BeritaLeisureTeaser

Sejarah Berdirinya Bale Beleq Jerowaru

Hasan Gauk

Sekitar akhir abad ke 15 yang lalu seorang waliyullah bernama Pangeran Songopati yang berasal dari Cirebon (Tanak Jawe) datang ke Desa Jerowaru yang pada saat itu masih berbentuk hutan.

Tempat itu diberi nama Jelo Aru oleh Pangeran Songopati yang datang ke pulau Lombok seorang diri melalui Labuan Tereng (Lembar). Pada tahun itu pula Pangeran Songopati menetap dan mendirikan rumah yang diberi nama Bale Beleq yang pada saat itu merupakan satu-satunya rumah di tempat itu.

Menurut keterangan TGH. Muh. Nuh (Alm), dan Amaq Nurulan, rumah itu dibangun seorang diri oleh Pageran Songopati, sehingga pekerjaan pembangunannya mengalami berbagai hambatan. Konon setelah Pangeran Songopati membawakan tanah haram (Makkah), barulah pembangunan rumah tersebut berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun. Kemudian setelah Bale Beleq berdiri Pangeran Songopati mengundang (1) Datu Pene yang bernama surodjaya Supene (2) Datu Sekilat bernama Kyai Sekilat (3) Datu Pandan bernama Sigar Penyalin (4) Datu Batu Bawi bernama Sigar Penembing (5) Datu Kulon bernama Sudarman, dan terakhir (6) Datu Sermongkot atau Mesir Sorongan bernama Sukety untuk mengadakan musyawarah tentang rencana pembangunan Masjid Juluaru (Jerowaru). Dalam musyawarah tersebut disepakati untuk memulai pembangunan Masjid Juluaru yang bersamaan waktunya dengan pembanguanan Masjid Kopang, Masbagik, dan Rambitan.

Pengikut-pengikut Pangeran Songopati tersebar ke beberapa wilayah meliputi; Kopang, Teben, Sumbawa, Langko, Selaparang, Masbagik, dan Sembahulun. Bale Beleq tersebut didirikan dengan beratap Alang, bertiang kayu Galih Puntik dan bertiang kayu Galih Gonde serta berpagar bamboo dengan pagar halaman batu bata mentah.


Manfaat Bale Beleq pada saat itu adalah (1) Sebagai tempat pemondokan pada saat membanguan Masjid Juluaru. (2) Sebagai tempat penyebaran agama Islam. (3) Tempat pertemuan, atau musyawarah untuk penyebaran agama Islam. (4) Musyawarah Desa, dan terakhir (5) Tempat penyimpanan barang-barang peralatan perang.

Setelah empat puluh tahun Pangeran Songopati memelihara Bale Beleq kemudian Pangeran Songopati hilang diculik lantaran telah melukis istri Datu Parue. Lukisan itu dianggap terlalu berlebihan sebeb, lukisan itu sampai memperlihatkan kemaluan istri Datu Parue sehingga membuat Datu Parue tersinggung dan murka yang kemudian memerintahkan patih dan beberapa panglimanya untuk menculik Pangeran Songopati, dan semenjak saat itu ia menghilang.

Setelah kurang lebih enam puluh tahun lamanya Datu-datu tersebut memeliharanya, tepatnya pada tahun 1589 M, rumah peninggalan tersebut diserahkan ke para Gde (istilah sekarang Kepala Desa), dan pada waktu itu rumah peninggalan tersebut dipergunakan sebagai tempat Musyawarah para pengelensir, pasek-pasek, penoak-penoak Desa Jerowaru.

Pada tahun 1789 Desa Jerowaru dipegang oleh Datok Sidemen, rumah peninggalan tersebut dipergunakan sebagai tempat memandikan orang-orang yang akan dikirim menghadapi musuh yang ingin merusak Adat Game.

Keanehan Bale Beleq; (1) rumah tersebut selalu terhindari dari bencana kebakaran. (2) Tembok serambi bangunan terdiri dari kepalan-kepalan tanah yang bekasnya masih bisa disaksikan. (3) Bangunan rumah ini selalu miring; arah kemiringannya berubah-ubah menurut keadaan atau peristiwa seperti bencana alam, kekurangan pangan, menjangkitnya penyakit menular/wabah, keributan atau keamanan Desa, kekeringan, gagal panen. (4) Di tengah-tengah bangunan terdapat batu hitam, ukuran lebar 37cm, panjang 40cm yang disebut Batu Leleh. Batu tersebut tidak boleh dipindahkan atau diinjak, apabila dipindahkan atau diinjak akan terjadi kericuhan dan sakit yang amat sangat bagi yang menginjak.

Manfaat Bale Beleq saat ini; Bangunannya sendiri merupakan peninggalan sejarah yang sudah berumur ratusan tahun. (1) Sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusakan seperti; Tombak, Keris, Candekan, Gong, Kaling Gandek, Bunut Belingker, Jungkat, Kelewang, Pedang, Barang-barang pecah Belah seperti; Keramik, Gong, Alat Tenun, Bokor, Keben, Takepan, Bulu Putri Nyale.

Hasan Gauk, Pegiat Literasi dan Pemerhati Budaya. Sehari-hari dia menikmati rokok dan kopi pekat di gubuknya di daerah selatan Lombok Timur.

Previous post

TGB : Ahlaqul Karimah Modal Utama Mahasiswa

Next post

MEMBEDAH POTENSI KELAUTAN DAN PERIKANAN NTB

Mayung

Mayung

No Comment

Leave a reply