BeritaHumanioraTeaser

Karena Tangan di Atas Lebih Baik  

 

“karena memberi itu tak pernah rugi. karena memberi tak harus menunggu jadi kaya”

 

*******

Saya menemani kawan dari Malaysia dan sahabat dari komunitas berbagi ke MI Darul Islam Montong Ajan, Lombok Tengah. Sebenarnya saya ingin menghabiskan hari dengan tiduran, nonton, baca novel. Dua minggu ini nyaris tak menikmati waktu luang. Setiap hari menonton TV, mendengar radio, membaca artikel. Kantor kami, KPID NTB sedang menghelat kegiatan bernama KPID Award. Memberikan penghargaan atas karya-karya teman lembaga penyiaran. Ketika menyaksikan acara yang sangat bagus, baik secara ide dan visual rasanya menyenangkan. sayangnya, tak semua karya seperti itu. Dunia penyiaran adalah dunia bisnis juga. Kadang acara yang mampu menyejukkan hati, menggerakkan semangat dan indah secara visual tak berbanding lurus dengan pendapatan. di tingkat nasional juga sama, tak semua tayangan “yang sehat” itu sehat secara pendapatan. Kasus NET TV menjadi salah satu contoh.

Saya keluar cukup pagi, dengan hajatan sambil menikmati pemadangan selama perjalanan. Singgah di sebuah warung kaki lima di Sekotong. Warung hari itu dipenuhi emak-emak yang berbelanja di pasar. Tumben tak banyak gosip dibicarakan. Hanya satu pujian dari salah satu pembeli, kalau putri si penjual cantik. Biasanya warung itu penuh dengan gosip, kadang di warung seperti itu saya mendapat ide-ide tulisan. praktik ini sering saya lakukan ketika menjadi kepala biro di Lombok Utara. Pagi nongkrong di warung terminal Tanjung (terminal itu sekarang sudah berubah menjadi bank NTB). Obrolan dari buruh dan sopir selalu menyegarkan. Lucu dan kadang banyak porno. Membicarakan kebijakan pemerintah semaunya, kadang banyak yang keliru. Penuh asap rokok dan kopi yang selalu dipesan, tak cukup segelas. Pemilik warung kadang menginformasikan kepada saya – jika telat nongkrong – bahwa tadi ada sopir pick up dari Bayan menceritakan ada kasus A, dan si pemilik warung tahu itu memiliki berita. Lain waktu, seorang sopir mendapat kabar dari sopir pemerintah bahwa sore harinya saat akan sidang DPRD para Satpol PP akan demo. Mendemo DPRD yang mengkritik mereka karena hanya “jual tampang”.

 

*******

Di berugak MI Darul Islah saya ngopi dan ngobrol dengan Ayubi, kepala madrasah. Ketika kali pertama ke madrasah ini belum ada berugak ini. Setelah saya tulis kisahnya dan cukup heboh, ada pengawas yang datang ke sekolah.  Berugak diangkut dari rumah Ayubi, dipasangi poster data-data madrasah. Berugak ini menjadi ruang guru.

Banyak relawan yang sudah datang ke madrasah ini. Saya membuka buku tamu, yang dibuat ketika kali pertama saya datang. Sudah ada beberapa nama yang datang. Membawa bantuan atau sekadar survey. Ada juga beberapa kawan yang pernah datang tak sempat menulis buku tamu. Mungkin juga mereka tak ingin ditahu memberikan bantuan. Salah satu kawan saya – saya tahu dia orang cukup berada – pernah juga datang ke tempat ini. Dengan suara putus karena sinyal kurang (seingat saya, saya sedang kencing di pinggir pantai yang sepi) dia menelpon sedang menuju lokasi membawa bantuan untuk anak sekolah, termasuk untuk warga yang kekeringan.

Kawan saya dari Malaysia dan Lombok Timur hari ini datang membawa bantuan alat-alat sekolah dan beras. Ya beras. Dia sudah meniatkan akan memberikan sedekah ke para orang tua siswa. Beras dipilih karena kebutuhan pokok. Satu orang wali murid mendapat 5 kg beras. Beras yang dibeli di kios. Sudah terbungkus per 5 kg. Kualitas bagus.  Para siswa dan orang tua mereka berbahagia. Dapat bantuan lagi. Semua bernyayi, orang tua, bahkan nenek-nenek yang datang menonton ikut tepuk tangan. Hari ini memang libur sekolah, tapi sudah kita hajatkan acara maulidan. Makan bersama di sekolah.

Semua barang dibagi. Makan siang dengan ikan bakar segar, sambel yang kelebihan cabe, dan sayur bening. Sangat nikmat.

*****

Selesai makan ngopi lagi. Kawan-kawan relawan tampak akrab dengan anakanak dan orang tua mereka. Sesama emak-emak memang selalu nyambung. Saya mendiskusikan langkah kedepan untuk madrasah ini : (1) Madrasah harus membuat akta supaya jangan lagi menjadi “filial”. Jika kelak ada bantuan dari pemerintah pihak madrasah bisa langsung menerima. Ujian, jika kurang persyaratan, masih bisa ikut ke sekolah induk terdekat. (2) Rencana perbaikan sekolah. Beberapa donasi yang masuk masih dikumpulkan agar cukup untuk menata sekolah. Rencananya mau membeli lahan sekitar 2 are biar lebih luas. Pemilik tanah mau melepas dengan harga sekitar Rp 2 jutaan untuk 1 are. Perbaikan kedua adalah membuat bangunan ruang kelas lebih layak, termasuk membuat satu ruang lagi untuk ruang guru yang sekaligus menjadi perpustakaan. (3) Menghijaukan sekitar sekolah, jika perlu bukit-bukit yang tandus. Para guru dan masyarakat yang hadir mengangguk-angguk ketika saya menceritakan di daerah lain yang kering, dan ketika pohon rimbun air tidak lagi sulit. Setidaknya jika menggali sumur tidak perlu terlalu dalam. (4) Rencana mau membuat kamar mandi di sekolah, bak penampungan, dan sumur bor. Karena sumur bor mahal, kawan relawan itu perlu menghitung dulu. Tidak menjanjikan dalam waktu cepat. Untuk penghijauan sepakat jika tanaman buah-buahan seperti nangka dan mangga. Saya cukup lega ketika warga mau menghijaukan bukit tandus. Tapi tak bisa cepat, karena untuk bibit buah memang lebih sulit dan kalaupun membeli lebih mahal. Berbeda dengan bibit tanaman non buah bisa meminta di kantor pemerintah atau di relawan. (5) Saya menyarankan guru yang belum S1 agar S1. 8 orang guru di sekolah ini, 4 orang sudah sarjana. 4 orang masih lulusan SMA. Mereka yang menginisiasi pendirian madrasah agar putra putri mereka bisa bersekolah.

Di dalam kelas emak-emak ngobrol, sepertinya serius. Saya kemudian terhentak ketika mendengar dengan sayup : kita mau menyumbang.

Ibu-ibu orang tua siswa yang sudah diberikan beras oleh relawan hari itu memutuskan beras itu akan mereka sumbangkan ke sekolah. Beras itu dipakai untuk membantu para guru membangun sekolah. Beras itu bisa jadi konsumsi saat kerja bakti dan bisa juga dijual kembali. Uangnya bisa dipakai untuk menambah membeli bahan perbaikan sekolah. Ibu guru meneteskan air mata…….

Para orang tua siswa yang hidup dalam kemiskinan tak bisa membantu banyak untuk membangun sekolah. Kalau pun ada yang punya rumah cukup bagus, itu diperoleh dari bertahun-tahun menjadi kuli di Malaysia. Selebihnya menjadi petani tadah hujan. Hanya mampu mengolah tanah selama 6 bulan. Sisanya dibiarkan menganggur karena tidak ada air. Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh. Air sumur mereka juga teralu sedikit airnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi saja susah. Apalagi jika dipakai untuk mengairi tanaman.

Hari itu mereka mendapatkan rezeki. Beras 5 kg, yang jika dijual harganya Rp 50.000. Dengan beras itulah mereka menyumbang. Beras itu untuk membangun sekolah, tempat putra putri mereka sekolah.

Relawan yang memberikan bantuan juga terharu.  Niatannya untuk membantu orang tua siswa sudah terpenuhi. Beras sudah diterima. Menjadi milik para perempuan petani miskin itu. Beras itu bukan lagi miliknya, dan ketika beras itu disumbangkan kembali oleh para perempuan itu, maka itu adalah sumbangan mereka, sedekah mereka ke sekolah.

Para orang tua tak ingin membuat relawan yang menyumbang tersinggung. Misalnya, tak mengatakan bantuan yang akan diberikan kepada mereka diberikan saja langsung ke sekolah. Mereka tak ingin melakukan seperti itu. Terdengar sombong juga. Mereka juga sudah senang anak-anak mereka diberikan fasilitas yang lebih bagus. Sepatu. Tas. Buku tulis. Buku gambar.Crayon. Bagi mereka itu cukup.

Maka ketika beras itu sudah menjadi milik mereka, mereka juga ingin berbuat untuk sekolah. Hanya beras itu milik mereka yang bisa diberikan ke sekolah. Sudah menjadi hak mereka. Beras itu akan dicatat sebagai sumbangan mereka ke sekolah.

 

****

Lemari di sekolah juga bertambah. Ada lemari kayu. Sudah reot. Lemari itu diangkut dari rumah Ayubi, kepala madrasah. Lemari itu miliknya yang dibeli ketika masih bujang. Sekarang anak tertuanya masuk kelas 1 aliyah. Bagi Ayubi, lemari itu masih layak. Dia senang bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sekolah. Dia cukup senang. Dia merasa bahagia bisa memberikan bantuan ke sekolah (gaji guru sekolah ini dari dana BOS bantuan pemerintah pusat Rp 350.000 per enam bulan).

Bagi Ayubi memberi itu lebih bagus ketimbang hanya menerima. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Karena itulah para ibu-ibu,orang tua siswa-siswinya, memberikan beras itu adalah bagian dari “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”.

 

Previous post

Inspirasi dari Sanggar Belajar Alam Daur

Next post

Sejarah Singkat Asosiasi Pokdarwis Lombok Timur

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *