BeritaLeisureTeaser

Kenapa Pariwisata Bima Harus Membangun Patung ?

 

Badai NTB (Rahel)

Mahasiswa/Aktivis Perempuan Bima

 

Saya akan buka tulisan ini dengan kalimat special untuk Bupati Bima IDP. “Bupati, memimpin itu tidak enak, di bahumu nasib rakyat se kabupaten Bima dipikul, setiap langkahmu tidak akan bisu dari pro dan kontra, tapi meski tidak nyaman dan tidak enak kamu harus tetap konsisten terhadap misi pembangunan yang menjadi jargonmu”.

Sejujurnya mulai dari viralnya pembangunan beberapa patung di wilayah pariwisata yang ada di Wane saya tidak ingin menuliskan narasi tanggapan. Sebab selain saya juga sedang sibuk merindukan si Ani, juga saya ingin fokus ke beberapa masalah yang lebih krusial saja. Tapi, mengingat dari kemarin Facebook ramai dari tanggapan pro dan kontra terhadap adanya patung-patung itu, akhirnya mau tidak mau narasi ini harus saya tuliskan. Barangkali bisa kita jadi bahan diskusi bersama.

Yang pro, mengatakan bahwa Wane adalah wilayah pariwisata.Jadi, sebagai kabupaten yang sedang gencar melakukan pembangunan. Maka patung itu sebenarnya bukanlah masalah besar, semasih tidak dipuja dan disembah oleh masyarakat Bima.

Dan yang kontra mengatakan bahwa ada upaya Hindunisasi dan Budhanisasi yang ingin dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dan sebagai daerah yang mayoritas umat Islam maka urgensi dibangunnya patung-patung itu tidak ada, dan bahkan dapat menciptakan malapetaka semacam bencana besar akan datang jika patung dibiarkan tumbuh di Bima.

Nah sekarang saya akan mencoba memberikan tanggapan saya dari dua hal di atas. Pertama terkait ketakutan berlebihan kita terhadap patung-patung itu. Sehingga kita ribut dan bahkan bisa saling mengkafirkan satu sama lain hanya karena ketidaksamaan pemahaman terkait boleh tidaknya patung itu tumbuh di Bima. Yang perlu diketahui bahwa patung adalah karya seni. Yang bagi orang Islam patung hanyalah patung, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi bagi ummat lain patung adalah tempat mereka menyembah, dan representasi dari Tuhan mereka.

Masyarakat Kabupaten Bima adalah mayoritas Islam. Jadi argumen penolakan terhadap patung itu sebaiknya dikoreksi. Maksud saya koreksi agar lebih ilmiah sedikit. Misalnya, tentang urgensi tidaknya dibangun patung semacam itu di tempat pariwisata, jika untuk menambah daya tarik tempat pariwisata, maka kenapa tidak coba pakai konsep-konsep ala Bima. Misalnya bangunkan Uma Lengge atau seseorang yang sedang memakai rimpu atau yang lain. Yang bisa mencirikan ke-Bima-an.Sebab jika argumen yang kita pakai adalah ketakutan yang berlebihan terhadap patung itu sama saja kita menghianati syahadat yang setiap hari kita lantunkan. Kita meyakini “La ilaha illallah”. Allah tetap tidak takut tertandingi.Apalagi itu sekedar patung hasil karya seni manusia. Ibadah kita tetap tidak boleh terganggu. Shalat wajib tetap lima kali dalam sehari. Mencuri dan merampok tetaplah dilarang dalam agama. Tidak akan ada yang berubah.

Karena bagi saya karya seni seperti patung-patung itu dibuat sebagai rasa syukur terhadap keagungan dan ke Maha-Indahan Tuhan? Lalu dengan hasil karya itu, seseorang akan tersadarkan bahwa dirinya lemah tak berdaya dalam menciptakan suatu makhluk hidup. Patung adalah salah satu karya seni sebagai bentuk ekspresi jiwa manusia bahwa dirinya eksis di dunia. Tidak sedikit para seniman yang menemukan kedamaian dalam hasil karyanya, bahkan puncaknya merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Bahkan yang paling ekstrem, menurut saya, bukankah dalam memahami Tuhan, kita juga melukiskan Tuhan dalam benak pikiran kita setiap hari? Dalam beribadah misalnya. Atau hanya sebuah keyakinan tanpa sebuah gambaran tentang Tuhan, meski yang kita lukiskan itu bukanlah Tuhan. Karena Dia tidak seperti apa yang kita lukiskan.

 

patung yang dibangun di desa wisata Wane Kabupaten Bima

Nah maksud saya adalah, agar kita tidak terjebak oleh ketakutan yang berlebihan, maka sebaiknya kita mencoba membaca masalah ini lebih luas. Saya pribadi tidak mempermasalahkan adanya patung-patung itu, sebab saya setiap hari hidup di lingkungan patung-patung. Tapi sampai detik ini saya tidak pernah menyembah patung. Saya tetap menganggap bahwa patung dipinggir-pinggir jalan sebagai sebuah karya seni manusia yang sangat indah. Tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagai kabupaten yang sedang gencar melakukan pembangunan saya pikir kita harus terbuka akan hal-hal baru. Karena kita tidak akan maju jika kita terus bertahan dengan sikap primitif kita. Mindset kita harus kita rubah, bahwa kita juga harus terbuka terhadap budaya-budaya lain, karena untuk membangun Bima ini, tidak bisa kita lakukan sendiri. Kita butuh orang-orang yang kita anggap kafir itu untuk membantu kita. Untuk mau datang ke daerah kita, untuk mau mengenal bagaimana kearifan lokal kita, untuk mau datang investasi ke daerah kita, dll.

Terakhir, saya sampaikan kepada Bupati bahwa membangun memang tidak bisa instan, apalagi membangun sebuah daerah. Jadi butuh kecakapan ide dan keberanian tinggi untuk memutuskan suatu kebijakan. Untuk itu saya harap kepada Bupati, jangan berjalan sendiri. Gandenglah rakyatmu, libatkan rakyatmu ketika hendak mengambil keputusan, ajak mereka diskusi, dengarkan mereka, saya yakin Bima kedepan akan lebih baik.

Sekian, selamat pagi Ani ku sayang. Aku merindukanmu 

 

Previous post

Tuan Guru, Kami Akan Terus Kawal

Next post

tampah boleq (1)

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply