Humaniora

Sumpah Setia Perempuan Sasak

Bagaimana caranya seorang istri membuktikan kesetiaannya pada sang suami ? Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele. Jawaban bisa beragam. Tapi di masyarakat adat Gumantar, pembuktian awal kesetiaan itu terlihat pada proses pernikahan.

*********

Matahari belum terlalu tinggi di Dusun Tangga, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), puluhan warga hilir mudik di perkampungan itu. Anak-anak berlarian. Hari itu, Selasa (4/8), memang hari sekolah. Tapi anak-anak di kampung itu sepertinya masih dalam suasana libur. Mereka tak mengenakan seragam sekolah. Hanya sebagian kecil saja yang mengenakan seragam putih – merah yang memudar warnanya.

Di salah satu sudut perkampungan yang berbatasan dengan hutan itu, kepul asap membumbung tinggi. Belasan pria dewasa, mengenapan sapu’ (pengikat kepala khas suku Sasak) sibuk merapikan tungku. Beberapa tungku yang dibuat dengan cara menggali tanah, sudah mulai menyala sejak semalam. Abu yang menumpuk, dan arang di sekitarnya menjadi bukti tungu itu sudah mulai bekerja sehari sebelumnya. Di salah satu tungku air panas tak pernah berhenti dimasak.

Pria dewasa lainnya sibuk mengupas dan memotong menjadi potongan kecil nangka mentah. Beberapa pria lainnya sibuk membuat santan kelapa. Tak ada perempuan di tempat itu. Lahan kosong yang luasnya kira-kira 10 meter persegi itu menjadi wilayah para lelaki. Tempat itulah menjadi dapur, khusus untuk memasak lauk pauk. Kalaupun ada beberapa remaja perempuan di tempat itu, mereka datang pergi, mencuci perkakas masak yang akan dipakai kembali.

10 meter dari tempat itu, tak kalah sibuknya. Lokasi kedua ini, menjadi lokasi memasak nasi. Di tempat ini, sebagian perempuan, tapi tetap didominasi laki-laki. Tak jauh dari lokasi memasak nasi ini, berdiri bangunan rumah panggung. Di dalam salah satu ruangan, duduk dua orang pria. Mereka adalah Sumawari dan Resudip. Hanya dua orang inilah yang boleh di dalam ruangan tempat penyimpanan nasi itu.

Sumawari dan Resudip sejak hari sebelumnya tak meninggalkan tempat itu. Mereka sebagai mandor yang membagikan nasi. Semua nasi yang ditanak, harus dibawa ke rumah itu. Dibantu beberapa orang asisten, nasi dan lauk dibungkus menggunakan daun pisang. Oleh-oleh untuk tamu khusus. Selebihnya, nasi ditaruh di atas nampan, untuk tamu umum yang begibung (makan bersama di atas nampan)

Selasa itu menjadi puncak pesta di Dusun Tangga. Hari itu akan dilangsungkan pernikahan adat enam pasangan pengantin. Sebagian pengantin baru. sebagian pengantin lama. Bahkan ada yang sudah memiliki anak. Inilah keunikan pesta pernikahan di Dusun Tangga, yang secara adat berinduk di Desa Gumantar.

Pengeras suara dari bagian informasi berulang kali mengumumkan agar pasangan pengantin bersiap-siap. Para penyampai berita itu adalah lelaki, yang ditugaskan khusus melaporkan setiap perkembangan pesta. Jika dulu, sebelum ada pengeras suara, mereka keliling ke tiap titik mengabarkan perkembangan. Sekarang cukup lewat pengeras suara semua warga di kampung dengan penduduk 553 jiwa itu mengetahui. Nasi sudah siap, sayur nangka sudah matang, piring-piring kotor yang harus dibersihkan, para tokoh adat yang sudah tiba, dan kabar dari rumah para pengantin.

***************
Sementara itu di salah satu rumah, pengantin baru, Ratini dan Zaki terlihat gelisah. Pasangan pengantin yang baru setahun menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah (MA) bersiap menjalani prosesi pernikahan secara adat. Ya, pasangan pengantin ini, secara agama sudah sah menjadi suami istri. Proses ijab kabul sudah dilakuka. Tapi hari Selasa itu, dia harus menggenapkan pernikahannya. Mereka harus melangsungkan prosesi adat.

Ratini, yang pernah nyantri di Lombok Barat agak canggung ketika diperintah membasuh kaki suaminya. Perempuan berjilbab ini terus tersenyum ketika melakukan perintah itu. Sesekali dia memalingkan muka ke bawah. Menyembunyikan senyumnya.

Sang suami, Zaki pun terlihat canggung. Pria dari Bagu, Lombok Tengah ini baru kali ini melihat prosesi pernikahan, yang mewajibkan sang istri harus membasuh kaki suami. Di kampung halamannya, setelah ijab kabul, biasanya nyongkolan. Tak ada prosesi seperti di Tangga.

Zaki duduk di atas berugak (gazebo), sementara istrinya duduk berjongkok di bawahnya. Sukini, perempuan paruh baya yang membimbing proses itu berulang kali memerintahkan Ratini untuk menggosok kaki suaminya.

“Langsung pakai cuci muka,’’ perintah Sukini.

Sukini yang dipercaya sebagai pemimpin ritual itu menyiapkan air dalam ember kecil. Air itu dituangkan dari atas. Ratini lalu mengusap kaki suaminya dengan limpahan air itu. Tiga kali dia menggosok.

Setelah membasuh kaki itu, pada tuangan air berikutnya, Ratini membasuh mukanya dengan air yang mengalir di sela-sela kaki suaminya. Air itu harus diambil dari bawah kaki.

Setelah selesai membasuh dan mencuci muka, barulah prosesi meminum air itu. Sukini kembali menuangkan air dari atas. Limpasan air yang membasuh kaki itulah yang harus diminum.

Setelah prosesi membasuh kaki itu selesai,Ratini dengan dibantu Sukini mengatupkan kedua tangannya di depan kaki suaminya. Layaknya orang hendak bersalaman. Lalu Sukini memegang kedua tangan Ratini, dan mengatupkan ke arah tangan Zaki, seperti orang sungkeman. Posisi Ratini masih jongkok. Sementara Zaki duduk di atas berugak.

Semua mempelai perempuan yang melangsungkan pernikahan adat hari itu melakukan hal yang sama. Proses membasuh muka, meminum air itu menjadi tontonan menarik. Apalagi kalau reaksi istri beragam. Ada yang hanya senyum ketika meminum. Ada yang mengerutkan dahi, menutup mata, sepertinya merasa jijik. Ada pula yang langsung memuntahkan.

Prosesi mencuci kaki, membasuh muka dan meminum air cuci kaki itu dilakukan pasangan pengantin di dusun di atas bukit ini dalam prosesi ngalu kawin. Prosesi ini tidak dijumpai pada adat perkawinan masyarakat Sasak pada umumnya. Ngalu kawin ini juga dijumpai di masyarakat adat Gumantar, Kecamatan Kayangan. Secara adat, antara warga Gumantar dan Tangga masih dalam satu rumpun desa adat. Itulah sebabnya, dalam setiapa acara adat di Tangga, warga dan tokoh adat Gumantar selalu hadir. Begitu juga sebaliknya, setiap acara adat di Gumantar, warga Tangga yang kini secara administratif masuk Desa Selengen selalu hadir di Gumantar.

Prosesi ngalu kawin ini dipimpin oleh Sukini, istri kiyai setempat. Memang harus istri kiyai yang memimpin prosesi yang mempertemukan pasangan pengantin ini, termasuk mempertemukan para keluarga mereka.

Kepala Dusun Tangga, Lujihartono mengatakan, prosesi mencuci, membasuh muka, dan meminum air dari kaki suami itu adalah bentuk kesetiaan istri. Sebagai istri, maka saat itu dia harus bersumpah setia kepada suaminya. Dia bukan lagi menjadi milik orang tuanya. Tapi kini menjadi milik suaminya.

“Prosesi itu sebagai pembuktian kesetiaan,’’ katanya.

Tradisi ini memang tidak dijumpai dalam perkawinan adat Sasak secara umum. Setidaknya di dalam literatur tentang pernikahan, tidak ada prosesi meminum air bekas mencuci kaki suami itu. Luji menegaskan, prosesi ini memang khusus di komunitas masyarakat adat Gumantar. Tangga, walaupun berbeda desa dengan Gumantar, secara adat istiadat mereka memiliki keterikatan yang kuat.

Tapi, jika laki-laki dari Tangga, atau dusun-dusun yang masuk dalam wilayah desa adat Gumantar menikah dengan perempuan luar kampung, misalnya saja dari Lombok Timur mereka mengikuti tradisi sang istri. Tapi jika perempuan Tangga menikah dengan pria luar kampung, harus melangsungkan pernikahan adat, yang di dalamnya ada ritual membasuh kaki itu. Seperti Zaki yang berasal dari Lombok Tengah, istrinya yang orang Tangga, Ratini harus melangsungkan ritual itu. Ritual pembuktian kesetiaan perempuan Gumantar pada sang suami.
Prosesi lainnya dalam ngalu kawin ini adalah memecahkan kendi. Prosesi ini dilakukan sebelum ritual membasuh kaki itu.

Carannya, kendi yang berisi air dan sirih, diletakkan di atas kepala pengantin perempuan. Lalu pengantin laki-laki berdiri sambil memegang tiang berugak. Dengan perintah pemimpin ritual, sang suami menendang kendi itu hingga pecah.

Sumpah Setia Perempuan Sasak

Sementara itu, salah seorang pengiring pengantin juga memecahkan batok kelapa. Walau tanpa aba-aba, antara suami yang menendang kendi di atas kepala istri dan pengiring yang memecahkan kendi harus bersamaan. Kelihatannya tidak sopan. Suami menendang kendi yang ditaruh di atas kepala istri.

“Ketika pecah kendi itu, pecah lah hubungan kekerabatan. Istilahnya bela’ basa (memecah bahasa),’’ kata tokoh masyarakat adat Tangga, Sumarsam.

Ritual ini dilakukan pada pasangan pengantin yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Karena pernikahan di Gumantar, banyak yang masih satu kampung sering terjadi perkawinan masih dalam satu keluarga. Budiar dan Mantini misalnya. Mereka masih ada hubungan keluarga.
Selain itu, ada juga pasangan pengantin yang masih berbahasa “bibi”. Misalnya, mempelai wanita itu adalah sepupu jauh dari ibu mempelai pria. Dalam bahasa sehari-hari, si lelaki itu memanggil bibi pada si perempuan. Ketika pasangan ini menikah, tentu ada masalah bahasa. Sang suami tidak mungkin memanggil bibi pada istrinya.

“Nah dalam prosesi inilah, bahasa itu istilahnya dirusak. Kini mereka setara,’’ kata Sumarsam.

Selain ngalu kawin, prosesi pernikahan di masyarakat adat Gumantar sama pada umumnya dengan masyarakat Sasak secara umum. Pada hari pertama keluarga mempelai pria membawa seserahan/pisuka/gantiran (jaminan) pada keluarga mempelai wanita. Di dalam seserahan itu, ada benda wajib yang harus dibawa yaitu kelengkapan beras pati. Di dalamnya, selain beras disertakan juga kepeng tepong (uang bolong), sirih, benang putih, kain putih, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Setelah acara mengantar seserahan ini selesai, barulah prosesi pernikahannya, akad nikah. Masyarakat di Tangga dan Gumantar menyebutnya pantok syahadat. Karena di dalam prosesi akad nikah itu diucapkan kalimat syahadat, lalu ikrar janji pasangan pengantin. Dalam acara akad nikah ini, dipimpin oleh kiyai. Wali mempelai perempuan hadir, dan tentu saja para saksi. Prosesi ini sesuai dengan syariat Islam.

Biasanya acara akad nikah ini dilakukan pada malam hari. Selain itu, pada malam hari itu juga digelar sorong serah, atau di dalam bahasa masyarakat Tangga disebut menyorong menanggap.
“Barulah keesokan harinya digelar ngalu kawin itu. Di sini tidak ada nyongkolan (arak-arakan pengantin),’’ kata Lujihartono.

Nyongkolan, prosesi arak-arakan sekaligus berfungsi mengenalkan pengantin pada warga, tidak ada di dalam masyarakat adat Gumantar. Walaupun pihak pengantin menyediakan hiburan cilokak ale-ale dan kecimol, namun tidak ada proses nyongkolan itu. Seluruh prosesi pernikahan digelar di dalam kampung. Hiburan diam di tempat. Kadang juga tidak ada hiburan sama sekali. Seperti pada pernikahan Selasa pekan lalu itu, tak ada hiburan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Setelah ngalu kawin selesai, biasanya siang hari, sebelum zuhur, seluruh tamu yang hadir menyantap hidangan. Para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat duduk di satu berugak khusus. Sementara para pengantin yang melangsungkan acara hari itu, kumpul di berugak lain.

Setelah para tokoh itu selesai menyantap hidangan makan siang, pasangan pengantin pergi menyalami mereka. Tokoh-tokoh ini berasal dari dusun-dusun yang menjadi satu rumpun masyarakat adat Gumantar. Semua unsur tokoh adat seperti mangku, turun,penghulu, raden, dan pemekel hadir di tempat itu. Para pengantin akan mengitari berugak tempat mereka duduk. Menyalami satu persatu.

“Kalau ada hari itu salah satu tokoh tidak hadir, maka pasangan pengantin itu harus mencarinya ke rumah untuk salaman,’’ kata Sumarsam.

********************
Pada pernikahan lainnya, tahun sebelumnya, Jumatrah tidak bisa menahan senyumnya saat prosesi ngalu kawin digelar. Dia merasa risih dengan prosesi pembuktian kesetiaan istri itu. Duduk di atas berugak, sementara perempuan di bawahnya duduk membasuh kakinya. Lalu si perempuan itu mencuci muka dengan air itu. Terakhir harus meminum air itu. Perempuan itu juga sempat berujar, kaki Jumatrah bau. Puluhan warga, sebagian besar anak-anak yang menonton tertawa dengan celetukan mempelai wanita itu.

Wajar saja Jumatrah meras risih dengan prosesi sakral itu. Begitu juga dengan perempuan itu, dengan santainya mengolok kalau kaki lelaki itu bau. Mempelai perempuan dalam prosesi itu rupanya bukan istri Jumatrah.

Istrinya Jumatrah, Ana Sahroni, baru saja melahirkan. Dalam kondisi belum selesai masa nifasnya, sang istri terlalu lemah untuk ikut prosesi itu. Sebagai gantinya, kerabat istrinya yang harus menggantikan.

“Ya memang seperti itu. Ketika ada halangan yang tidak bisa ditolak, kerabat mempelai perempuan yang mengganti,’’ kata Kepala Dusun (Kadus) Tangga, Lujihartono.

Dalam prosesi itu, ada tiga mempelai wanita yang berhalangan karena baru saja melahirkan. Selain Ana Sahroni, Mariani istri Aftudin pun tidak bisa ikut prosesi itu. Seniwati, istri Saturdin juga berwakil ke kerabatnya yang lain. Walaupun berwakil, prosesi ngalu kawin itu tetap sah dan sakral.

“Intinya kan mempertemukan dua keluarga besar,’’ kata Luji.

Para pengantin ini juga sebenarnya bukan pengantin baru. pada pernikahan adat tiga tahun sebelumnya, ada pasangan Midrasah dan istrinya Remenip. Ketika menikah mereka sudah memiliki dua orang anak. Namun, mereka pernah cerai hingga 1 tahun. Karena masa iddah istrinya sudah lewat, Midrasah dan Remenip pun kembali melangsungkan akad nikah.

Pasangan lainnya, Resudip dan Murinem sudah setahun lebih menikah. Adiar dan Adiani sudah memiliki satu orang anak. Jumatrah dan Ana Sahroni, Aftudin dan Mariani, Satudrin dan Seniwati baru saja dikarunia momongan. Sementara itu Mus dan Andriani bukan lagi pengantin baru.

Pesta pernikahan di masyarakat adat Gumantar memang tidak harus digelar langsung begitu selesai akad nikah. Pesta digelar ketika mempelai sudah memiliki tabungan untuk pesta. Kapan saja mereka siap untuk memenuhi seluruh syarat pesta adat dan tentu saja modal untuk menjamu para tamu.

“Itulah juga kenapa disebut gawe beleq (pesta besar) karena pestanya besar-besaran. Selain pesta pernikahan beberapa orang, ada juga sunatan,’’ kata tokoh pemuda dari Gumantar, Jumayar.

Dulu, pesta seperti ini menghabiskan puluhan juta rupiah. Ditanggung oleh pasangan pengantin. Banyak yang tidak mampu, dan kadang setelah mereka tua baru melangsungkan pesta. Masyarakat pun membuat kesepakatan, pesta pernikahan bisa digabung berkelompok. Selain itui pesta-pesta yang lain bisa ikut di pesta ini. Misalnya saja pesta sunatan dan memotong gigi.

***********

Kampung Berubah, Tradisi Bertahan

TANGGA adalah salah satu bekas perkampungan tradisional di Lombok Utara. Seiring perkembangan zaman, perkampungan itu mulai berubah. Menghidupkan kembali acara-acara adat, diyakini sebagai salah satu cara meneruskan warisan para leluhur.

Sisa-sisa perkampungan tradisional itu masih terlihat. Sebagian rumah masih mempertahankan bentuk aslinya. Dinding bedek, atap ilalang, lantai tanah, dan tanpa listrik. Namun lambat laun rumah tradisional itu berubah. Bermunculan rumah-rumah permanen dengan berbagai perlengkapan modernnya.

Kontak warga Tangga dengan masyarakat luar, ada yang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia membawa perubahan. Ketika mereka memiliki cukup uang, bangunan tradisional tidak lagi menarik bagi mereka. Perlahan warga mengubah rumah mereka menjadi permanen. Masjid mulai dibangun permanen. Kini sebagian besar rumah di dusun yang berada di bawah kaki pegunungan itu sudah permanen.

“Sekarang listrik menjadi kebutuhan utama, mau tidak mau harus kami ikuti perubahan itu,’’ kata mantan Kepala Dusun (Kadus) Tangga ini.

Menurut Sumarsam, perubahan fisik permukiman Tangga tidak bisa ditolak. Bahkan Sumarsam sebagai salah satu tokoh yang mendukung. Dia misalnya mendukung warga yang membangun rumah menggunakan atap genteng. Begitu juga ketika pembangunan masjid permanen, Sumarsam yang saat itu menjadi Kadus memberikan dukungan. Bagi Sumarsam, perubahan fisik perkampungan tidak bisa terelakkan, namun yang perlu dijaga adalah nilai-nilainya.

“Boleh berubah modern, tapi tradisi harus tetap dijaga. Syariat harus dijalankan, adat harus dipertahankan,’’ ujarnya.

Ritual-ritual adat di Tangga memang masih dipertahankan hingga kini. Dusun yang satu desa adat dengan Gumantar ini tetap berpartisipasi dalam setiap ritual adat. Cara itu, kata Sumarsam untuk mengikat hubungan keakraban antar masyarakat adat. Dalam setiap acara adat, selalu melibatkan seluruh masyarakat. Hingga kini, Sumarsam masih berbangga, warganya masih mempertahankan nilai-nilai warisan leluhur itu.

“Sebagai penganut Islam, kami juga tetap menjalankan syariat,’’ katanya menegaskan bahwa antara adat dan Islam saling menguatkan.

Dalam acara pernikahan adat di Tangga itu misalnya. Seluruh proses pernikahan adalah ritual adat, namun ketika akad nikah itu adalah proses agama. Menyatukan dua manusia dalam ikatan perkawinan. Baru dianggap sah ketika sudah dilakukan secara syariat

“Menyorong menangggap, dan begawenya itu adalah tradisi adat,’’ katanya

************

Tradisi Merawat Semangat Gotong Royong

BEGAWE BELEQ merupakan salah satu ritual yang menyatukan seluruh warga masyarakat adat Gumantar. Dalam gawe beleq tersebut, selain pesta utama pernikahan, diikutkan juga pesta lainnya. Misalnya khitanan, atau memotong gigi. Seluruh warga yang memiliki hajatan menyumbang untuk kepentingan pesta.

Di pusat desa adat Gumantar, di Dusun Desa Beleq menjadi pusat setiap kegiatan gawe beleq. Pada sebuah gawe beleq di Gumantar, pasangan pengantin dan warga lain yang memiliki hajatan mampu mengumpulkan 30 ekor kambing dan 16 ekor sapi. Ayam, jangan lagi ditanya banyaknya. Bisa mencapai seratus lebih.

Sementara pesta pernikahan, sunatan berlangsung, di bagian lain kampung tersebut dikumpulkan seluruh hewan ternak.Dari salah satu rumah muncul pria berpakaian putih-putih. Baju lengan panjang putih, sarung panjang putih, sapu’ (pengikat kepala) putih. Memegang pisau besar.Penghulu, tokoh adat yang mengurus bagian ritual-ritual keagamaan, menjadi juru sembelih kambing itu.

Di sudut lain, 16 ekor sapi juga dieksekusi oleh pria berpakaian putih. Dia salah seorang kiyai di perkampungan tradisional itu. Sapi satu persatu tumbang. Ratusan anak-anak menyaksikan proses penyembelihan itu.

Puluhan karung berisi ayam juga dikeluarkan dari salah satu sudut berugak. Kurang lebih 300 ekor jumlah ayam itu. Penyembelih ayam itu juga pria berpakaian putih.

Dalam gawe beleq, seluruh warga yang ada di dalam komunitas masyarakat adat Gumantar, yang akan menggelar pesta pernikahan dan khitananan (sunatan) menggelar secara serentak. Bergabunglah 10 pasang pengantin, dan 19 orang anak yang dikhitan pada gawe beleq tahun 2012 itu. Tahun 2012 adalah gawe beleq terbesar yang pernah diselenggarakan di Gumantar.

Gabungan pesta 10 pasang pengantin dan 19 anak yang dikhitan menjadikan gawe beleq menjadi pesta terbesar. Seluruh keluarga 10 pasang pengantin dan 19 anak yang dikhitan itu berkumpul membentuk satu kepanitiaan. Desa Beleq Gumantar menjadi pusat pesta itu.

Lantaran acara tersebut kolektif, para pemilik hajat mengundang kerabat masing-masing. Tentu saja tamu yang hadir sangat banyak. Tapi selama ini belum pernah ada cerita para tamu terlantar di lokasi acara. Bahkan setiap orang yang kebetulan singgah pun dianggap sebagai tamu.

Biasanya para tamu undangan mengenakan pakaian tradisional sederhana, sarung panjang dan sapu’. Tapi belakangan anak-anak muda mulai mengenakan pakaian bebas. Tapi biasanya sapu’ tidak pernah lepas dari kepala mereka.

Tamu khusus disambut khusus. Biasanya para pejabat, tokoh-tokoh masyarakat yang cukup dikenal diundang secara khusus di gawe beleq itu.Tapi untuk tempat duduk dan menu makanan mereka tidak ada perbedaan dengan tamu lainnya. Seluruh tamu membaur jadi satu. Perbedaan terlihat hanya saat penyambutan. Sebagai bentuk penghormatan pada tamu khusus itu.

Saat baru tiba, para tamu disuguhkan aneka kue dan kopi. Itu sebagai makanan pembuka sambil menyiapkan makanan ‘’besar’’. Selang 10-15 menit, salah seorang warga yang menemani tamu ngobrol memberikan kode saatnya tamu makan besar. Tidak berselang lama, iring-iringan nasi dan lauk tiba di tempat tamu duduk. Lauk yang dihididangkan hanya satu : daging.

Tidak tanggung-tanggung jumlah porsi daging yang dihidangkan. Minimal satu piring penuh untuk satu orang tamu. Kadang bisa dua piring, sampai tiga piring. Bukannya boros, tapi daging itu sengaja diberikan banyak sebagai oleh-oleh. Sebelum selesai makan, para tamu diberikan kantong plastik.

‘’Sebagai berkat (oleh-oleh) pulang,’’ kata Jumayar, pemuda Gumantar yang kerap menjadi panitia gawe beleq.

Penulis melihat ratusan tamu datang dalam sejam. Mereka menempati berugak di depan rumah. Masyarakat adat Gumantar tidak menerima tamu di dalam rumah. Tradisi mereka menerima tamu di berugak.

Dengan jumlah tamu yang mencapai ratusan itu, para panitia gawe beleq tidak khawatir tamu mereka tidak terlayani dengan baik. Masing-masing kelompok tamu ditemani oleh panitia. Nanti panitia inilah yang melapor ke bagian logistik. Apakah tamu sudah mencicipi makanan pembuka, makan besar dan membawa berkat daging itu.

Para tamu yang datang juga tidak seluruhnya dikenal panitia. Maklum saja, tamu yang hadir dalam tamu 10 pasang pengantin. Tapi pada umumnya tamu yang diundang pada gawe beleq adalah para kerabat, dan para tetangga di kampung. Itulah yang membuat jumlah tamu bisa mencapai 1.000 lebih. Sebanding dengan ternak yang disembelih, 16 ekor sapi, 30 ekor kambing dan 300 ekor ayam. Tidak pernah kurang, tidak pernah terlalu berlebihan. Sebab seluruh makanan itu dibagi rata pada seluruh tamu.

Pengaturan penerima tamu, juru masak, dan perangkat gawe beleq lainnya sudah diatur sejak awal. Masyarakat sudah terbiasa bekerja dengan manajemen yang baik, sehingga tidak ada tumpang tindih pekerjaan. Dengan tamu yang mencapai ratusan, panitia tidak kelabakan.
Kegiatan gawe beleq ini juga menjadi pengabdian bagi para pengantin yang menjadi peserta pada tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya mereka lah yang membuat sibuk warga, pada tahun berikutnya mereka lah yang menjadi panitia gawe beleq. Tradisi saling membantu ini masih mengakar kuat di masyarakat adat Gumantar.

‘’Tahun lalu saya yang bikin sibuk semua orang, sekarang saya membalas jasa,’’ tutur Jumayar yang melangsungkan pesta pernikahan pada gawe beleq tahun 2011.

Gawe beleq ditutup pada hari ketiga. Dalam acara tersebut, seluruh pasangan pengantin duduk di pelaminan sederhana. Mereka disaksikan seluruh tamu undangan. Diberikan nasehat perkawinan. Ditutup dengan acara makan bersama. (besiru)

Sejarah Migrasi Orang-Orang di Kaki Rinjani
Previous post

Menggadai Sawah Memburu Ringgit : Sejarah Migrasi Orang-Orang di Kaki Rinjani

Sanggar Kariro, Pelestari Kesenian Gantao
Next post

Sanggar Kariro, Pelestari Kesenian Gantao

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *