Humaniora

Penolakan Nama Bandara Karena Kebencian

Salman Faris

Budayawan

 

Sebelum saya menunjukkan sedikit bukti yang bisa menguatkan penilaian saya terhadap penolakan penggunaan nama ZAM sebagai nama bandara di Lombok Tengah berlandaskan kebencian, saya ingin merujuk kepada Nietzsche (filsuf Jerman yang mengubah kewarganegaraan menjadi warna negara Swis) mengatakan bahwa semakin seseorang memperjuangkan, atau semakin seseorang menghabiskan banyak energi untuk menemukan idee’ fixe, semacam kebenaran akhir (bagi Nietzsche, kebenaran tak pernah punya akhir), maka orang tersebut patut dicurigai atau layak didiagnosis sakit.

Makna lainnya, idee’ fixe semakin besar, makin sakit orang tersebut bertambah parah. Begitu sakitnya orang-orang semacam ini, mereka memerlukan keyakinan terhadap kebenaran yang, boleh jadi mereka ciptakan sendiri. Mereka memanipulasi segala realitas untuk mendapatkan ruang kebenaran yang diyakini meskipun hal itu bertentangan dengan realitas umum. Dalam konteks ini, bahkan realitas dijadikan sebagai bayang-bayang yang dikerdilkan karena kebenaran akhir yang sejati baginya adalah apa saja yang mereka yakini. Hukum tidak lagi dipandang sebagai payung, maka dirusaklah hukum tersebut agar kebenaran akhir yang mereka perjuangkan itu semakin mereka yakini.

Melihat kenyataan tersebut, maka tak berlebihan jika saya memandang penolakan terhadap ZAM merupakan karnaval tragedi sekaligus komedi. Satu sisi, para pengembar mengambil peran sebagai orang ulung yang telah berjuang dan berjasa besar membangun Lombok Tengah, kemudian merasa dinihilkan oleh zaman. Mereka merasa dikorbankan oleh kuasa yang lebih besar dari mereka sendiri (Keputusan Pemerintah Pusat dan kalah tandur di wilayahnya sendiri oleh tokoh lain). Mereka mengklaim diri ditiadakan, dan peniadaan ini adalah luka terdalam.

Untuk itulah mereka melakukan perlawanan. Namun sayang, sebagai satu tragedi, kehebatan yang mereka akui tetap saja dikandangkan dalam alur cerita zaman. Pada sisi yang lain, nampak sebagai komedi karena bagaimana bisa seorang yang ulung merasa dinihilkan. Karena seharusnya eksisteni keulungannya tidak akan tergoyahkan oleh apa pun. Bahkan hanya dengan penggunaan ZAM di bandara itu, tidak akan pernah meruntuhkan kehebatan mereka, jika benar-benar mereka lahir dari gelombang kehebatan yang mereka banggakan. Namun begitulah komedi, memerlukan tertawa untuk menyempurnakan tingkah polah orang yang merasa diri mempunyai kekuasaan sejarah dan budaya, namun akhirnya dikerdilkan oleh kekonyolan mereka sendiri. Mau tidak mau, banyak orang dapat menikmati kedukaan dan rasa kecut yang mendera mereka yang sudah kadung memposisikan diri sebagai pahlawan. Akhirnya, satu babak akhir yang diciptakan yakni mereka berusaha memindahkan penderitaan dan ketakutan tersebut kepada tokoh lain yang, pada akhirnya menampakkan kebencian yang tiada habis-habisnya.

Melihat situasi tersebut, maka jadi jelas, apa pun teriakan oratis yang mereka pamerkan, semua itu tak lebih dari usaha pemindahan kedukaan dan rasa takut yang mereka miliki kepada orang yang masih berakal sehat. Teriakan tentang kesewenang-wenangan penguasa dalam memutuskan penggunaan nama ZAM merupakan pengalihan rasa sakit yang mereka alami karena berlangsungnya tragedi dalam takdir mereka yakni kehilangan kekuasaan dari masyarakat, terutama kekuasaan simbolik yang terukir dalam habitus orang Lombok Tengah. Dan untuk mendapatkan sedikit pelipur lara, mereka harus melempar luka itu kepada orang lain agar masyarakat mempercayainya kembali. Namun sayang sekali, lemparan penderitaan tersebut semakin nampak cengeng ketika sang pengembar tak berani peresean, hanya berani jadi pengembar yang mengajak semua elemen dan komponen masyarakat. Bahkan para ASN digerakkan. Hal ini menunjukkan betapa menderitanya para pengembar ini. Dan betapa kebencian itu telah benar-benar menjadi komedi berkelas tinggi.

Lalu apa yang bisa membuktikan penolakan tersebut berdasarkan kebencian? Mari kita lihat, siapa yang dia benci? Kalau kebencian itu karena ZAM bukan orang Lombok tengah, setidaknya ZAM ialah orang Lombok, satu gugusan tanah yang mereka poles jadi seolah-olah ideologi penolakan. Kalau selama ini mereka mengatasnamakan Lombok dan

Lombok Tengah yang bermakna teritori dan bangsa, bukankah seharusnya mereka melakukan penolakan yang lebih sadis dan dahsyat atas penggunaan nama-nama jalan di Praya yang, hampir didominasi oleh pahlawan dari Jawa. Kalau penolakan itu berdasarkan perlawanan atas dominasi bangsa tertentu terhadap Lombok Tengah, kenapa tidak melakukan perlawanan atas pendirian Politeknik Pariwisata, IPDN, atau bahkan Kek Mandalika yang nyata-nyata masyarakat setempat kurang mempunyai peranan strategis di situ? Atau kenapa tidak sekalian menolak nama Praya sebagai nama kota kabupaten Lombok Tengah karena Praya bisa jadi bukan asli nama yang diambil dari bahasa Sasak. Kalau merujuk kepada Sanskrit, bisa jadi (sekali lagi bisa jadi, dapat diperdebatkan lebih lanjut) timbulnya kata Praya ini sebelum Islam berkembang secara luas di Lombok. Dengan begitu, Praya yang dimaksudkan adalah Phraya yang berbarti raja. Kemudian di Thailand terkenal dengan sungai Phraya atau Chao Phraya yang berarti sungai raja dengan panjang hampir 372 kilometer dan menghubungkan tidak kurang dari 20 provinsi di Thailand. Jika hal ini benar, kenapa tidak sekalian melakukan penolakan besar-besaran terhadap penggunaan nama Praya pada satu kota terpenting di Lombok Tengah yang dihuni oleh mayoritas orang Sasak?

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa kebencianlah yang mendorong penolakan tersebut. Dan seperti kata Nietzsche, semakin mereka membenci, semakin tinggi taraf sakit. Dan semakin mereka mengulir penolakan, semakin sempurna persandingan tragedi dan komedi yang patut ditangisi oleh diri mereka sendiri sekaligus ditertawakan oleh orang lain.

 

Duh malunya, sang pengembar jadi bahan tertawaan.

 

Malaysia, 18/11/2019

Previous post

Parhan, Guru Honorer SD di Pedalaman Tambora

Next post

Air Bersih Bukan Untuk Orang Miskin

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *