InspirasiTeaser

Jelajah Literasi ke Pedalaman Sumbawa

Setelah melewati perjalanan 9 jam, kami sampai jua di Dusun Tangkam Pulit Desa Tangkam Pulit, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa. Dari Desa Tepal yang melegenda di Sumbawa, waktu yang kami habiskan di perjalanan sekitar 4 jam. Sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi karena medan yang luar biasa ekstrem nya, perjalanan terasa lebih panjang. Melewati empat sungai. Sopir cemas jika air sungai meluap. Karena itulah sejak awal diingatkan siap-siap saja jika menginap di tengah perjalanan.

Badan basah kuyup karena diguyur hujan. Walaupun di atas mobil dikasi terpal, tapi lebih banyak turun karena medan yang berbahaya. Basah kuyup. Yang penting semua buku selamat.

 

****

Lelah perjalanan terbayar dengan sambutan hangat warga. Semua orang yang kami temui selalu senyum dan mengajak singgah di rumahnya. Kawan saya Mahniwati Ony yang mencoba mampir di salah satu rumah warga. Begitu sampai di rumah itu, dia langsung diminta ke bagian dapur. Makan dan ngopi. Tidak enak menolak. Walaupun beberapa menit sebelumnya baru saja selesai makan dan ngopi di rumah pak kepala madrasah. Hanya undangan pesta (lebih tepatnya syukuran) pernikahan salah satu warga yang saya datangi. Makan besar. Kawan dari Samawa Mengabdi bilang jika acara pesta seperti yang kami hadiri itu adalah tradisi leluhur Tau Samawa. Tapi sayang sudah sangat sedikit yang meneruskan. Kawan relawan dari Ciamis Jawa Barat berseloroh, jika jalan ke Tangkam Pulit sudah mulus dia mau menikah ke desa ini. Betapa sederhana dan penuh keakraban pesta pernikahan itu. Dan yang utama : sebagian bahan makanan yang disajikan itu sumbangan dari warga. Mahar pengantin pun sangat murah. Warga di kampung ini masih menjaga tradisi para leluhur. Saya merasa beruntung bisa menikmati tradisi ini.

Kami berangkat ke sekolah. Dengan sepatu basah. Sepatu yang terlalu berlumpur terpaksa ditinggalkan. Kami meminta maaf jika terpaksa memakai sandal dan baju kaos. Sebagian baju sudah basah di perjalanan. Kami utarakan ini karena siswa siswi memakai seragam lengkap. Padahal sekolah sudah libur.

Buku-buku kami turunkan. Kami buka. Awalnya anak-anak malu. Setelah kami kasi tahu buku itu untuk mereka, mereka berebut. Mereka berhamburan. Mencari tempat membaca. Di bawah pohon kelapa. Duduk di rumput yang hijau. Sebagian di berugak.

relawan berjalan ke sekolah melewati jalanan yang becek

Anak-anak usia SD membolak-balikan buku, mencari yang menarik. Melihat sampul. Melihat gambar. Seorang anak laki-laki mengambil buku Hijab Stories. Dia senang gambarnya. Membaca keras-keras. Lalu dia sadar buku itu lebih tepat dibaca oleh perempuan. Ibu guru juga tidak mau kalah. Mencari buku cerita. Membolak balik beberapa buku. Sepertinya ingin mencari buku resep memasak.. Hehehehe.

Kami mengajak bermain. Semua senang. Para relawan Samawa Mengabdi berasal dari beragam profesi. Ada juga mahasiswa. Bahkan salah satu relawan, seorang pemuda yang sehari-hari praktik bekam. Anak muda ini semakin mengakrabkan kami dengan warga. Imam masjid dan beberapa warga meminta bekam. Suasana menjadi lebih cair.

Itu terlihat ketika malam hari. Saat nonton bareng film Serdadu Kumbang. Tua. Muda. Tokoh masyarakat. Pemuda. Anak-anak. Remaja. Diumumkan di masjid. Warga yang haus hiburan berebut tempat duduk. Sampai duduk di atas teras rumah. Demi menyaksikan film. Termasuk sajian kemampuan anak-anak berbahasa Arab dan Inggris. Menghafal ayat-ayat Al-Quran. Tepuk tangan tak henti setiap kata-kata asing itu terdengar. Perangkat desa yang memberikan testimoni akhirnya tahu arti beberapa bahasa Arab itu. Dia kira semua yang berbahasa Arab itu doa. Malam yang dingin hangat berkat sambutan yang hangat.

 

****

 

sekolah sederhana tapi bersih

MTs Al Ukhuwah ini didirikan pada tahun 2016. Para orang tua rapat. Melanjutkan SMP yang satu atap ada di dusun sebelah. Masih satu desa. Tapi jalan yang hancur. Melewati bukit. Menyeberangi sungai. Sangat berat jika dilakoni setiap hari. Mau menyekolahkan ke Sumbawa Besar, terlalu kecil usia mereka. Biaya juga tidak sedikit. Tapi jika mau SMA memang harus keluar kampung. Sudah fasih mengendari motor melewati jalan yang bikin pegal seluruh persendian badan saya.

Disepakati membangun madrasah tsanawiyah. Biar anak-anak belajar agama. Warga yang sudah sarjana dan pulang kampung diminta menjadi guru. Ikut mendidik anak-anak desa. Tiga tahun berdiri semua guru tak digaji. Malahan kadang keluar uang. Hasil panen kopi disumbangkan untuk memperbaiki sekolah. Baru tahun ini dapat dana BOS. Masing-masing dapat Rp 350.000 untuk penghargaan mengajar selama enam bulan.

Kopi adalah hidup warga Tangkam Pulit. Seluruh perbukitan ditanami kopi dengan pohon pelindung kemiri. Di tempat yang agak datar dan dekat kampung ditanami padi. Sebagai cadangan pangan. Disimpan di dalam rumah. Cukup untuk konsumsi keluarga. Jika kurang, membeli beras dan gabah pada musim kemarau ke kota. Disimpan untuk menggenapi jatah setahun. Sungguh mahal ongkos ke desa, Rp 4.000.000. Sebuah jeep tua. Hanya mau berangkat jika sudah cukup segitu. Untuk ongkos antar jemput. Naik motor juga berat. Tak bisa membawa banyak barang. Musim kemarau bisa sedikit lebih baik. Perjalanan sedikit lebih mulus.

Jagung pernah ditawarkan. Gratis bibit. Beberapa petani menolak. Para tokoh masyarakat khawatir. Jika terlalu banyak jagung rusaklah tanah mereka. Hasil kopi juga lebih bagus dari jagung. Lalu saya menuturkan kampung kampung yang setiap tahun merana. Tenggelam oleh air dan lumpur. Akibat hutan dan bukit berubah jadi ladang jagung. Menanam berlebihan. Seorang relawan, putra mantan camat bertutur, dia pernah mengungsi akibat banjir. Jalan putus. Gunung gunung berubah jadi ladang jagung. Warga mengangguk angguk. Mungkin semakin yakin untuk tidak menanam jagung. Mungkin hanya akan menanam di pekarangan rumah. Sekedar konsumsi keluarga.

Kopi adalah hidup warga Tangkam Pulit. Berkat kopi mereka bisa menguliahkan putra putri mereka. Ada yang sedang S2. Kehadiran kami, orang-orang yang tinggal di kota semakin meyakinkan mereka. Sampai diumumkan segala. Di tengah tengah forum nonton bareng. Bahwa orang-orang kota yang hadir di kampung mereka ini adalah kaum terdidik. Putra putri mereka bisa seperti kami. Bisa mengikuti kami. Tinggal di kota. Bekerja di kantor. Menjadi dosen. Pegawai. Tidak semata menjadi petani.

Dalam hati kami merasa iri dengan mereka. Hidup bersahaja di desa. Tapi kami juga merasa terhormat menjadi contoh bagi anak-anak mereka. Bahwa pendidikan bisa mengubah nasib orang. Bapak kepala madrasah yang juga tokoh masyarakat banyak mengutip hadits dan ayat ayat Al-Quran. Yang kesimpulannya tentang pentingnya pendidikan. Pendidikan agama dan pendidikan umum.

 

***

bermain bersama di halaman sekolah

Apa yang kami lakukan ini sangat kecil. Perjuangan para guru yang tak digaji. Perjuangan para petani membangun sekolah. Perjuangan warga bekerja di ladang demi pendidikan putra putri mereka jauh lebih besar dari apa yang kami lakukan.

Semangat para kawan Samawa Mengabdi ini juga menjadi angin segar. Saat ruang publik di Sumbawa dipenuhi spanduk, baliho, poster orang-orang yang berminat menjadi bupati. Berbagai slogan. Berbahasa Indonesia dan Sumbawa. Slogan itu adalah janji-janji kampanye.

Samawa Mengabdi menjadi pelepas dahaga. Saat ruang publik haus oleh wacana wacana non politik. Membahas pendidikan. Membahas lingkungan. Mereka juga bergerak. Berbuat. Walaupun mungkin sangat kecil.

Bukankah segelas air itu lebih bermakna jika diberikan kepada orang haus? Ketimbang menjanjikan seember air kepada mereka.

Saya berharap kelak anak-anak muda Sumbawa ini menjadi pemimpin di tempat masing-masing. Menjadi pemimpin Sumbawa. Dan saya akan mengingatkan mereka. Perjuangan yang mereka lakukan hari ini. Bahwa hal-hal kecil itu begitu bermakna.

 

Previous post

Jasa Lingkungan,  Partisipasi Publik Menjaga Lingkungan (2)

Next post

Pemuda Peduli Belajar dari Orang Desa

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply