HumanioraTeaser

Pemuda Peduli Belajar dari Orang Desa

Beberapa waktu belakang ini timeline Facebook saya dipenuhi dengan poster mas Mendikbud Nadiem Makarim. Yang banyak dishare adalah ucapan tentang pendidikan itu tidak sekedar mencari ijazah. Di beberapa grup WA yang masih saya ikuti (saya mulai mengurangi grup WA) dibahas juga tentang pidato itu. Saya mencari beberapa berita untuk melengkapi diskusi di grup WA itu.

Salah satu masalah adalah : pendidikan kita jauh dari realitas. Apa yang dipelajari di bangku sekolah kadang tak menemukan solusi atas persoalan yang terjadi di masyarakat. Kadang dunia akademis sangat jauh dengan masalah di masyarakat. Dua tahun lalu saya menemani kawan yang sedang riset blue economy. Dia menggerutu ketika melihat cara panen dan penanganan pascapanen rumput laut yang masih ketinggalan jauh. Padahal ada cara sederhana. Spontan saya menjawab jika petani mungkin tidak tahu cara yang tepat. Karena orang orangĀ hebat, para pakar di kampus tak pernah turun melatih para petani rumput laut.

****

pemuda peduli saat jelajah desa

Usai mengikuti kegiatan KPID Jabar Award 2019 saya mengikuti kegiatan anak-anak muda Bandung yang tergabung dalam Pemuda Peduli (IG : pemudapeduli.id). Dari pada suntuk dengan kemacetan Bandung, saya ikut menepi di kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Di dalam perjalanan kami menjumpai beberapa sungai yang keruh. Saya menduga ada longsor di hulu. Benar saja, setelah satu jam perjalanan kami terjebak di jalan sempit, di tebing jurang yang longsor pada malam sebelumnya. Para petugas BPBD, Pemadam Kebakaran, dan masyarakat sekitar membersihkan lumpur dari jalan. Untung petugas sigap. Kami tiba dengan selamat di Cibolang. Melewati berhektare-hektare kebun teh milik PTPN VIII.

Cibolang ini mirip dengan daerah Tepal Sumbawa. Kampung dikelilingi perbukitan. Rumah warga dibangun di tanah yang tidak rata. Tanah yang sangat subur. Di pinggir kampung membentang pipa geothermal untuk pembangkit listrik. Karena potensi air panas ini, dibangun pula kompleks pemandian air panas. Daerah wisata pemandian air panas. Sekali lagi itu dikelola oleh negara. Saya tak membaca ada plang Pokdarwis. Saya juga tanyakan ke beberapa pemuda desa kampung setempat, tak ada Pokdarwis.

” Kami hanya numpang Kang. Semua ini milik PTPN. Rumah saja PTPN yang bangun ” kata seorang pria.

tanah subur dengan kebun teh, tapi masyarakatnya miskin

Selama dua malam (saya hanya ikut semalam) para Pemuda Peduli tinggal di rumah warga, tinggal di Rumah Baca. Mereka mengikuti aktivitas harian penduduk desa. Jika tuan rumahnya petani mereka harus ikut membantu ke sawah. Jika tuan rumah peternak mereka harus ikut memerah susu. Mereka juga melakukan Jelajah Desa. Merekam denyut nadi desa.

Jelajah Desa >> Mengamati >> Mencatat >> Refleksi.

Hal menarik dari diskusi adalah tentang kemiskinan di desa ini. Jika memakai standar perumahan sebagai salah satu indikator kemiskinan maka sebagian besar warga di sini masuk kategori miskin. Ada dua desa. Desa Banjarsari. Desa Wanasuka. Desa belakang ini “dibangun” oleh Perhutani. Dua desa bertetangga yang “dibangun” oleh dua perusahaan negara : PTPN dan Perhutani.

Dalam beberapa literatur tentang konflik agraria, masyarakat yang tinggal di kawasan PTPN maupun Perhutani sering konflik. Mereka hidup di dalam bayang-bayang kemiskinan. Tanah sekitar mereka sangat subur. Tapi mereka miskin. Alat produksi : tanah, bukanlah milik mereka. Mereka adalah para buruh yang dipekerjakan untuk membersihkan kebun, panen, dan bekerja di pabrik pengolahan.

Dari data adik-adik yang ikut Jelajah Desa, upah mereka sangat kecil. Jika dirata-ratakan, dalam sehari mereka mendapat Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Paling tinggi Rp 50 ribu. Beberapa buruh dan mantan buruh yang saya tanya juga bilang demikian, kisaran ratusan ribu pendapatan mereka per bulan. Di Cibolang dibangun pasar yang hanya beroperasi setelah para buruh gajian.

***

dua gadis cilik yang menjadi guide saya

Melalui Jelajah Desa, para pemuda yang masih berstatus mahasiswa/ada juga fresh graduate ini tahu kondisi mereka. Melalui metode Jelajah Desa mereka tahu bagaimana rantai minuman teh yang mereka nikmati di cafe maupun berbagai merek teh kemasan diproses di desa ini. Rantai panjang. Dan pada ujung rantai itu adalah kemiskinan.

Saya tidak mengikuti sampai tuntas kegiatan Pemuda Peduli karena harus cepat balik. Saya tidak tahu bagaimana proses refleksi akhir mereka. Tapi saya bisa menduga apa yang mereka dapatkan selama menginap dua malam itu akan membuka pikiran mereka. Bahwa dunia kampus yang membesarkan mereka itu kadang jauh dari realitas. Di bangku sekolah kita diajarkan berbagai teori. Mengambil contoh berbagai daerah. Berbagai negara. Tapi abai dengan kondisi sekitar.

Saya tidak tahu apakah anak-anak desa di kawasan PTPN dan Perhutani diajarkan tentang ketimpangan agraria. Apakah mereka diajarkan sejarah bagaimana kemudian para leluhur mereka tinggal di kampung itu. Hidup dalam kemiskinan di daerah yang subur. Kenapa misalnya orang tua mereka tak memiliki sejengkal lahan. Kenapa orang tua mereka tak bisa menanam sayur. Padahal sekeliling mereka tanah terbentang luas. Semuanya teh. Semuanya hutan kayu lebat.

pelita di tengah gelap dan kemiskinan

Jelajah Desa ini saya rasa salah satu metode belajar yang akan mendekatkan siswa dengan realitas di sekitar mereka. Tapi apakah bisa diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah, kampus, madrasah, pondok pesantren? Saya tidak tahu. Biarkan para ahli memikirkannya. Saya hanya merasa duduk manis di bangku sekolah/kuliah tak akan menyelesaikan masalah nyang terjadi di masyarakat.

Saya ingat candaan presiden Jokowi yang menyebut sarjana lulusan kampus pertanian justru sebagian besar jadi pegawai bank. Tak bisa kita salahkan para alumni itu, sebab kampus yang menjauhkan mereka dari realitas.

 

Previous post

Jelajah Literasi ke Pedalaman Sumbawa

Next post

Zimat Ilmu Kebal dalam Literatur Kuno Lombok

Fathul Rakhman

Fathul Rakhman

No Comment

Leave a reply