesti diperjuangkan dan ketika kuasa tersebut berada di tangan, mesti dipertahankan oleh yang bersangkutan sehingga yang terjadi adalah subordinasi sosial. Paradigma pemilik kuasa semacam inilah yang telah menimbulkan konflik karena pada akhirnya, pusat aktivitas tidak lagi dalam pengembangan perkumpulan, tetapi terpusat pada kontestasi dalam rangka melanggengkan atau merebut kekuasaan. Perkumpulan hanya menjadi modus bagi jalan mulusnya kehendak pribadi. Akibatnya, tidak ada ruang yang representatif dan sehat, yang dapat digunakan sebagai media rekonsiliasi karena pihak yang merasa berkuasa didorong untuk mempertahankan kekuasaan sedangkan pihak yang merasa dikuasai terus-menerus melakukan resistensi, baik secara perorangan maupun berkelompok. Baik secara terang benderang maupun sembunyi.

Pertarungan memeroleh kekuasaan itulah yang dipandang Hamdi sebagai upaya untuk memeroleh gengsi dan legitimasi. Bagi Hamdi, kekuasaan tidak lagi berkutat pada media memerintah, tetapi juga sebagai media gengsi. Di sinilah poligami tersebut menemukan titik temunya, yakni bagi petarung yang memeroleh kemenangan, mereka langsung mendudukkan diri sebagai keturunan yang lebih bergengsi dibanding orang lain. Dengan seperti itu, mereka pun secara langsung memeroleh legitimasi untuk menilai diri lebih tinggi sedangkan orang lain lebih rendah. Kekuasaan yang bersifat absolut, pada akhirnya, menurut Hamdi, tidak lain tidak bukan tujuan besarnya adalah bukan nilai dan spiritualitas, melainkan ekonomi.

Dalam pandangan Hamdi, sebagai organisasi yang besar, yang memiliki aset sosial dan kapital yang mapan, NW tidak dapat dikembangkan sebagaimana cita-cita pendirinya dalam situasi yang terus-menerus berkontestasi. Terutama karena kontestasi yang diperlihatkan tidak sehat dan menjurus kepada pelemahan terhadap wibawa organisasi dan kepentingan jamaah. Hal ini semakin disimpangsiurkan oleh munculnya akar konflik yang bersumber dari eksternal, yakni elite-elite politik yang tidak berafiliasi ke NW. Bacaan Hamdi menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di NW sengaja dikelola oleh politisi handal agar mereka memeroleh kesempatan untuk mencapai puncak kekuasaan politik. Hal ini dilakukan agar NW terus-menerus berada dalam keterpecahaan, kemudian situasi itu digunakan untuk mereka bermain di air yang keruh. Dalam hal ini, Hamdi menegaskan bahwa akar konflik internal dan eksternal telah menempatkan NW berada dalam ruang terjepit. Di satu sisi, di internal sendiri, ada arus yang mendorong NW mampu menguak tabir untuk dapat mengubah takdir, namun ada juga arus yang memang sengaja mengeruhkan air sehingga akar konflik eksternal mengambil peran yang cerdik justru pada arus yang keruh tersebut. Dengan seperti itu, arus yang berair jernih justru terbelokkan ke arah lain. Misalnya tampak pada diskusi-diskusi yang diprakarsai oleh intelektual NW kritis, yang mengembangkan wacana revolusi berpikir agar NW segera menemukan senjata jitu untuk menguak tabir lalu mengubahnya menajdi takdir yang gemilang. Sebagai gerakan subordinat, intelektual kritis ini tidak berada di antara konflik mana pun. Mereka hanya berdiri di tengah kemurnian kesadaran ajaran pendiri NW yang mengokohkan diri dengan nilai “Iman dan Taqwa”. Nilai inilah yang menjadi azimat mereka untuk membongkar nalar feodalistik agar NW sebagai organisasi mampu bersaing dengan organisasi besar lainnya, yang sudah jauh hari membumihangusngkan mentalitas feodalistik. Namun sebagai gerakan subordinat, justru intelektual kritis harus berhadapan dengan aktor yang memang sengaja mengambil peran strategis dalam mengekalkan konflik NW. Aktor mainstream ini kemudian menciptakan stereotipe kelompok intelektual kritis sebagai paham kiri.

Bangunan Ponpes NW di Pancor masih terlihat tradisional

Atas dasar itu pula, Hamdi kemudian menelaah aktor yang melakukan kontestasi (hal. 96-97). Baginya, seluruh warna konflik tersebut diperankan sekaligus disurtadarai oleh aktor. Ada empat kelompok aktor yang berperan, yakni kelompok keluarga dan kerabat pendiri NW, kelompok intelektual, kelompok tuan guru, dan kelompok masyarakat. Meskipun Hamdi dari awal menegaskan diri sebagai akademisi yang melihat seluruh bangunan konflik NW dari sudut pandang ilmiah, namun Hamdi sendiri belum leluasa menelaah aktor konflik dari kelompok keluarga. Hal ini dapat dipahami karena kelompok ini merupakan ruang domestik NW. Tampak bahwa Hamdi mengalami kesulitan dalam membangun kerangka ilmiah manakala teori diperhadapkan dengan ruang domestik NW sebagai fakta dan rekayasa sosial. Meskipun demikian, Hamdi tetap menyadari bahwa ruang domestik NW memiliki pengaruh besar terhadap ruang publik NW. Untuk itu, Hamdi mencoba melihat persoalan ini lebih pada bagaimana konflik ruang domestik tersebut dikonstruk sedemikian rupa agar dapat meminimalisir dampaknya ke ruang publik NW.

Dalam konteks intelektual sebagai salah satu kelompok aktor, penting ditegaskan bahwa pengategorisasian intelektual yang mengambil peran sebagai dirijen konflik ini terpusat pada kategori intelektual ortodok dan positivis. Intelektual NW yang lebih memilih keuntungan yang bersifat pragmatis dengan menjebak diri ke dalam ruang sempit bernama penistaan terhadap intelektualitas mereka. Sikap intelektual semacan ini tercemin pada sikap mereka yang justru terbawa arus konflik. Misalnya, mereka juga mengubukan diri sebagai NW1 dan NW2. Mereka kemudian mengambil peran sebagai pencipta wacana dalam rangka mengokohkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan NW sebagai organisasi. Bagi intelektual jenis ini, NW merupakan perahu lepas yang akan dijadikan sebagai alat untuk memeroleh nikmatnya kuasa. Begitu butanya sang intelektual “cidomo” ini, mereka tidak peduli, tidak mau menyadari, bahkan dengan penuh kesadaran menutup logika mereka untuk melihat bahwa kuasa yang mereka peroleh berjenis kuasa yang sebenarnya berada jauh dari lingkaran pusat kuasa. Target mereka sederhana sehingga cenderung memalukan, yakni sekadar menjadi “kusir” pusat kuasa.

Kelompok intelektual ini, bagi Hamdi, rela mengorbankan nilai besar NW, “Iman dan Taqwa” hanya untuk bermain di arena kontestasi bernama madarasah dan perguruan tinggi NW. Mereka memilih mengubukan diri ke NW1 atau NW2 hanya untuk mempertahankan posisi menjadi dosen, guru, atau kursi politik, misalnya. Mereka tidak mengambil peran sebagai pencerah, sebagai pendobrak kebekuan menahun, sebagai orang yang selalu mewacanakan kemurnian pemikiran pendiri NW yang anti berpikir kecil, anti bersikap sektoralistik, anti mengerdilkan diri demi sepiring nasi dan sebuah kursi. Justru intelektual semacam inilah yang dengan intelektualitas yang mereka miliki meruntuhkan bangunan ajaran besar pendiri NW tentang bagaimana NW mampu mengambil peran dalam setiap pembangunan Indonesia dan dunia. Mereka menapikan gagasan pendiri NW yang mengajarkan bagaimana intelektual NW menyebar ke seluruh penjuru agar NW memberi manfaat bagi pembangunan dunia. Justru yang mereka pilih adalah berkontestasi di madrasah kecil di pedesaan terpencil, di masjid pedesaan, dan perguruan tinggi NW sehingga mereka tidak fokus pada pembangunan dan pengembangan madrasah dan peguruan tinggi NW, melainkan mematrikan diri pada bagaimana mengekalkan kekuasaan yang sebesar biji “ciput” itu. Pada akhirnya, intelektual NW semacam inilah yang beperan menjadi kacung, yang hanya berpikir “yang penting bos senang”. Sikap yang sangat diantikan oleh pendiri NW.

Aktor lain ialah tuan guru. Hamdi melihat bahwa telah terjadi disorientasi pada figur agama karena peran mereka sangat besar dalam menciptakan arus konflik. Penyandingan doktrin agama dan kepentingan kuasa, bagi Hamdi, cukup membahayakan apabila tuan guru secara aktif menjadi aktor karena tuan guru dalam budaya NW merupakan segala warna masyarakat. Tuan guru yang menjadi etalas jiwa dan raga masyarakat. Namun bagi, Hamdi, peran mereka sebagai salah satu kelompok konflik, akhirnya menimbulkan pengubuan besar di tengah masyarakat. Dengan begitu, mau tidak mau, masyarakat di tingkat bawah pun menjadi kelompok aktor yang juga membentuk lingkaran konflik di NW semakin membumi.

Akar dan aktor konflik di atas menunjukkan bahwa konflik di NW telah melilit dari segala penjuru dan hampir pada setiap ruang waktu. Hal ini dikarenakan oleh peran aktor yang merepresentasikan hampir semua lapisan masyarakat. Bagi Hamdi, seluruh konflik itu tidak ada yang bersifat ideologis, melainkan semuanya dibungkus oleh pragmatisme. Hal ini juga menunjukkan bahwa kelompok yang mengambil peran pencerah di NW masih terbilang sedikit. Dengan kata lain, kelompok intelektual kritis yang menumpukan gerakan pencerahan mereka pada “Iman dan Taqwa” harus muncul secara terus-menerus, apa pun risiko dan penentangan yang datang dari internal NW sendiri. Apabila hal ini muncul, maka skema kontstasi pada NW dapat dilihat pada tiga titik, yakni publik NW, domestik NW, dan jalan tengah yang diperankan oleh intelektual kritis. Namun demikian, peran intelektual kritis inilah yang mesti didorong agar selangkah demi setahap, konflik domestik dan publik NW semakin mengikis.

Gagasan rekosntruktif yang ditawarkan Hamdi sebagai salah satu upaya pengikisan konflik NW lebih tepat dimaknai sebagai pengarusutamaan intelektual kritis dan generasi baru NW yang masih relatif bersih dari virus konflik sebagai lokomotif perubahan. Kedua kelompok inilah yang nantinya akan membuat rancangan baru tata kelola NW yang sesuai dengan zaman sehingga NW berterima oleh siapa pun, kapan pun, dan di manapun. Gerakan pencerahan harus terus dilakukan karena Hamdi sendiri menyadari bahwa munculnya figur seperti Tuan Guru Bajang, Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A, misalnya, sebenarnya menjadi pemantik bagi lahirnya intelektual kritis dan generasi baru NW yang tercerahkan, yakni generasi NW yang berani meninggalkan dan mengabaikan setiap keburukan yang dapat merugikan NW dan lebih memilih terus melangkah menuju kemanfaatan NW untuk dunia. Di tengah konflik NW yang belum menemukan bunga tunjung di tepian kolam Segara Anak (sebagaimana yang diwejangkan oleh pendiri NW: dengar pengajian pendiri NW pada HULTAH NW tahun 1985), munculnya TGB, sejatinya telah membuka pintu baru bagi NW untuk merekonstruksi arah pengembangan. Untuk itu, bagi Hamdi, di era yang membutuhkan pencerahan ini, peran (para) TGB bersama intelektual kritis lainnya, termasuk tuan guru kritis harus dioptimalkan. Kemudian seluruh gerakan pencerahan mereka dikonstruk menjadi perjuangan rekonsiliatif ideologis yang berperahukan “Iman dan Taqwa”.

Langkah-langkah solutif yang ditawarkan Hamdi di akhir bukunya, diharapkan tidak hanya menjadi wacana teoretik semata. Untuk itu, buku ini semestinya dibaca oleh seluruh pemangku amanah di NW. Keberanian melepas dugaan dan kekhawatiran menjadi juru kunci. Mereka mesti yakin seluruh jamaah NW sudah menyadari bahwa mereka hidup di zaman baru, zaman modern, di mana setiap warna tidak hanya berkecambah melainkan tumbuh dan berkembang di manapun. Dengan seperti itu, pada dasarnya mereka sudah siap menyongsong perubahan kemajuan yang lebih progresif. Sekarang bola salju ada di tangan para pemangku amanah tersebut. Mesti cepat berpikir, bertindak, dan bersikap sebelum jamaah NW sudah benar-benar dikuasai oleh ideologi sinetron murahan yang setiap hari dan malam mereka tonton. Sebelum ideologi baru yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jamaah melingkupi mereka. Sebelum perubahan kemajuan benar-benar sulit digapai karena kerusakan sudah menggurita pada jiwa dan raga setiap jamaah NW yang selama ini menjadi pembela matia-matian pendiri NW dan ahlussunnah wal jamaah.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah.

Dr Salman adalah abituren, budayawan, seniman, dan seorang dosen. Menuli beberapa novel dan menjadi sutradara teater. Saat ini menjadi dosen tamu di UPSI Malaysia

 

Previous post

Diplomasi Sapi Australia – Indonesia

Next post

Inspirasi dari Sanggar Belajar Alam Daur

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *