Leisure

Pengalaman Jumatan di Darwin Australia

 

Saya berkesempatan sholat Jum’at di Darwin, Australia. Di negara bagian utara (Northern Teritory) ini umat Islam menjadi minoritas. Tapi tempat ibadah mudah dijumpai. Termasuk jika mencari makanan halal. Laporan ini pernah dimuat di koran Lombok Post saat saya mengikuti International Media Visit (IMV) 2017.

 

********

Pria bersurban itu menyapa ketika saya tiba di halaman Darwin Islamic Centre. Mengenakan batik, pria itu langsung menebak jika saya dari Indonesia. Dia menyapa menggunakan bahasa Melayu. Pria itu mengenalkan diri sebagai Abdul Salam. Dia dari Malaysia. Dia senyum ketika saya mengenalkan diri dari Lombok. Pria yang kini sedang safari dakwah ke Darwin ini rupanya pernah ke Lombok. Dia mengaku pernah ke Aikmel, Masbagik, Praya. Dia cukup mengenal Lombok yang dikenal dengan seribu masjid.

Darwin Islamic Centre yang menjadi pusat kegiatan umat Islam di Darwin, Jumat (12/5/2017) masih sepi saat saya tiba. Hanya ada beberapa orang, yang rupanya rekan Abdul Salam. Sesama jamaah tabligh dari Malaysia. Selama safari dakwah mereka lebih banyak di Darwin Islamic Centre. Suasana masih sepi karena belum masuk waktu zuhur. Abdul Salam mengatakan, azan Zuhur akan dikumandangkan tepat pukul 12:44 waktu Darwin, dan sholat Jumat akan dimulai pukul 13: 11 waktu Darwin. Waktu, termasuk cuaca di Darwin memang sama seperti Indonesia. Di sini ada dua musim : musim panas dan musim hujan. Saat ini Darwin sedang musim panas. Suhu udara luar ruangan sama seperti di Lombok. Berbeda jauh dengan Brisbane yang dingingnnya menusuk tulang.

Ada dua bangunan di dalam Darwin Islamic Centre itu. Bangunan pertama adalah masjid, tempat sholat. Masjid ini mampu menampung 200-an jamaah. Masjid itu terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah bagian dalam tempat imam dan jamaah sholat. Bagian dalam yang berkarpet itu halus itu dipasangi AC dan kipas angin. Bagian dalam itu mampu menampung 70-an jamaah. Di bagian dalam itu, di sisi kiri dan kanan berjejer buku dan Alquran.  Di bagian luar, masih dalam satu kompleks sebenarnya juga bagian utama masjid. Bedanya dipisahkan oleh sekat dengan bagian dalam. Seperti masjid-masjid di Lombok, biasanya ada bagian dalam  dan bagian luar. Di bagian luar terdapat teras. Tidak digunakan sebagai tempat sholat. Di bagian teras itu menjadi tempat menaruh meja, termasuk juga meja bola pimpong. Di meja yang diletakkan di bagian teras itu difungsikan sebagai tempat menaruh makanan, buah-buahan, dan minuman sumbangan jamaah. Salah seorang jamaah dari Indonesia datang membawa semangka yang sudah dipotong-potong, salah seorang jamaah yang wajahnya “bule” datang membawa jeruk. Di teras itu diletakkan beberapa kursi, tempat jamaah istirahat atau sekadar ngobrol sebelum masuk di dalam masjid.

Halaman Islamic Centre cukup luas, mampu menampung hingga30 kendaraan roda empat, dan puluhan sepeda motor. Halaman itu membatasi dengan bangunan Islamic Community Hall. Itu adalah bangunan aula tempat kegiatan-kegiatan keagamaan digelar.

 

Di teras masjid terpasang papan pengumuman kegiatan Islamic Centre . Di bagian lainnya terpasang papan informasi kas Islamic Centre, dilengkapi dengan rincian penggunaan. Selain menyediakan kotak amal yang ditelakkan di beberapa bagian, Islamic Centre juga membuka rekening. Di dalam pengumuman itu disebutkan juga saat ini salah seorang guru ngaji dari Indonesia mengisi pengajian dan akan memberikan pelajaran mengaji pada putra putri jamaah. Pengurus Islamic Centre meminta donasi untuk kelangsungan kegiatan guru ngaji itu.

Masih di dinding teras, kotak berisi brosur terpasang. Brosur itu lebih ditujukan kepada non muslim. Di dalamnya disebutkan pertanyaan-pertanyaan, isu, persepsi tentang Islam. Misalnya saja tentang isu terorisme, jihad, pandangan Islam tentang perempuan, pandangan Islam tentang Jesus. Soal makanan halal, dan seputar ibadah.

“Di sini memang biasa orang non muslim datang berkunjung, malahan mereka masuk menyaksikan ibadah. Kalau di Indonesia mungkin jarang ya,’’ kata Syamsul Bahri, pria dari Jawa yang menjadi imam sholat Jumat. Syamsul Bahri memang diundang khusus untuk menjadi imam dan mengajar di Darwin Islamic Centre. Dia mengar membawa Alquran dan membuka pengajian. Di dinding mading masjid, dijelaskan secara singkat biodata Syamsul Bahri.

“Sebenarnya bagus agar non muslim bisa melihat langsung kegiatan ini. Bagus untuk toleransi,’’ katanya.

Jum’at itu menjadi hari spesial bagi beberapa siswa sekolah di Darwin. Salah satu sekolah yang berada di bawah yayasan Katholik datang berkunjung. Tidak sekadar melihat dari jauh, tapi beberapa siswa pria dan guru mereka ikut Jum’atan. Mereka tidak ikut sholat, tapi mereka ikut duduk di dalam masjid tempat imam dan khatib. Mereka duduk di kursi, di shat bagian belakang. Para siswa sekolah itu tampak serius melihat sekeliling masjid an memperhatikan jamaah. Mereka ikut mendengarkkan khatib yang pada Jumat kemarin diisi oleh dr. Ali Mustafa. Pria keturunan Timur Tengah itu membawakan khutbah tentang berbakti pada orang tua. Dia mengkritisi kehidupan generasi sekarang yang melupakan orang tua. Padahal para orang tua mengasuh sejak kecil. Dia kemudian menjelaskan dalam konteks Islam, relasai orang tua dan anak. Sesekali dokter yang masih muda ini berhenti sejenak ketika mengisahkan berbagai kesalahan generasi sekarang pada orang tua. Dia terharu dan matanya tampak basah.

Para siswa dari sekolah Katholik itu ikut menyimak khutbah dokter Ali. Begitu juga ketika sholat dipimpin Syamsu Bahri, para siswa itu tetap duduk di tempat mereka. Pada jamaah juga tidak terganggu dengan kedatangan mereka yang memakai celana pendek. Mereka ikut bubar setelah sholat berakhir.

Menurut Syamsul Bahri, kehadiran para siswa dari sekolah non muslim itu penting untuk menyebarkan Islam yang damai. Mereka bisa melihat dan mendengar langsung apa yang dibicarakan umat Islam ketika Jum’atan. Begitu juga pada hari-hari lain, mereka dipersilakan datang ke Islamic Centre. Dengan cara ini Syamsul Bahri yakin, persepsi orang Australia tentang Islam akan baik.

Islamic Centre Darwin

Zulkarwin, mahasiswa pascasarjana University of Queensland di Brisbane memiliki pengalaman tentang tingginya toleransi di Australia. Suatu hari dia pernah ikut kegiatan. Di tempat itu tidak ada tulisan musala atau tempat sholat (praying room). Dia akhirnya memberanikan diri bertanya ke petugas keamanan. Petugas keamanan itu langsung mengantar Zulkarwin ke salah satu ruangan. Ruangan itu memang bukan musala, tapi ruangan itu bersih dan bisa digunakan untuk sholat.  Begitu juga di kampus, ada tempat sholat yang disediakan oleh kampus.

“Toleransinya bagus di sini,’’ kata mantan Lurah Cakra Selatan Baru, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.

Para pengelola tempat wisata Lone Pine Koala Sanctuary juga menyediakan khusus musala. Tempat wisata yang memelihara binatang khas Australia ini peduli dengan pengunjung muslim. Jadi wisatawan muslim yang berlibur ke tempat ini tidak perlu sampai menggelar tikat di halaman.

Australia sangat peduli dengan kebersihan. Jika dibandingkan dengan kondisi musala di tempat wisata di Lombok, kondisi di Australia jauh lebih bersih. Begitu juga di kompleks masjid. Di Lombok masih banyak dijumpai jamaah yang merokok sembarangan dan membuang puntungnya sembarangan. Belum lagi sampah makanan yang dibawa. Kondisi tempat wudhu yang tidak layak, serta toilet yang jorok.

Menurut Zulkarwin,ketaatan orang Australia untuk menjaga kebersihan juga karena aturan yang tegas. Lambat laun orang akan terbiasa dengan hidup bersih. Ini bisa dilihat dari Darwin Islamic Centre, yang sebagian besar jamaahnya orang Indonesia. Begitu juga beberapa pengurusnya. Para jamaah tidak berani merokok di dalam kompleks Islamic Centre. Toilet dan tempat wudhu sangat bersih. Tempat sholat layaknya memasuki aula hotel yang dipasangi karpet tebal, tidak bau, dan ruangan yang sejuk.

Mencari makanan halal juga tidak sulit di Darwin. Banyaknya komunitas Asia Tenggara membuat banyak warung yang membuka menu makanan Asia Tenggara, khususnya negara-negara ASEAN. Mudah menjumpai restoran Indonesia, Malaysia, Thailand, termasuk China yang menunya sesuai lidah orang Indonesia. Restoran-restoran di Australia, baik di Darwin dan Brisbane sangat menjaga kebersihan. Beberapa pekerja Indonesia yang Lombok Post temui di Brisbane dan Darwin menuturkan jika ada sedikit masalah dengan kebersihan restoran merek bisa terkena denda. Syukur-syukur tidak langsung ditutup.

Warung kaki lima juga tidak kalah. Saya berkesempatan menyaksikan bazar makanan di Mindil Beach, Kamis sore (11/5/2017). Mindil Beach ini adalah tempat paling populer di Darwin. Sunset terbaik di Darwin bisa disaksikan dari pantai ini. Pantai ini mirip dengan Senggigi. Bedanya, warna pasirnya putih-kekuningan dan lebih halus. Seperti di Senggigi, di sepanjang jalan pinggir pantai ini dibangun lapak kaki lima. Para pedagang makanan, minuman, pakaian, cenderamata, bahkan pangeman tumpah ruah.  Para pedagang ini memenuhi sisi kiri – kanan jalan. Mereka berbaris rapi, dan tentu saja menjaga kebersihan. Tidak ada terlihat di lapak sampah berceceran atau air dibuang sembarangan. Pakaian para pedagang juga rapi. Pedagang makanan memasang sarung tangan agar tangan mereka tidak menyentuh langsung makanan. Bahkan beberapa pedagang mengenakan pakaian layaknya orang kantoran di Indonesia. Mengenakan sepatu kulit, celan kain, baju lengan panjang.

Di tempat ini, makanan yang sesuai selera lidah orang Indonesia sangat beragam. Yang membuat saya tenang, di spanduknya terpasang logo halal. Dituliskan Halal Food. Mengingat ketatnya aturan, saya yakin pedagang itu tidak akan iseng menaruh logo halal untuk sekadar menggaet pengunjung muslim. Terbukti juga makanan yang dijajakan itu banyak diminati orang bule. Lidah orang Darwin sepertinya sudah terbiasa dengan masakan ASEAN yang banyak mengandung bumbu.

“Kalau kita ke restoran dan minta halal food, petugasnya biasanya ngasi tahu kalau makanan-makan tertentu tidak boleh,’’ kata Angky Septiana, perwakilan Kedubes Australia – Jakarta, yang menjadi ketua rombongan International Media Visit (IMV) 2017.

Dituturkan Angky, orang Australia ramah terhadap pendatang muslim. Jika mereka tahu pengunjungnya muslim, mereka sendiri yang akan memberitahukan jika makanan tertentu tidak boleh untuk muslim. Maklum saja, di beberapa menu makanan kadang tidak disebutkan mengandung babi karena komposisinya yang sedikit. Seperti pengalaman rombongan IMV 2017 saat makan di sebuah restoran. Ketika ditanyakan pada pelayannya tentang mana makanan yang halal, dia meminta waktu. Rupanya dia menanyakan ke chef. Dia kembali dan menunjukkan beberapa makanan mengandung babi. (*)

 

Previous post

Ngejot : Tradisi Berbagi yang Terancam Punah

Next post

Jero Acan, Terasi Higienis dan Gurih dari Jerowaru

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *