Berita

Siasat Warga Gili Bertahan Tanpa Air Bersih

Pendapatan mereka sebagai nelayan mampu membeli barang-barang mewah. Tak sedikit yang memiliki rumah permanen. Mampu menguliahkan putra putri mereka. Hanya air bersih yang masih menjadi barang mahal.

******

Hari sudang siang. Matahari begitu menyengat. Tak ada awan tipis yang bisa mengurangi sengatan matahari. Rasanya matahari berada persis di atas kepala. Dibandingkan di Kota Mataram misalnya, di tempat itu, pesisir Gili Beleq, Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, matahari seakan-akan berjumlah dua. Benar-benar panas.

Sejumlah perempuan mengolesi wajah mereka dengan bedak. Ada yang berwarna putih. Ada yang berwarna kuning. Bedak tebal yang menutupi wajah asli mereka itu sebagai filter panas yang begitu menyengat. Mereka juga menutupi kepala dengan handuk. Yang tak memakai bedak berulang kali membasuh wajah mereka.

Inaq Pendi, salah seorang peremuan diantara kerumuman itu sudah setengah hari di tempat itu. Bersama belasan perempuan lainnya dia antre untuk air bersih. Keesokan harinya Idul Adha. Butuh lebih banyak air. Sementara di musim kemarau seperti saat ini, air tidak lancar. Debitnya tidak begitu besar. Bisa-bisa kalau kurang mendapatkan jatah air, terpaksa mencari air di daratan Pulau Lombok. Artinya  butuh uang lebih banyak lagi.

Siasat Warga Gili Bertahan Tanpa Air Bersih

Hari itu adalah jatah warga Gili Beleq mendapatkan air bersih dari pipa bawah laut. Ya sumber air bersih di pulau yang dihuni 140 KK, atau 400 jiwa itu sangat bergantung pada Pulau Lombok. Jarak daratan Pulau Lombok terdekat di Telong-Elong, Desa Jerowaru, sekitar 15 menit menggunakan perahu.

Di usianya yang tidak lagi muda, Inaq Pendi harus rela turun naik tangga. Maklum saja satu-satunya selang air bersih itu berada di dekat dermaga. Sementara dermaga itu posisi agak bawah. Gili Beleq merupakan pulau yang terbentuk dari gugusan karang, yang cukup terjal. Butuh istirahat lama bagi Inaq Pendi untuk mengumpulkan tenaga sebelum kembali mengangkut air bersih. Dan tentu saja butuh antre lama untuk mendapatkan jatah air.

Air yang menjadi kebutuhan pokok, di pulau seluas 16 hektare (ha) menjadi barang paling langka. Tak heran jika Inaq Pendi, dan semua perempuan di pulau itu rela seharian menunggu untuk mendapatkan giliran. Jika telat, maka bersiaplah untuk tidak mandi air tawar selama tiga hari, atau harus mandi ke daratan Pulau Lombok. Di pulau itu, air bersih hanya datang setiap tiga hari. Artinya dalam seminggu hanya dua kali dijatah air bersih.

“Tiga hari mengalir tiga hari macet,’’ kata Inaq Pendi.

Tak sedikit pun air dari pipa itu dibiarkan terbuang. Begitu ember yang satu hampir penuh, sudah menunggu ember lainnya. Jumlahnya belasan. Begitu penuh, si pemilik langsung mengangkut ke rumah. Mengisi bak penampungan dan kembali lagi ke pesisir. Begitu seterusnya hingga air dari pipa itu benar-benar terhenti pada hari itu. Jika terlambat antre, bakalan mendapatkan sedikit air bersih. Mengambil air ke daratan Pulau Lombok bukanlah perkara mudah dan murah. Harus membawa banyak jeriken, mengambil dari pipa milik warga. Menaikkan dan menurunkan air dalam jeriken di pulau yang tak landai itu bukanlah perkara ringan. Apalagi bagi warga yang rumahnya di tengah pulau.

Inaq Pendi bersyukur air datang hari Rabu, sehari sebelum Idul Adha. Dia tidak bisa membayangkan repotnya jika air mengalir pada Kamis ketika warga merayakan Idul Adha. Sudah menjadi kesepakatan air mengalir sekali 3 hari.

Pada musim kemarau, air kiriman dari pipa bawah laut itu menjadi andalan. Berbeda ketika musim hujan, warga menampung air hujan. Di seluruh rumah warga bisa dilihat talangan rumah yang disambungkan dengan pipa, kemudian dialirkan ke dalam bak-bak besar. Musim hujan panen air tawar. Tapi itu masih lama, dan tak berlangsung lama. Dan saat musim hujan itu pula warga Gili Beleq mandi air tawar dengan puas. Setiap hari. Musim kemarau, mandi air tawar setiap hari, apalagi dua kali sehari adalah sebuah kemewahan yang mahal.

“Air ini untuk kebutuhan memasak,’’ katanya.

Selain pengiriman air yang dijatah, debit air yang mengalir juga tidak selamanya besar. Warga juga sudah mengatur diri. Mereka berbagi sama rata.

“Kira-kira masing rumah dapat 100 liter setiap kali air mengalir,’’ kata Kepala Dusun (Kadus) Gili Beleq, Muhsan.

Bagi rumah yang dihuni suami dan istri saja, air sebanyak itu dicukup-cukupkan. Tapi bagi yang banyak anggota keluarga, harus rela berbagi. Harus hemat. Air hanya untuk kebutuhan dapur saja. Selebihnya air laut. Di Gili Beleq tak ada sumber air tawar.

Kondisi ini sama dengan pulau di sebelahnya, Gili Re. Air bersih dijatah sekali tiga hari. Kadang bagi warga kedua pulau yang benar-benar kehabisan air tawar, mereka singgah untuk meminta air di pulau seberangnya. Warga Gili Beleq ke Gili Re, dan sebaliknya. Tapi tak akan banyak. Mereka saling memahami, ada giliran masing-masing dan air menjadi barang mahal. Pilihannya jika ingin air yang lebih banyak harus ke daratan Pulau Lombok. Mereka mengambil di Telong-Elong.

Di Kecamatan Jerowaru, dulunya ada empat pulau yang berpenghuni. Gili Beleq dengan penduduk 140 KK, Gili Re 100 KK, Gili Maringkik 600 KK, dan Gili Sunut sekitar 100 KK. Tapi sejak tiga tahun lalu, seluruh warga Gili Sunut  direlokasi ke daratan Pulau Lombok, tepatnya di Teanjah-Anjah, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru. Pulau berpasir putih yang pada waktu tertentu lautannya “terbelah” dan bisa berjalan dari Pulau Lombok, dikuasai oleh investor asing. Mereka diungsikan ke daratan Lombok lantaran Gili Sunut akan dikembangkan sebagai tempat wisata dengan fasilitas mewah. Dan kini itu baru sebatas rencana di atas kertas.

Gili Maringkik adalah gili terbesar, penduduk terbesar, dan paling jauh jaraknya dengan daratan Pulau Lombok. Di Gili Maringkik yang kini sudah menjadi desa tersendiri terdapat beberapa sumur. Tapi, ada setetes pun air tawar di sumur-sumur itu. Sumur yang digali terlalu asin airnya. Tidak bisa dijadikan air minum atau kebutuhan memasak. Sementara jaringan air bersih dari Pulau Lombok ke Maringkik tidak pernah berfungsi dengan baik.

Dulunya pernah dibangun pipa bawah laut dari pulau Lombok ke Maringkik. Tapi tidak pernah berjalan lancar. Pernah mengalir sebentar, lalu setelah itu lenyap sama sekali. Masyarakat Maringkik mengandalkan air bersih dari hujan. Saat tidak musim hujan masyarakat harus membeli air tawar dari daratan pulau Lombok.

Saat air pasang, warga Maringkik berangkat ke Telong-Elong. Ya, harus dilakukan saat pasang. Saat air surut, selang yang dialirkan warga Telong-Elong tidak mampu menjangkau perahu. Satu persatu warga Maringkik mengisi jeriken dengan air bersih dari Telong-Elong. Mereka membawa belasan jeriken. Perahu mereka penuh dengan jeriken. Mereka antre air bersih bersama warga Gili Beleq dan Gili Re. Warga di pulau yang lebih kecil itu beruntung, jarak mereka dengan daratan Pulau Lombok lebih dekat.

Untuk 1 jeriken air (30 liter), warga membayar Rp 1.000 pada pemilik selang.

Beruntung bagi masyarakat yang punya perahu sendiri. Mereka tidak perlu keluar uang untuk berangkat mengambil air. Namun ada juga warga yang tidak memiliki perahu, mereka itu umumnya pedagang. Mereka harus menyewa Rp 50.000 untuk satu perahu ketinting.

‘’Air kebutuhan kami,’’ kata Inaq Sahuni.

Akibat air tawar yang langka ini, masyarakat Maringkik jarang mandi dengan air tawar. Mereka hanya ‘’berani’’ mandi air tawar jika musim hujan. Di musim kemarau mereka mandi air laut. Saat pagi dan sore, banyak terlihat anak-anak dan orang tua yang mandi di laut.

Bukan lantaran air itu terlalu mahal, tapi untuk mencari air itulah yang susah. Sebenarnya dengan 1 jeriken yang harganya Rp 1.000 bisa digunakan untuk mandi. Tapi perjuangan untuk mengambil air ke Telong-Elong serta membawanya ke rumah yang cukup berat. Cukup lah mandi air tawar saat musim hujan.

‘’Sudah terbiasa kami mandi air laut saja,’’ katanya.

Soal MCK juga jadi masalah di Gili Beleq, Gili Re, dan Gili Maringkik. Dengan kepadatan yang cukup tinggi tidak memungkinkan warga membangun WC. Belum lagi WC butuh air. Akhirnya jadilah pesisir menjadi WC terpanjang di dunia. Mesti berhati-hati ketika jalan-jalan di pantai Maringkik banyak ‘’jebakan kuning’’.

Kenapa tetap bertahan padahal tidak ada air bersih ?

“Saya lahir dan besar di Gili Beleq,’’ kata Kadus Gili Beleq, Muhsan.

Pria kelahiran 1974 ini adalah generasi kedua di Gili Beleq. Warga Gili Beleq dan Gili Re adalah warga daratan Pulau Lombok. Mereka berasal dari Rensing, Sakra, dan Jerowaru.

Siasat Warga Gili Bertahan Tanpa Air Bersih

Muhsan memperkirakan warga mulai mendiami Gili Beleq dan Gili Re sebelum tahun 1960. Orang tuanya termasuk generasi awal yang tinggal di Gili Beleq. Dulunya warga daratan Pulau Lombok mengambil kayu bakar ke gili-gili di kawasan itu. Mereka juga mengambil karang laut untuk pembuatan kapur. Tapi itu dulu. Sekarang tidak ada lagi pembuatan kapur dengan terumbu karang. Di daratan tak berpenghuni itu mereka juga mengambil kayu, mengambil bakau, dan mulai mencari ikan. Asal muasal mereka petani, bukan nelayan.

Lama kelamaan mereka betah dan akhirnya menetap di Gili Beleq. Mengajak anggota kerabat mereka. Menikah. Melahirkan, dan akhirnya beranak cucu. Karena lahir dan besar di gili itu pula yang membuat mereka enggan untuk meninggalkannya, walaupun tidak ada sumber air bersih.

“Sudah biasa,’’ ujarnya.

Selain tidak ada air bersih, dulunya tidak ada fasilitas apapun di pulau tersebut. Sekolah dasar (SD) mulai dibangun tahun 1983. Kondisinya saat itu seadanya. Baru-baru ini kondisi sekolah sudah bagus.

Listrik baru masuk tahun 2013. Kabel listrik PLN membentang dari daratan Pulau Lombok. Karena perairan dangkal, tiang listrik PLN ditanam di laut. Saat surut bisa berjalan kaki. Sejak listrik PLN masuk, berbondong-bondonglah warga membeli peralatan elektronik. TV, parabola, kulkas bukan lagi barang mewah. Air lah yang tetap menjadi barang mewah.

Maringkik merupakan pulau terbesar diantara gugusan pulau-pulau kecil di selatan Lombok Timur itu. Luas pulau ini kurang lebih 150 hektare dengan jumlah KK 557 KK dan 1999 jiwa (2012). Cukup padat untuk ukuran pulau yang begitu kecil. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya hanya berupa lorong. Tanah lapang hanya dijumpai di sekitar SD-SMP Satu Atap dan kantor PLN Ranting Maringkik. Dulunya kantor PLN Ranting Maringkik yang dinyalakan oleh mesin diesel ini menjadi andalan warga. Kini sudah ada listrik dari daratan Pulau Lombok. Tiang listrik ditanam di lautan. Mengikuti jalur yang dangkal.

Dengan kondisi alam yang tidak memiliki air tawar, dan padat, mereka masih tetap cinta Maringkik. Boleh saja memiliki tanah di Pulau Lombok, tapi Maringkik tetap menjadi pilihan tempat tinggal utama. Profesi hampir seluruh msayarakat Maringkik sebagai nelayan membuat mereka bergantung di pulau itu.

Setiap tahun ada yang mati, lebih banyak lahir, keluar pulau untuk menikah, membawa istri untuk tinggal di Maringkik. Maringkik tiap tahun makin padat, lahan makin sempit. Masyarakat pun menyiasati kekurangan lahan itu. Bagi calon keluarga baru, jauh hari sebelumnya mereka menyiapkan lahan untuk pembangunan rumah. Caranya, mereka ‘’mereklamasi’’ pantai yang cukup landai. Perlahan-lahan mereka memasang tanggul, lalu menutup tanggul itu dengan karang, pasir, tanah atau bahkan sampah-sampah keras. Lama kelamaan tanggul itu pun membentuk sebuah daratan.

Di Maringkik ada beberapa orang yang memiliki tanah yang cukup luas. Tapi semacam aturan tidak tertulis, tidak ada warga yang menjual tanah. Kalau pun menjual, hanya keluarga dekat. Selain itu orang luar Maringkik perlu berpikir seribu kali untuk tinggal di pulau tersebut.

‘’Dulu kakek saya punya tanah luas. Sudah dibagi-bagi sama keluarga. Sekitar ini keluarga saya semua,’’ kata Inaq Sahuni.

Tiap tahunnya banyak bayi-bayi baru yang lahir. Penduduk Maringkik terus bertambah. Lahan makin sempit.

‘’Kami senang di sini. Tidak ada keinginan untuk tinggal di Pulau Lombok,’’ kata wanita yang nenek moyangnya dari Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Belum ada catatan yang Lombok Post temukan terkait keberadaan orang-orang Maringkik. Kapan suku-suku pelaut itu tiba di pulau kecil tersebut. Siapa saja yang kali pertama datang. Yang pasti tujuan utama mereka pasti melaut. Bisa jadi pulau Maringkik dulunya pulau persinggahan nelayan-nelayan tangguh itu ketika mencari ikan. Ikan-ikan itu dibawa ke Tanjung Luar dan Labuhan Lombok. Masyarakat yang tinggal di Tanjung Luar dan Labuhan Lombok memang orang-orang dari suku yang terkenal sebagai pelaut itu.

Ini yang membedakan dengan Gili Beleq dan Gili Re. Warga Gili Beleq dan Gili Re adalah warga Rensing, Keruak, Jerowaru yang tinggal di pulau kecil itu. Berbeda dengan warga Maringkik yang berasal dari berbagai daerah. Bahasa di Maringkik pun berbeda. Di Gili Beleq dan Gili Re sangat kental bahasa Sasak. Sementara di Gili Maringkik, ada yang berbahasa Bajo, bahasa Bugis, bahasa Mandar, bahasa NTT, dan bahkan banyak muncul kata-kata hasil percampuran berbagai bahasa yang mendiami Gili Maringkik. Walaupun berbeda, masalah mereka tetap sama : air bersih. (*)

Haryanto Menyulap Limbah Jadi Duit
Previous post

Haryanto Menyulap Limbah Jadi Duit

Next post

Liburan Sunyi di Pulau Tak Berpenghuni

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *