Humaniora

Sekolah Petiwung, Potret Miris Sekolah di Kawasan Wisata

Destinasi wisata pantai di Pulau Lombok, termasuk di kawasan gili (pulau kecil) sudah kesohor hingga mancanegara. Tapi sayang, keindahan pantai dan pundi-pundi rupiah yang dikeruk dari kawasan itu tak sebanding dengan kehidupan masyarakatnya. Potret masih termarjinalnya masyarakat kawasan wisata bisa dilihat dari “Sekolah Petiwung”,sekolah yang bertetangga dengan kawasan ITDC.

*********

Lanimah berulang kali menenangkan murid-muridnya pada Senin pagi itu. Beberapa anak melapor jika dia diganggu temannya. Anak lainnya berulang kali bertanya dimana dia harus duduk. Maklum pada pagi menjelang siang itu, murid kelas 1 dan murid kelas 2 digabung dalam satu kelas. Hari itu mereka akan belajar mewarnai dan menggambar.

Menggunakan bahasa Sasak dan bahasa Indonesia, Lanimah meminta mereka tenang. Fauziah, guru kelas 1 yang belakangan datang membantu meminta murid yang memanjat “tembok” ruang kelas agar segera turun. Dia meminta mereka duduk di bangku dengan tertib. Murid kelas 3 dan kelas 4 diminta ke ruang lainnya. Ada tugas lain menanti mereka.

Sehari-hari Lanimah yang mengajar di kelas 2 dan Fauziah yang mengajar di kelas 1 mengajar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Sasak. Tidak semua muridnya lancar berbahasa Indonesia. Mereka juga harus ekstra sabar, murid-murid mereka sangat aktif. Menaiki bangku, duduk di “tembok” kelas, berkejeran di dalam kelas adalah keseharian mereka. Bahkan ketika duduk belajar, murid mereka bisa saja tiba-tiba berhamburan keluar ketika pedagang bakso “cilok” melintas.

Aksi duduk di “tembok” ruang kelas, bahkan beberapa kali masuk ruang kelas tidak melalui pintu menjadi hal biasa di sekolah itu. Sekolah itu, MI Nurul Haq NW Pogem memiliki bangunan semi permanen. Hanya ruang guru yang merangkap perpustakaan yang ditembok batako. Sisanya “ditembok” dengan bambu.

Sekolah Petiwung, Potret Miris Sekolah di Kawasan Wisata

Batangan bambu dipotong dengan tinggi 1,5 meter. Potongan bambu itulah yang kemudian dijadikan “tembok” kelas 3 dan kelas 4. Sementara kelas 1 dan kelas 2 “ditembok” menggunakan pagar bedek. Sebagian bedek itu sudah bolong. Selebihnya, seluruh ruangan di kelas-kelas itu terbuka. Hanya 1/3 bagian saja yang disekat.

“Kalau musim panas begini enak ada udara masuk. Tapi kalau musim hujan air menggenangi ruang kelas,’’ kata Fauziah.

Sekolah ini dibangun pada tahun 2011. Karena keterbasan dana, sekolah itu dibangun seadanya. Bangunan kelas 1 dan kelas 2 memakai bedek, itu pun hanya dipagari 1/3 dari tinggi bangunan. Atapnya memakai asbes. Lantai berupa pelesteran semen kasar. Dengan kondisi bangunan ini, sekolah yang belakangan lebih terkenal dengan nama Sekolah Petiwung “dinobatkan” sebagai sekolah alam. Bangunan kelasnya memang bernuansa alam. Walaupun kondisi itu lebih disebabkan kondisi kekurangan dana.

“Yang penting anak-anak bisa bersekolah. Mudah-mudahan ke depan bangunan ini lebih bagus,’’katanya.

Sekolah ini berdiri di kampung Petiwung. Itulah yang membuat madrasah itu dikenal dengan Sekolah Petiwung. Nama Petiwung sendiri cukup dikenal lantaran salah satu basis masyarakat yang kerap berhadap-hadapan dengan pihak Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Perusahaan negara yang berhak atas pengelolaan kawasan pantai berpasir putih di kawasan Pantai Kuta. Petiwung adalah “tetangga” ITDC.

Berada di ring kawasan wisata, tak serta merta membuat kondisi Petiwung baik. Akses jalan ke dalam kampung itu berupa jalan tanah. Beruntung akses jalan dari Pantai Kuta menuju Teluk Awang yang melintas di depan kampung itu sudah diaspal, hotmix. Tapi jika masuk ke dalam Petiwung kondisinya jauh berbeda.

Sekolah Petiwung, Potret Miris Sekolah di Kawasan Wisata

Keberadaan MI Nuruq Haq Pogem itu juga sebagai respons masyarakat atas kurangnya akses pendidikan. Sekolah negeri terdekat cukup jauh dari kampung itu. Tak ada kendaraan umum. Akhirnya warga bernisiatif membuka sekolah swasta.

Setali tiga uang, kondisi sekolah yang seadanya itu membuat kesejahteraan guru juga seadanya. Lanimah menuturkan, gaji yang mereka terima sebagai guru honor tak cukup untuk sekadar membeli bensin motor yang sehari-hari dipakai. Hanya Rp 100 ribu per bulan. Itu pun dibayar sekali 3 bulan, dan lebih sering sekali 6 bulan.

“Kami mengajar bukan karena mengharap gaji, kami ingin anak-anak kami tetap bersekolah,’’ kata Fauziah.

Fauziah, guru kelas 1 yang kuliah di Universitas Terbuka (UT) mengatakan kegiatan mengajar sebagai aktivitas yang menyenangkan. Itu lebih baik hanya sekadar duduk di rumah. Apalagi saat ini dia memiliki anak berusia 5 tahun, yang sebentar lagi masuk SD. Sambil mengasuh anaknya, dia tetap mengajar. Anaknya pun punya teman bermain. Jika sudah cukup umur, dia akan memasukkan anaknya secara resmi di sekolah tempatnya mengajar.

Sebagai sekolah yang berada di kampung tetangganya ITDC, tak sedikit pun kecipratan. Beberapa kali pejabat negara mengunjungi ITDC, kawasan sekitarnya dipoles demi menyambut sang pejabat. Tapi kondisi Sekolah Petiwung tetap seperti itu. Bantuan justru datang dari para relawan yang prihatin dengan keadaan sekolah itu.

Kondisi sekolah ini juga menjadi gambaran kondisi masyarakat di kawasan wisata Pantai Kuta. Masyarakat kurang dilibatkan dalam pembangunan wisata. Masyarakat akhirnya menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Konflik berkepanjangan antara masyarakat dengan penguasa lahan tak kunjung selesai.

Kekayaan dari sektor wisata, tak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Sekolah yang dibangun “seadanya” itu menjadi potret bahwa manisnya pembangunan pariwisata belum dinikmati oleh masyarakat lokal. Banyak hotel, villa, restoran yang dibangun mewah. Tapi kondisi Sekolah Petiwung tetap seperti itu. Sederhana. Sesederhana pikiran masyarakat bahwa mereka juga berhak atas tanah leluhur yang kini dikuasai investor.

“Sekolah ini kan sudah ada izinnya, tentu pemerintah tahu keberadaannya,’’ kata Lamun, guru Bahasa Indonesia.

  *****

Anak-anak itu berhamburan keluar kelas begitu tahu siapa tamu yang keluar dari dalam mobil. Aisyah Odist, salah satu penumpang mobil Avanza hitam itu sudah dikenal anak-anak itu. Rekan-rekan Aisyah yang lain, Rina Pugh, Cecep, Wayan Andriani pun dikerubungi anak-anak Sekolah Petiwung. Satu per satu anak-anak itu menyalami dan mencium tangan mereka.

Hari itu, kelas dibagi menjadi dua. Kelas 1 dan kelas 2 digabung di satu ruangan. Mereka akan mengikuti kelas menggambar dan mewarnai. Relawan dari Republik Ceko, Andrea dan Cecep membagikan kertas gambar dan pensil warna. Hari itu mereka menggambar apa pun yang mereka inginkan. Bebas.

Anak-anak bergembira. Ada yang menggambar gunung, pantai, atau sekadar mencoret kertas gambar. Guru mereka Lanimah dan Fauziah dengan sabar mendampingi. Membimbing jika ada murid yang diam, tidak menggambar.

Ruang kelas berikutnya, kelas 3 dan 4 digabung menjadi satu. Hari itu mereka akan mewarnai daun kering. Daun-daun kering itu dikumpulkan Aisyah Odist, seorang aktivis lingkungan.

Dari daun kering itu, Aisyah bersama Cecep menunjukkan daun berwarna yang sudah jadi. Alangkah indahnya. Daun itu seperti kupu-kupu. Anak-anak pun bertambah semangat. Hanya dengan melihat sekilas gambar itu, mereka berkreasi dengan aneka warna. Tak takut tangan kotor. Mereka juga tidak terpaku pada satu warna. Mereka berkesperimen dengan berbagai warna.

Ruang kelas begitu riuh. Anak-anak yang mewarnai daun kering itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka begitu karya mereka usai. Ada yang mengangkat tangan, lompat, berlarian, dan berteriak gembira. Apalagi ketika para relawan memuji karya mereka, anak-anak itu sepertinya tak ingin acara mewarnai daun kering itu berakhir hari itu.

Hari itu, sehari penuh, seluruh ruang kelas dikuasai para relawan. Para guru hanya membantu. Para relawan lah yang mengajar. Mengajar kerajinan tangan dan menggambar. Anak-anak menyambut gembira. Para guru dapat tambahan ilmu. Mereka tambah semangat untuk mengajar.

Para relawan yang datang bukan sekali itu mereka mengajar murid-murid Sekolah Petiwung. Aisyah, sebelumnya pernah bertandang ke sekolah itu. Mengajar pengelolaan sampah. Bukan sekadar mengolah sampah mereka, anak-anak itu bahkan berburu sampah di kampung. Mereka mengumpulkan bungkus kopi dan sampah plastik lainnya. Aisyah akan mengajar mereka memanfaatkan sampah itu menjadi barang berharga.

Dengan cara melihat langsung pemanfaatan sampah, anak-anak itu secara tidak langsung telah berbuat nyata untuk lingkungan. Mereka tak lagi membuang sampah sembarang. Malahan mereka mengoleksi sampah yang mereka jumpai.

Lain lagi dengan Andrea. Perempuan dari Republik Ceko itu seperti menjadi guru tetap di Sekolah Petiwung. Semua murid mengenalnya. Tak ada jarak antara mereka. Anak-anak itu akrab dengan Andrea seperti mereka akrab dengan bapak ibu guru mereka. Mereka menghormati Andrea seperti menghormati guru-guru sekolah mereka.

“Ibu Andrea banyak membantu sekolah ini, ruang kelas yang kami pakai bantuan Ibu Andrea dan teman-temannya,’’ kata Lanimah, guru Sekolah Petiwung.

Kehadiran para relawan ke sekolah terpencil tersebut sangat membantu para guru. Relawan itu memberikan motivasi pada anak didik mereka. Anak-anak semangat sekolah. Bahkan ada beberapa anak yang sebelumnya sekolah di tempat lain, pindah ke sekolah yang ruang kelasnya tak bertembok itu. Anak-anak senang dengan banyaknya kegiatan belajar tambahan.

Lanimah juga menyediakan teras rumahnya untuk belajar tambahan. Pelajaran bahasa Inggris. Rumahnya juga menjadi ruang baca, menggambar bagi anak-anak sekitar ketika pulang sekolah. Semangat Lanimah ini, katanya, tak lepas dari dorongan para relawan. Dia yakin masih banyak orang baik yang peduli dengan Sekolah Petiwung.

 

Lamun, guru Bahasa Indonesia mengakui kepedulian para relawan membuat guru-guru di Petiwung semangat mengajar. Dengan gaji Rp 100 ribu per bulan, mustahil mengandalkan hidup dari mengajar saja. Tapi mereka tak pernah malas mengajar, kehadiran para relawan yang kerap datang ke Petiwung menjadi cambuk mereka untuk mengabdi.

 

Berada di kawasan wisata, mestinya sekolah-sekolah di kawasan itu memiliki fasilitas yang baik. Walaupun sekolah tempatnya mengajar berstatus swasta, bukan berarti pemerintah lepas tangan. Kehadiran sekolah itu memungkinkan anak-anak Petiwung tetap sekolah. Mereka tidak putus sekolah lantaran jarak ke sekolah negeri cukup jauh. (*)

Selamat Dari Perang Suriah, Hajar Berjuang Menyelamatkan Ekonomi Keluarga
Previous post

Selamat Dari Perang Suriah, Hajar Berjuang Menyelamatkan Ekonomi Keluarga

Mursidi, Guru Honorer Pemulung
Next post

Mursidi, Guru Honorer Pemulung

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

1 Comment

  1. February 3, 2018 at 2:51 pm — Reply

    Trimakasih atas infonya bang, keep inspring ya

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *